Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
  • visibility 518
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah imagined community: komunitas politik yang dibayangkan, terbatas, dan berdaulat.

Nasionalisme menuntut keberpihakan: kepentingan bangsa ditempatkan di atas klaim individu atau kelompok lain, dan loyalitas nasional diposisikan sebagai bentuk loyalitas tertinggi. Namun, apakah nasionalisme hanya sebatas klaim identitas dan kebutuhan sosial yang melahirkan serangkaian kewajiban normatif?

Pertanyaan itu relevan ketika kita melihat kenyataan bahwa nasionalisme kerap “dijual” dalam bentuk simbol-simbol formal. Garuda ditempel di map pidato, merah putih dicat di pagar kantor, atau istilah masa lalu dibangkitkan kembali lewat kebijakan birokratis. Tetapi, benarkah kecintaan pada tanah air bisa diringkas hanya dalam judul program pemerintah?

Fenomena ini semakin nyata ketika merah putih dan Garuda “dipinjam” untuk membungkus proyek-proyek negara. Dengan menamai kebijakan “Koperasi Merah Putih” atau “Sekolah Rakyat”, seolah-olah kecintaan pada tanah air otomatis hadir di sana. Padahal, ada jebakan imajinasi yang membuat kita salah sangka. Kita didikte bahwa mencintai negeri harus lewat rapat formal, kerja struktural, atau menjadi bagian dari sistem.

Fakta nasionalisme juga ada di jalanan, seorang pengayuh becak atau ojek online yang berjuang demi keluarganya, bukankah juga sedang merawat tanah air? Justru mereka adalah manifestasi hidup dari siasat bertahan, atau Relawan yang membawa buku ke pelosok dengan motor atau perahu pusaka, mengajar anak-anak di kolong jembatan tanpa berharap insentif jabatan. Mereka sedang merawat imajinasi publik agar tidak kerdil. Mereka menjaga martabat manusia tanpa seremoni.

Dari sini kita belajar bahwa nasionalisme sejati adalah cinta terhadap tanah air dan keberagaman di dalamnya, bukan pengabdian buta pada penguasa yang kerap menggadaikan kekayaan negeri. Sayangnya, di tengah sistem yang menjadikan demokrasi sekadar etalase dan fasisme sebagai alat kendali, nasionalisme kita sering terjepit. Ia dirayakan sebagai slogan dan simbol semata.

Anderson, lewat gagasan imagined community, menekankan pentingnya ruang imajinasi bersama. Namun kini, ruang itu sering dibajak oleh penguasa agar bangsa hanya dibayangkan melalui simbol-simbol mereka. Inilah yang disebut Anderson sebagai official nationalism; nasionalisme dari atas, dipaksakan demi menjaga kekuasaan. Yang luput kita lihat adalah nasionalisme yang tumbuh dari bawah: lahir dari rasa senasib para pejuang hidup di jalanan.

Ketika pemerintah meluncurkan proyek berlabel “Merah Putih” atau “Sekolah Rakyat”, sesungguhnya mereka sedang menyeragamkan imajinasi. Mereka ingin kita percaya bahwa mencintai tanah air berarti menyetujui program mereka. Padahal, nasionalisme menurut Anderson adalah deep horizontal comradeship; persaudaraan setara antar-manusia, bukan hubungan vertikal antara atasan dan bawahan.

Maka pertanyaan menganggu kerap terbersit, di mana nasionalisme sejati berada? Apakah ia hanya topeng otoritas yang menuntut rakyat berkorban atas nama “kepentingan nasional”, sementara kebijakan justru menguntungkan segelintir oportunis? Pada prinsipnya, jangan biarkan imajinasi kita didikte oleh baliho dan proyek pemerintah. Nasionalisme tidak lahir dari kertas kebijakan, melainkan dari rasa sakit dan harapan yang sama.

Sejarah menegaskan bahwa nasionalisme adalah tanggung jawab etis untuk saling menjaga martabat sesama warga negara, terutama mereka yang terpinggirkan. Ia bukan sekadar ritual memuja simbol apalagi penguasa, melainkan komitmen moral untuk merawat kehidupan bersama.

Sebagai alternatif dari etalase simbolik nasionalisme yang digunakan pemerintah, kita perlu menghidupkan kembali Nasionalisme Kewargaan (Civil Nationalism). Jika nasionalisme ala pemerintah adalah doktrin kepatuhan, maka nasionalisme warga menuntut dan mengawal keadilan. Karena itu,  mencintai tanah air tidak berarti mengiyakan segala titah, melainkan memastikan bahwa setiap janji konstitusi sampai ke masyarakat secara setara,  sebab ia adalah bagian dari amanah sejarah bangsa ini.

Penulis : (Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA)

  • Penulis: Muhammad Kamal
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 366
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menghadirkan inovasi unik dalam membangun budaya bersih di lingkungan sekolah, yakni melalui lomba “toilet terbersih” yang digelar setiap bulan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Husin Ali, menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar menilai kebersihan fisik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter […]

  • Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 1.093
    • 0Komentar

    Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya […]

  • Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 395
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Wacana sejumlah partai politik besar untuk mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD dinilai bertentangan dengan konstitusi dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan MK Nomor 110/PUU-XXII/2025 secara tegas menempatkan pilkada sebagai bagian dari rezim pemilu yang harus dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Pengajar Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra B. Santoso, […]

  • Pengawasan KNMP Kalumbatan Kembali Disorot, Kevin Lapendos Desak Pengerjaan Dihentikan Sementara

    Pengawasan KNMP Kalumbatan Kembali Disorot, Kevin Lapendos Desak Pengerjaan Dihentikan Sementara

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persoalan pengawasan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, kembali menjadi sorotan. Koordinator Aliansi Pemuda Kalumbatan, Kevin Lapendos, mendesak agar pengerjaan proyek tersebut dihentikan sementara sampai aspek pengawasan, keamanan area kerja, dan kepatuhan terhadap ketentuan pelaksanaan proyek dapat dievaluasi secara menyeluruh. Desakan tersebut disampaikan Kevin setelah menurut pantauannya, […]

  • Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan istighosah sebagai salah satu rangkaian dari Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo . Kegiatan ini berlangsung di Kantor PWNU Gorontalo, dihadiri oleh jajaran pengurus, para kiai, tokoh agama, dan peserta dari berbagai kalangan serta seluruh masyarakat Nahdatul ulama, kamis  (30/10/2025) Istighosah tersebut dipimpin KH. Muhyidin Zeni Wakil […]

  • Klarifikasi SPBU Pertamina Patung Kuda Maros: Operator Disanksi, Insiden Jadi Pembelajaran Bersama

    Klarifikasi SPBU Pertamina Patung Kuda Maros: Operator Disanksi, Insiden Jadi Pembelajaran Bersama

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Menyusul pemberitaan terkait dugaan praktik tidak wajar dalam pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina kawasan Patung Kuda, dekat Pantai Tak Berombak (PTB), Kabupaten Maros, pihak pengawas SPBU akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Peristiwa yang sebelumnya dilaporkan terjadi pada Selasa siang sekitar pukul 11.30 WITA itu sempat menimbulkan kecurigaan dari seorang konsumen […]

expand_less