Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 189
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap lebaran tiba, ada satu momen yang selalu kita tunggu dengan antusias: Halal Bi Halal. Di banyak keluarga muslim Indonesia, tradisi ini berarti keliling dari rumah ke rumah, bersalaman, dan menyantap hidangan yang sensasi rasanya tak pernah gagal. Tapi lebih dari itu, ada suasana hangat yang selalu hadir: perasaan diterima kembali, (setelah) apapun yang terjadi sebelumnya.

Tradisi ini bermula dari Kyai Wahab Hasbullah, yang menawarkan istilah “Halal Bi Halal” kepada Bung Karno sebagai cara menyatukan kembali bangsa yang terpecah usai Agresi Militer Belanda. Sejak itu, ia menjadi bagian dari kehidupan nasional, melampaui sekat agama, kelas sosial, dan bahkan ideologi. Di kantor-kantor pemerintah, sekolah, hingga komunitas diaspora Indonesia di luar negeri, Halal Bi Halal terus hidup.

Halal Bi Halal adalah pesan budaya yang terus-menerus dikodekan dan dibaca ulang. Ketika Kyai Wahab dan Bung Karno pertama kali memakainya, ia adalah isyarat rekonsiliasi—usaha menyatukan yang retak. Namun pesan itu kemudian dibaca secara berbeda oleh tiap generasi. Bagi sebagian orang, ia adalah bentuk ibadah sosial. Bagi yang lain, ia adalah ruang pertemuan yang penuh basa-basi. Dan bagi sebagian yang lain lagi, ia menjadi rutinitas simbolik yang diikuti tanpa banyak bertanya.

Di kalangan keluarga, ia jadi ajang saling maaf dan mempererat ikatan darah. Di lingkungan pemerintahan, ia bisa menjadi momen rekonsiliasi simbolik, kadang juga panggung pencitraan. Di organisasi keagamaan, ia bisa dimaknai sebagai ruang konsolidasi atau unjuk kekuatan. Dan di komunitas lintas iman, ia tumbuh menjadi jembatan dialog dan pertemuan budaya.

Semua itu sah. Karena Halal Bi Halal memang lentur. Ia bisa dibaca ulang, ditafsir ulang, disesuaikan dengan kepentingan masing-masing. Tapi justru karena itulah ia bertahan. Tradisi ini hidup karena ia tidak memaksa satu makna tunggal. Ia membiarkan orang membacanya sesuai konteks mereka, tapi tetap mengarah pada satu tujuan: menyambung yang sempat terputus dan mempertebal ikatan yang mungkin menipis.

Bagi saya pribadi, Halal Bi Halal adalah cara kita merawat kebersamaan dalam keragaman. Ia bukan hanya praktik keislaman, tapi praktik kebangsaan. Di tengah dunia yang gampang terbakar oleh perbedaan tafsir, Halal Bi Halal mengajak kita untuk duduk, bukan debat; menyapa, bukan mencurigai. Ia adalah bentuk moderasi yang tumbuh dari kebiasaan, bukan teori. Dari laku, bukan retorika.

Di ruang ini kita belajar bahwa menjadi bagian dari bangsa ini bukan soal menyamakan semua hal. Tapi soal menyediakan ruang bagi beragam makna untuk tetap bisa duduk bersama. Halal Bi Halal mengajarkan itu, dari ruang tamu rumah-rumah kecil, sampai aula megah tempat para tokoh bersalaman.

Lewat Halal Bi Halal, kita merasakan menjadi Indonesia bukan karena simbol-simbol besar, tetapi karena hal-hal kecil: kue lebaran yang dibawa ke tetangga, salam dari kolega lintas agama, panggilan reuni di café, atau undangan dadakan ke rumah guru yang lama tak ditemui. Ia adalah momen di mana agama, budaya, dan kebangsaan bercampur dalam satu ruang yang cair.

