Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
- visibility 43
- print Cetak

Kepala BWS Maluku Utara, M. Saleh Talib, mengatakan bahwa fokus utama penanganan adalah keselamatan masyarakat serta pemulihan fungsi infrastruktur sumber daya air pasca banjir.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Beberapa sungai meluap, longsor terjadi di berbagai titik, rumah warga terendam banjir, hingga infrastruktur vital mengalami kerusakan.
Dampak terparah terjadi di Kecamatan Galela Utara, tepatnya di Kali Aru yang berada di perbatasan Desa Bobisingo dan Desa Dodowo. Oprik atau jembatan darurat penghubung antarwilayah putus sepanjang kurang lebih 70 meter akibat diterjang derasnya arus banjir, sehingga akses warga sempat terisolasi.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), bergerak cepat melakukan penanganan darurat. Dua unit alat berat jenis excavator diturunkan untuk melakukan normalisasi sungai di wilayah terdampak.
Kepala BWS Maluku Utara, M. Saleh Talib, mengatakan bahwa fokus utama penanganan adalah keselamatan masyarakat serta pemulihan fungsi infrastruktur sumber daya air pasca banjir.
“Kementerian PU berkomitmen hadir cepat di lokasi terdampak bencana. Identifikasi dan survei lapangan menjadi dasar penentuan langkah penanganan, termasuk pengerahan alat berat agar risiko banjir susulan dapat diminimalkan,” ujar Saleh, Jumat (16/12).
Penanganan difokuskan pada dua lokasi utama, yakni Sungai Ake Aru di Kecamatan Galela Utara, Kabupaten Halmahera Utara, serta Sungai Ibu di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat. Pekerjaan normalisasi di Sungai Ake Aru difokuskan pada pembukaan alur sungai dari hulu ke hilir, khususnya di sekitar jembatan yang terdampak, guna memulihkan akses darurat warga menuju dan dari Tobelo.
Hasil pemetaan dan survei lapangan BWS Maluku Utara menunjukkan adanya perubahan alur sungai serta sedimentasi yang berpotensi mengurangi kapasitas tampung sungai. Kondisi tersebut dinilai berisiko memicu banjir susulan apabila tidak segera ditangani.
Sementara itu, di Sungai Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, banjir menyebabkan genangan di permukiman warga serta kerusakan tebing sungai dan muara anak sungai. Tim BWS juga mengidentifikasi sejumlah titik kritis yang berpotensi memperparah banjir, terutama pada bagian tebing sungai yang mengalami longsoran.
“Dalam masa tanggap darurat, alat berat kami siagakan untuk pembersihan sedimen, perbaikan alur sungai, serta pengamanan tebing dan infrastruktur sungai agar fungsi sungai dapat segera pulih,” jelas Saleh.
Sebagai bagian dari respons terpadu, BWS Maluku Utara terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan penanganan banjir berjalan efektif dan terintegrasi, termasuk pengamanan permukiman warga dan infrastruktur publik.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Kementerian PU akan terus memantau perkembangan di lapangan serta menyiapkan langkah penanganan lanjutan berdasarkan hasil evaluasi teknis.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian PU dalam menjaga ketahanan infrastruktur sumber daya air sekaligus melindungi masyarakat dari dampak bencana hidrometeorologi.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar