Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
  • visibility 194
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam dunia keuangan, laporan laba rugi sering jadi primadona. Investor melihatnya, direksi memamerkannya, media mengutipnya. Tapi bagi seorang akuntan, neraca—ya, struktur aset, kewajiban, dan ekuitas—adalah panggung sesungguhnya di mana kekuatan dan kelemahan suatu entitas benar-benar bisa dinilai. Maka ketika saya membaca laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) per 31 Desember 2024, perhatian saya langsung tertuju pada struktur dasar itu.

Mari kita bedah dari aset.

Bank SulutGo mencatat total aset sebesar Rp21 triliun, dan menariknya, lebih dari 75% asetnya terkunci dalam bentuk kredit yang diberikan—tepatnya Rp15,9 triliun. Dari total tersebut, 92,18% atau sekitar Rp14,6 triliun adalah kredit konsumtif yang disalurkan kepada ASN di lingkungan pemerintah daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo. Dalam teori manajemen risiko, ini disebut concentration risk—di mana satu kelompok peminjam mendominasi portofolio kredit. Satu gejolak di sektor tersebut, dan kualitas aset bisa langsung memburuk.

Tentu saja, kredit konsumtif ASN relatif aman, karena berbasis pemotongan gaji langsung. Tapi risiko tetap ada—terutama dalam hal mismatch tenor dengan liabilitas bank, yang akan saya bahas nanti.

Selain kredit, komposisi aset BSG juga terdiri dari surat berharga (Rp1,85 triliun), giro pada Bank Indonesia (Rp1,4 triliun), dan aset tetap seperti tanah dan bangunan senilai Rp600 miliar. Ada juga penyertaan modal kecil—seperti pada BPR Prisma Dana senilai Rp977 juta—yang mungkin tampak kecil secara nominal, tapi penting untuk mencerminkan strategi ekspansi ke sektor mikro.

Namun proporsi total aset lancar jangka pendek—yakni kas, giro BI, penempatan pada bank lain, dan surat berharga yang mudah dijual—masih jauh dari memadai jika dibandingkan dengan kewajiban jangka pendek. Dan disitulah letak persoalan mendasar berikutnya.

Mari kita lihat dari sisi liabilitas atau kewajiban.

BSG mencatat total kewajiban sebesar Rp19 triliun, dan yang mengejutkan, 78,83% di antaranya adalah dana simpanan nasabah—yakni giro, tabungan, dan deposito—senilai Rp15 triliun. Dari angka tersebut, Rp11,18 triliun adalah deposito berjangka yang seluruhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan. Bahkan lebih ekstrim lagi, Rp8,79 triliun jatuh tempo hanya dalam waktu 3 bulan. Artinya, BSG memiliki beban kewajiban jangka pendek yang sangat besar dalam waktu yang sangat sempit.

Kembali ke sisi aset tadi—kredit yang diperkirakan lunas dalam jangka waktu yang sama hanyalah Rp550 miliar. Itu artinya, untuk setiap Rp20juta yang harus dibayar kembali kepada deposan dalam 3–12 bulan kedepan, hanya tersedia Rp1juta dari kredit yang jatuh tempo. Inilah yang disebut liquidity mismatch. Tidak ilegal, tidak aneh, tapi berisiko tinggi.

Sementara itu, dari sisi ekuitas, BSG terlihat stabil di atas kertas. Modal disetor mencapai Rp1,327 triliun atau sekitar 6% dari total aset. Ini mencerminkan leverage atau gearing ratio yang masih dalam batas wajar. Kepemilikan saham tersebar antara Pemda Sulut (pengendali mayoritas 51,38%), Pemda Gorontalo (18,25%), PT Mega Corpora (23,58%), dan Koperasi Karyawan (6,78%).

Struktur modal ini terlihat sehat. Bahkan BSG mampu membagikan dividen hingga Rp200 miliar dari laba bersih tahun buku 2023—sebuah sinyal bahwa bank ini memiliki profitabilitas tinggi. Namun sebagaimana yang saya biasa sampaikan di kelas-kelas kuliah, “dividen bisa dibagikan, tapi likuiditas tidak bisa dimanipulasi”. Jika beban jatuh tempo datang terlalu cepat, bank bisa “kering” sebelum sempat menuai kembali hasil dari aset jangka panjangnya.

Yang patut diapresiasi adalah efisiensi dan profitabilitas yang tampaknya tetap terjaga, namun manajemen harus sadar bahwa komposisi neraca mereka bersifat sangat rentan terhadap gangguan jangka pendek—apalagi bila ada penarikan dana besar-besaran dari pemilik deposito institusional.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, profit bukan segalanya. Struktur neraca adalah gambaran kedewasaan manajemen risiko. Kedua, aset besar bukan jaminan kuat jika tidak disesuaikan dengan profil liabilitas. Dan terakhir, ekuitas yang stabil bisa tergerus nilainya dengan cepat jika likuiditas terganggu.

