Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

  • account_circle -
  • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
  • visibility 82
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kasus tragis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada penghujung Januari 2026, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena, adalah tamparan keras bagi nurani bangsa. Membaca berita tentang seorang anak kecil yang memilih “pergi” selamanya hanya karena selembar buku dan sebatang pena adalah kesedihan yang nyaris tak terlukiskan.

Ini bukan sekadar kabar duka, melainkan luka terbuka di wajah kita semua. Pada usia yang seharusnya dipenuhi canda dan tawa, ia justru dipaksa memikul beban dunia yang bahkan orang dewasa pun sering kali tak sanggup menanggungnya. Tragedi kemanusiaan ini, bukan sekadar berita duka yang lewat begitu saja; ia adalah sebuah lonceng kematian bagi nurani kolektif kita.

Dalam kacamata etika publik, tindakan ekstrem seorang anak kecil tidak pernah boleh dibaca sebagai keputusan individual. Ia adalah akumulasi dari tekanan struktural yang gagal diredam oleh lingkungan sosialnya. Ketika seorang anak yang seharusnya masih mengecap dunia bermain dan perlindungan—memilih jalan keputusasaan, maka yang sesungguhnya sedang diadili adalah keberadaban sebuah bangsa.

​Secara psikologis, anak seusia itu belum memiliki kematangan kognitif untuk memproses krisis hidup yang kompleks. Mereka sangat bergantung pada tiga pilar penyangga: Keluarga, Sekolah, dan Komunitas. Jika pilar-pilar ini runtuh, anak akan jatuh ke dalam jurang pengabaian struktural. Kasus ini menjadi jauh lebih menyakitkan karena pemicunya adalah ketidakmampuan ekonomi yang berujung luka.

​Negara tidak lagi bisa bersembunyi di balik jargon “wajib belajar” atau statistik angka partisipasi sekolah. Di lapangan, pendidikan kita sering kali mempraktikkan apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai kekerasan simbolik. Ketidakadilan ini bekerja dengan halus; menciptakan standar material yang harus dipenuhi, sehingga anak-anak miskin merasa “gagal” dan “cacat” secara sosial hanya karena tak mampu membeli buku atau pena.

​Institusi keagamaan pun tidak luput dari tanggung jawab moral. Agama kehilangan maknanya jika hanya sibuk pada ritual dan wacana moralitas individu, namun menutup mata terhadap penderitaan konkret di depan pintu mereka. Menjaga kehidupan (hifz al-nafs) adalah prinsip fundamental yang terabaikan ketika kemiskinan dibiarkan mencabik-cabik harapan seorang anak.

Agar tragedi ini tidak hanya sekadar menjadi catatan statistik, diperlukan redefinisi total terhadap penyaluran bantuan pendidikan. Bantuan tidak boleh lagi hanya menyentuh biaya SPP, melainkan harus menjangkau kebutuhan operasional harian seperti buku dan alat tulis, karena di sanalah martabat seorang siswa diuji setiap harinya.

Di saat yang sama, lingkungan sekolah harus bertransformasi dari sekadar pusat administrasi menjadi ruang aman yang peka. Guru dan staf sekolah perlu memiliki kemampuan untuk mengenali tanda-tanda krisis emosional dan tekanan ekonomi sebelum semuanya terlambat.

​Selain itu, sinergi proaktif antara pemerintah dan lembaga sosial harus benar-benar menyentuh akar rumput untuk menjangkau mereka yang selama ini tak terlihat. Kita membutuhkan ekosistem perlindungan yang tidak hanya menunggu laporan, tetapi aktif mencari dan merangkul. Tragedi ini adalah pengingat pahit bahwa kemiskinan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan taruhan nyawa manusia.

Masyarakat yang beradab tidak diukur dari seberapa megah infrastrukturnya, melainkan dari seberapa mampu ia melindungi mereka yang paling rapuh. Jika seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena dunia terasa terlalu kejam, maka yang layak diadili bukan anak itu, melainkan sistem yang membiarkannya berjuang sendirian. Ini adalah kehilangan rasa malu kolektif yang harus kita tebus dengan perubahan nyata.

Penulis: Muhammad Kamal

(Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA)

  • Penulis: -
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Gelombang sorotan terhadap aktivitas perusahaan tambang PT Pani Gold Project kembali menguat setelah berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di Kabupaten Pohuwato. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pohuwato ikut angkat suara. Melalui Sekretarisnya, Risman Ibrahim, PCNU menegaskan bahwa perusahaan tambang harus menyadari posisinya sebagai “tamu” di tanah Pohuwato dan wajib menyelesaikan berbagai […]

  • Dari Gedung IP-DDI, PMII Maros Tetapkan Alif Al Isra sebagai Ketua Umum

    Dari Gedung IP-DDI, PMII Maros Tetapkan Alif Al Isra sebagai Ketua Umum

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Konferensi Cabang (Konfercab) ke-IX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Maros sukses digelar di Gedung IP-DDI Maros, Sabtu, 25 Januari 2026. Forum tertinggi organisasi di tingkat cabang ini berlangsung khidmat, dinamis, dan penuh semangat kaderisasi. Dalam forum tersebut, M. Alif Al Isra resmi terpilih sebagai Ketua Umum PMII Cabang Maros periode 2026–2027, […]

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 49
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

  • Kisah-Kisah Para Nabi yang Terjadi di Bulan Muharram

    Kisah-Kisah Para Nabi yang Terjadi di Bulan Muharram

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan suci dalam Islam, bahkan disebut sebagai “Syahrullah”(bulan Allah) oleh Rasulullah SAW. Di bulan ini, terutama tanggal 10 Muharram (Hari Asyura), banyak peristiwa besar yang diyakini terjadi dalam sejarah kenabian. Berikut adalah kisah-kisah penting para Nabi yang terjadi di bulan Muharram menurut tradisi Islam: Nabi Adam AS: Diterimanya Tobat […]

  • Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, […]

  • Inilah Pengurus Baru Asosiasi Produsen Benih Indonesia Gorontalo

    Inilah Pengurus Baru Asosiasi Produsen Benih Indonesia Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Para pelaku usaha perbenihan di Provinsi Gorontalo resmi membentuk dan memilih pengurus baru Asosiasi Produsen Benih Indonesia (Asbenindo). Kegiatan ini dihadiri oleh penangkar, produsen benih, serta pengawas benih tanaman dari berbagai kabupaten/kota. Melalui proses pemilihan yang berlangsung secara aklamasi, terpilih sebagai pengurus baru Ketua: Ervan Baga, Wakil Ketua: Umar Etango, Sekretaris: Hitler Datau, dan Bendahara: […]

expand_less