Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Subyek Digital dan Dunia Yang Berubah

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 180
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Beberapa kasus viral berbasis potongan konten—seperti situasi yang terjadi dengan Sekjen Kementerian Agama, Prof Kamarudin Amin baru-baru ini dan beberapa kasus sebelumnya—semakin membuat kita sadar bahwa dunia kita memang sedang berubah, dan kita pun mungkin sedang berubah.

Sebuah video berdurasi beberapa detik atau potongan percakapan yang diambil di luar konteks bisa menimbulkan opini publik yang meledak.  Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sedang hidup di dunia hyper-reality—dunia yang melipatgandakan realitas, di mana realitas kedua terasa lebih realistic ketimbang realitas pertama. Realitas asli sering kali kalah oleh representasi digitalnya sendiri. Inilah dunia kita, saat ini.

Dunia hyper-reality ini menantang kita untuk memikirkan ulang konsep kebenaran, kepercayaan, dan interaksi manusia. Di satu sisi, potongan digital memungkinkan informasi menyebar cepat, memobilisasi opini publik, dan memberi suara bagi mereka yang sebelumnya tak terdengar. Pesan yang singkat, video berdurasi beberapa detik, atau potongan teks dapat memunculkan empati, solidaritas, bahkan aksi kolektif yang nyata—sesuatu yang sulit dicapai melalui komunikasi tradisional.

Di sisi lain, dunia digital menciptakan ruang di mana kesalahan interpretasi, manipulasi, dan distorsi menjadi mudah tersebar, dan sering kali lebih berdampak daripada fakta itu sendiri. Algoritma memperkuat konten yang menimbulkan reaksi emosional, sehingga yang dramatis sering kali lebih didengar daripada yang benar. Sebuah potongan informasi bisa menimbulkan persepsi publik yang salah, memecah opini, atau memprovokasi konflik—meski kenyataannya jauh berbeda. Dalam konteks ini, kebenaran tidak lagi bersifat absolut, melainkan dipengaruhi oleh ritme viralitas, kekuatan representasi, dan persepsi kolektif.

Fenomena ini memaksa kita, sebagai subjek digital, untuk lebih sadar akan fragmen yang kita konsumsi dan bagikan. Setiap klik, setiap komentar, dan setiap share adalah bagian dari cara kita membentuk realitas bersama. Menjadi subjek digital berarti tidak hanya hadir, tetapi hadir dengan kesadaran—memahami fragmentasi informasi, menyadari bias dan manipulasi, dan tetap berupaya menemukan keseluruhan.

Ini adalah kemampuan untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi melihat keseluruhan; tidak sekadar percaya pada viralitas, tetapi mempertanyakan apa yang membentuknya. Subjek digital yang harus menyadari bahwa setiap potongan konten adalah bagian dari narasi yang lebih besar, bahwa setiap opini yang menyebar adalah representasi yang dipilih dan dikurasi, bukan cerminan penuh dari realitas.

Lebih dari itu, dunia digital membentuk identitas kita. Dalam ruang ini, siapa kita bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita diinterpretasikan. Identitas menjadi cair, persepsi menjadi cepat dan luas, dan kita menjadi pemain dalam simulasi kolektif di mana realitas asli dan representasinya saling melengkapi sekaligus bertentangan.

Dunia digital tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga cara kita berpikir, merasa, dan menilai. Ia membentuk ruang di mana makna, kebenaran, dan realitas tidak lagi linear, tetapi fragmentaris, simultan, dan terdistribusi.

Menjadi subjek digital berarti memahami fragmentasi ini, mampu membaca potongan-potongan informasi yang bertebaran, dan tetap mencari keseluruhan narasi di baliknya. Kapasitas subyek digital yang dibutuhkan: mampu menilai, membedakan, dan menahan diri sebelum bereaksi. Menjadi subjek digital berarti tetap reflektif, kritis, dan manusiawi—tidak larut dalam viralitas instan, tetapi mampu menempatkan diri dalam konteks, memahami niat, dan mempertimbangkan dampak sebelum berbagi atau menilai.

