Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Meong Palo Karellae dalam Pusaran Modernisasi

  • account_circle Muh. Akbar
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 401
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Sulawesi Selatan memiliki cerita rakyat yang cukup terkenal. Cerita rakyat ini termuat dalam salah satu episode dalam sureq La Galigo. Cerita rakyat tersebut dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan sebutan Meong Palo Karellae, kisah yang mengandung nilai moral, kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan.

Meong Palo Karellae mengisahkan seekor kucing belang tiga yang menemani Sangiangseri (Dewi Padi) dalam perjalanan menyebarkan kemakmuran pertanian di Sulawesi Selatan. Nasihat serta pantangan-pantangannya dianggap mampu menyuburkan serta melindungi pertanian dari serangan hama.

Siapa sosok Sangiangseri (Dewi Padi)

Cerita lisan yang berkembang di Sulawesi Selatan menjadikan sosok Sangiangseri tidak luput dari pembicaraan masyarakat. Dalam naskah La Galigo, Sangiangseri merupakan puteri dari sepasang suami istri Batara Guru dan We Nyilik Timo yang wafat setelah tiga hari kelahiran.

We Oddang Riu adalah nama yang diberikan setelah kelahirannya, namun karena berselang beberapa hari setelah wafatnya, makam puterinya banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang kelihatannya asing, sehingga Batara Guru mengadu kepada Datu’ Patotoq (Raja Botting Langi), dari penjelasan Datu’ Patotoq yang tumbuh di makam We Oddang Riu disebut sebagai padi. We Oddang Riu menjelma menjadi Dewi Padi Sangiangseri atas kehendak Datu’ Patotoq (Penentu Takdir).

Sangiangseri ditakdirkan untuk memberikan kehidupan bagi masyarakat Sulawesi Selatan, diyakini sebagai penjamin kemakmuran, pemberi hasil panen yang melimpah, dan pelindung tanaman padi dari hama. Pemujaan dan penghormatan terhadap sangiangseri sering diwujudkan dalam tradisi adat Sulawesi Selatan, seperti Maddoja Bine, dan Mappadendang saat upacara panen. Itu semua dilakukan karena Sangiangseri (Dewi Padi) merupakan asal usul padi di Sulawesi Selatan.

Kisah Meong Palo Karellae

Meong Palo Karellae adalah sebutan untuk kucing jantan dengan mempunyai bulu tiga warna, hitam, putih, dan coklat, yang pada umumnya sulit untuk menemukan kucing dengan warna tersebut. Kisah kucing tersebut sering dikaitkan dengan mitos diberbagai budaya. Di masyarakat Bugis sendiri, Meong Palo Karellae dikisahkan merupakan pengawal setia Sangiangseri (Dewi Padi).

Meong Palo Karellae awalnya yang bermukim di Wage (sekarang Wajo) hidup dengan bahagia, tentram, tidak pernah mengalami siksaan atau penderitaan dari tuannya. Hidupnya mulai berubah secara drastis ketika masyarakat setempat tidak lagi menghormati Sangiangseri, nasihat dan pantangan-pantangannya tidak lagi didengar oleh masyarakat setempat.

Disisi lain, Meong Palo Karellae mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, di tempat tersebut Meong Palo Karellae mulai merasakan penderitaan dan kepedihan dari tuannya. Atas nasihat dan pamali yang tidak didengar akibatnya padi dimakan tikus di siang hari, dan dipatuk ayam di malam hari. Dengan keadaan demikian, Sangiangseri memutuskan meninggalkan tempat tersebut.

Sangiangseri memutuskan melakukan pengembaraan mencari tempat dimana mereka diterima dengan baik, di dudukkan ditempat yang agung. Dalam pengembaraannya mereka tiba di Enrekang, kemudian ke Maiwa, selanjutnya ke Soppeng, Langkemme, Kessi, lisu, hingga sampai ke Barru dan menetap disana.

Dalam rute perjalanannya yang melewati Enrekang hingga ke Lisu, mereka selalu merasakan penderitaan ditempat yang mereka singgahi. Bukan hanya itu, kelakuan dan sifat masyarakat terhadap padi tidak menempatkan ditempat yang agung, membiarkan nasi jatuh ke tanah dan tidak dipungut oleh masyarakat.
Ketika masuk di wilayah Barru, mereka menemukan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan dalam perjalanan. Sangiangseri dan Meong Palo Karellae disambut dengan baik, diagungkan dan ditempatkan ditempat yang layak. Semua masyarakatnya jujur, ramah dan berlaku adil, sehingga Sangiangseri dan Meong Palo Karellae merasa nyaman tinggal di daerah tersebut.

Saat menetap di daerah Barru, Sangiangseri memberikan nasihat, pesan, pamali yang berkaitan dengan cara penanaman padi, serta adat dalam memperlakukan tanaman padi sehingga masyarakat hidup dalam kebaikan. Masyarakat Barru kemudian percaya bahwa ketika mereka malaksanakan apa yang diperintahkan Sangiangseri, maka mereka akan merasakan kebaikan dan tidak akan ditinggalkan oleh Sangiangseri.