Bank SulutGo telah bekerja keras membangun posisinya sebagai bank daerah yang kuat secara laba. Tapi untuk mempertahankan kepercayaan publik dan daya tahan ke depan, mereka harus memperbaiki cara mereka menyeimbangkan jangka waktu aset dan kewajiban.

Di dunia nyata, ketidakseimbangan neraca tidak selalu terlihat dalam grafik. Tapi bagi mereka yang terbiasa membaca laporan keuangan, tanda-tandanya sangat jelas—dan saatnya untuk bertindak, sebelum ketidakseimbangan itu mengubah angka laba menjadi angka kerugian yang nyata.

Oleh: Yustina Hiola –  (Seorang Dosen Akuntansi UNG yang Percaya Neraca Tak Pernah Netral)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 429
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi VII DPR RI resmi membentuk Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk menindaklanjuti berbagai laporan dan temuan terkait pelanggaran perizinan serta praktik usaha yang tidak sesuai aturan di sektor AMDK. Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menegaskan pembentukan Panja bertujuan memberikan rekomendasi dan solusi atas persoalan industri […]

  • Tahajud Sang Aktivis Reborn: Napas Baru Tasawuf Progresif dalam Sastra Indonesia

    Tahajud Sang Aktivis Reborn: Napas Baru Tasawuf Progresif dalam Sastra Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Dunia literasi spiritual Indonesia kembali hidup dengan hadirnya edisi re-born novel Tahajud Sang Aktivis, karya Pepi Al Bayqunie, seorang penulis sekaligus aktivis kebudayaan dan Gusdurian di Sulawesi Selatan yang dikenal dengan pendekatan Islam progresif dan humanis. Novel ini bukan sekadar fiksi keagamaan. Ia adalah refleksi mendalam tentang perjalanan iman, kegelisahan eksistensial, dan pencarian makna hidup […]

  • Empat Tuntutan PMII Belum Tuntas, Perwakilan Polres Maros Tinggalkan Forum Dialog

    Empat Tuntutan PMII Belum Tuntas, Perwakilan Polres Maros Tinggalkan Forum Dialog

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros— Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali turun ke jalan menyuarakan keresahan masyarakat Kabupaten Maros. Pada Senin, 14 September 2026, massa aksi PMII menggelar demonstrasi di dua titik sebagai bentuk kritik terhadap sejumlah persoalan pelayanan publik yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian secara konkret. Aksi diawali di Simpang Empat BRI Kabupaten Maros. Massa menyampaikan sejumlah aspirasi […]

  • Lewat Voting Terbuka, Pemuda Majannang Percayakan Karang Taruna ke Tangan Sakti

    Lewat Voting Terbuka, Pemuda Majannang Percayakan Karang Taruna ke Tangan Sakti

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros –  Karang Taruna Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, sukses menggelar Temu Karya sekaligus Pembentukan Pengurus Baru yang dirangkaikan dengan pemilihan Ketua Umum, Jumat (9/1/2026), bertempat di Kantor Desa Majannang. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh PJ Kepala Desa Majannang, Syamsir, S.S, Ketua Karang Taruna Kecamatan Maros Baru Syawir, Sekretaris Karang Taruna Kecamatan […]

  • KWIP Instruksikan Wartawan Tahan Diri Sikapi Dugaan Penghinaan Makmun Serbaguna

    KWIP Instruksikan Wartawan Tahan Diri Sikapi Dugaan Penghinaan Makmun Serbaguna

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 91
    • 0Komentar

    TULANG BAWANG, NULONDALO.COM – Ketua Dewan Pimpinan Pusat Komite Wartawan Indonesia Perjuangan (KWIP), Deferi Zan, menginstruksikan seluruh pengurus dan anggota KWIP menahan diri dalam menyikapi kasus dugaan penghinaan yang diduga dilakukan oknum TikToker Makmun Serbaguna asal Tulang Bawang. Imbauan tersebut disampaikan Deferi Zan pada Selasa, 9 Desember 2026, menyusul ramainya pro dan kontra di kalangan […]

  • Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD: Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi sebagai Strategi Akselerasi Pembangunan Regional

    Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD: Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi sebagai Strategi Akselerasi Pembangunan Regional

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Urgensi Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi: Sebuah Strategi Akselerasi Pembangunan Regional, Pemerataan, dan Peningkatan Kinerja Central Place”. Kegiatan berlangsung di Aula Prof. Kadir Abdussamad, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (6/11/2025). Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili, yang hadir mewakili Gubernur Provinsi […]

expand_less