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMA vs S2

    SMA vs S2

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Kita mungkin pernah bertanya, mengapa untuk menjadi dosen seseorang minimal pendidikan S2, sementara untuk menjadi anggota legislatif atau pejabat eksekutif termasuk Presiden dan Wapres cukup berijazah SMA? Pertanyaan ini  sering muncul di tengah kita karena peran strategis lembaga eksekutif dan legislative dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi standarnya terlihat minimalis. Sekilas, perbedaan ini memang tampak seperti […]

  • Waspada Macet! Ini Titik Rawan Kemacetan di Maros Saat Libur Nataru

    Waspada Macet! Ini Titik Rawan Kemacetan di Maros Saat Libur Nataru

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Maros mengungkap sejumlah titik rawan kemacetan selama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Pemetaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi lonjakan mobilitas masyarakat yang diprediksi meningkat signifikan selama masa libur akhir tahun. Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, Muhammad Darwis, mengatakan bahwa kepadatan arus lalu lintas umumnya terjadi di […]

  • Janji Tinggal Janji! Sertifikat Tak Diserahkan, Mediasi Terus Diundur, Kini Muncul Dugaan Pungutan Rp1 Juta di Desa Lassang Kabupaten Takalar

    Janji Tinggal Janji! Sertifikat Tak Diserahkan, Mediasi Terus Diundur, Kini Muncul Dugaan Pungutan Rp1 Juta di Desa Lassang Kabupaten Takalar

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 93
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM,TAKALAR – Polemik penyerahan sertifikat tanah sawah di Dusun Biring Ta’bing, Desa Lassang, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, kembali menjadi sorotan. Seorang penggarap sawah bernama Sanawati mengaku hingga kini belum menerima sertifikat tanah yang disebut sebagai haknya, meski telah berulang kali mendatangi Kantor Desa Lassang untuk memperoleh kepastian. Perjuangan Sanawati mencari kejelasan disebut telah berlangsung cukup […]

  • Pemuda Kaltim Bersuara: Sudah Cukup, Tuntut Keadilan Lingkungan 

    Pemuda Kaltim Bersuara: Sudah Cukup, Tuntut Keadilan Lingkungan 

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    “Sudah cukup” Seruan itu menggema dari hati rakyat Kalimantan Timur sebagai bentuk kekecewaan sekaligus kepedulian mendalam terhadap kerusakan lingkungan yang terus berlangsung tanpa henti. Masyarakat menyerukan keadilan ekologis dan menolak eksploitasi yang menggerus alam serta merusak kehidupan mereka. Hal ini disampaikan oleh Usamah Ahmad Syahid, Wasekjend DPP GENINUSA (Gerakan Santriprenuer Nusantara), yang menyuarakan keresahan warga […]

  • Sekolah di Zona Rawan: Mendesak Penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kota Gorontalo

    Sekolah di Zona Rawan: Mendesak Penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kota Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dadang Sudardja
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Tulisan ini diilhami dari diskusi bersama teman-teman WALHI Gorontalo. Kebetulan, penulis menjadi narasumber dan fasilitator dalam kegiatan Diklat Tanggap Darurat Bencana Ekologis. Sebagai pegiat kebencanaan yang juga menaruh perhatian serius pada isu Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), berbagai obrolan dan diskusi tersebut melahirkan satu kegelisahan mendasar: Kota Gorontalo berada pada ancaman gempa bumi dan banjir […]

  • Tidak Merasakan Dampak Baik, Masyarakat Dorosago Pertanyakan Penggunaan Dana Desa Tahun 2025

    Tidak Merasakan Dampak Baik, Masyarakat Dorosago Pertanyakan Penggunaan Dana Desa Tahun 2025

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 1.123
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – Sejumlah masyarakat di Desa Dorosago mulai mempertanyakan terkait pengelolaan keuangan desa. Pasalnya, kucuran Dana Desa yang seharusnya menjadi stimulant pembangunan dan kesejahteraan, dinilai tidak memberikan dampak nyata bagi kehidupan warga setempat sepanjang tahun anggaran 2025. Berdasarkan data yang dihimpun, Desa Dorosago tercatat mengelola Total Pendapatan Desa tahun 2025 dengan angka yang […]

expand_less