Tentu saja, tidak semua luka sembuh dengan berjabat tangan. Tidak semua konflik usai dengan “maaf dan batin”. Tapi mungkin Halal Bi Halal tak pernah berniat menyelesaikan semuanya. Ia tidak menyimpan janji besar, tapi menawarkan jembatan kecil. Ia bukan solusi struktural, tapi ruang batiniah tempat kita belajar memahami, meski sejenak, bahwa hidup bersama itu bukan tentang kesamaan, tapi tentang keberanian untuk saling sapa.

Dan mungkin di sanalah kekuatan Halal Bi Halal—dalam kesederhanaannya, dalam simbolismenya yang diam-diam, ia terus membentuk kita. Tahun demi tahun, salam demi salam. Seperti Indonesia itu sendiri: tidak sempurna, tapi terus kita rawat bersama.

Oleh : Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PP KMHDI Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis: 1.376 Siswa Jadi Korban Keracunan

    PP KMHDI Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis: 1.376 Siswa Jadi Korban Keracunan

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Ketua Departemen Organisasi Pengurus Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), I Dewa Gede Ginada Darma Putra, menyampaikan kritik keras terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program MBG resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 […]

  • Menjelang PorProv Sulsel,IPSI Maros Akan laksanakan Try Out Atlet

    Menjelang PorProv Sulsel,IPSI Maros Akan laksanakan Try Out Atlet

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,MAROS – Menjelang pelaksanaan Try Out Pencak Silat 2026, atlet dari berbagai perguruan se kabupaten maros mulai meningkatkan intensitas latihan melalui latihan rutin dibawah instruksi Ketua bidang pelatih IPSI Maros Khaerul sujarwadi. Latihan ini sudah berlansung selama 3 bulan mulai dari Mei hingga Juli Dan akan berlanjut Hingga Porprov mendatang. Try out yang dijadwalkan berlangsung […]

  • Pertemuan 3 Jam Prabowo dan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Bahas Isu Global dan Persahabatan

    Pertemuan 3 Jam Prabowo dan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Bahas Isu Global dan Persahabatan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 401
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan sahabat lamanya yang juga Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, di Istana Merdeka pada Jumat, 27 Maret 2026. Pertemuan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pertemuan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi Lebaran, tetapi juga […]

  • Wabup Boalemo Serahkan Santunan kepada Tiga Korban Kebakaran di Desa Buti

    Wabup Boalemo Serahkan Santunan kepada Tiga Korban Kebakaran di Desa Buti

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – BOALEMO – Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, bersama Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Boalemo, Mus Moha, menyerahkan santunan kepada tiga keluarga korban kebakaran rumah di Desa Buti, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Rabu (19/8/26). Santunan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten Boalemo bersama Baznas terhadap warga yang terdampak musibah kebakaran. Lahmudin […]

  • Sat Resnarkoba Polres Gorontalo Amankan Sabu, Kosmetik Ilegal hingga 835 Liter Cap Tikus Sepanjang 2025

    Sat Resnarkoba Polres Gorontalo Amankan Sabu, Kosmetik Ilegal hingga 835 Liter Cap Tikus Sepanjang 2025

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 312
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Gorontalo membeberkan capaian penegakan hukum terhadap peredaran narkotika, obat-obatan terlarang, minuman keras, serta kosmetik tanpa izin edar sepanjang periode Januari hingga Desember 2025. Selama periode tersebut, Sat Resnarkoba Polres Gorontalo melakukan serangkaian penindakan melalui penyelidikan intensif, tindak lanjut laporan masyarakat, serta operasi rutin di sejumlah titik rawan […]

  • KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    • calendar_month Senin, 20 Mei 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 178
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo berduka atas wafatnya KH Abdul Ghofir Nawawi, Rais Syuriyah PWNU Gorontalo. Kabar wafatnya almarhum beredar luas di sejumlah grup WhatsApp dan pesan singkat yang diterima redaksi nulondalo online. Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa KH Abdul Ghofir Nawawi mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.25 […]

expand_less