Pertanian Modern yang Melupakan Warisan Leluhur

Meong Palo Karellae, walaupun hanya sebatas cerita rakyat dan mempunyai unsur mitos, namun cerita tersebut sarat dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Banyak memberikan pengajaran bagi masyarakat Sulawesi Selatan lebih khususnya masyarakat Bugis.

Dalam dunia yang serba modern hari ini, tentunya terasa kuno atau ketinggalan zaman ketika melakukan aktivitas bercocok tanam masih menggunakan cara tradisional atau model-model lama. Fenomena seperti ini tidak jarang kita temui di Sulawesi Selatan, pengetahun bercocok tanam yang diwariskan leluhur kita tidak lagi di terapkan di dunia pertanian. Padahal para leluhur telah mewariskan pengetahuan lokal mulai awal pembibitan hingga melakukan panen.

Pengetahuan lokal tentang pertanian dimuat dalam beragam tradisi, ritual atau upacara adat yang berkembang di masyarakat, seperti Maddoja Bine yang berhubungan dengan pembacaan sureq Meong Palo Karellae. Sureq tersebut dibacakan untuk menghormati Sangiangseri sebagai Dewi Padi, upacara ini rutin dilakukan sebelum penanaman dengan tujuan agar padi tumbuh subur dan kelak hasil panen melimpah dan berhasil.

Namun sekarang, seiring berkembangnya zaman, tradisi dan ritual seperti pembacaan sureq Meong Palo Karellae sudah jarang dilakukan. Terjadinya perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, hingga penemuan bahan kimia yang mampu menyuburkan dan melindungi tanaman dari hama menjadi salah satu faktor jarangnya masyarakat melakukan tradisi dan ritual tersebut. Padahal selain memberikan manfaat pada tanaman, pembacaan sureq Meong Palo Karellae merupakan salah satu bentuk kesusastraan Bugis yang perlu dilestarikan.

Penulis : Ketua Kaderisasi PMII Cabang Barru, Pemimpin PMII Gerbong Dekol

  • Penulis: Muh. Akbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 17 Mahasantri Khatamun Nabiyyin Raih Sertifikasi CAP, Bukti Santri Unggul di Era Digital

    17 Mahasantri Khatamun Nabiyyin Raih Sertifikasi CAP, Bukti Santri Unggul di Era Digital

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 441
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Jakarta – Sebanyak 17 mahasantri dari Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, Balekambang, Jakarta Timur berhasil menorehkan prestasi membanggakan di bidang non-akademik dengan meraih gelar Certified Accurate Professional (CAP), sebuah sertifikasi bergengsi di bidang komputerisasi akuntansi. Sertifikasi ini diperoleh setelah para mahasantri dinyatakan lulus dalam rangkaian ujian kompetensi penggunaan aplikasi akuntansi Accurate. Program sertifikasi tersebut […]

  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Gusdur Dalam Memori  Mbak Yenny dan Gus Mus

    Gusdur Dalam Memori Mbak Yenny dan Gus Mus

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Riski Hidayat
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Oleh: Riski Hidayat, Mahasiswa Pasca Sarjana UAC Mojokerto Tulisan ini Merupakan Refleksi Penulis pada saat Menghadiri Acara Peringatan Haul Gus Dur ke 16 dan Tasyakuran Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional K.H Abdurrahman Wahid di Tebu Ireng Pada 17 Desember 2025. Berangkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Yenny Wahid. Apa yang membuat Gus Dur begitu istimewa […]

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 556
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

  • Kembalikan Khittah Reformasi,PMII Maros dan SAPMA PP bentuk Aliansi AKAR lakukan unjuk rasa

    Kembalikan Khittah Reformasi,PMII Maros dan SAPMA PP bentuk Aliansi AKAR lakukan unjuk rasa

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,MAROS – Ratusan Massa Aksi yang tergabung dalam Aliansi Kawal Amanat Reformasi (AKAR), terdiri dari PMII Kabupaten Maros dan SAPMA Pemuda Pancasila Kabupaten Maros, menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu (24/6/2026) sebagai bentuk penyampaian aspirasi terhadap berbagai persoalan Nasional dan Daerah. Massa melakukan Long march dari titik kumpul Aliansi pelataran Mesjid Al Markaz menuju Kantor […]

  • Bupati Bone Resmikan Jalan Beton Akses Bandara Arung Palakka

    Bupati Bone Resmikan Jalan Beton Akses Bandara Arung Palakka

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 196
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., meresmikan pembangunan Jalan Beton Ruas Akses Bandara Arung Palakka yang berlokasi di Desa Mappalo Ulaweng, Kecamatan Awangpone, Selasa (13/1/2026). Peresmian jalan beton sepanjang 1,5 kilometer tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati Bone sebagai simbol rampungnya pembangunan infrastruktur strategis yang menunjang konektivitas daerah. Pekerjaan jalan […]

expand_less