Asyiknya Sensus Burung Air di Danau Limboto
- account_circle Moloneo Az
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 15
- print Cetak

Sensus burung air Asia (Asian Waterbird Census) yang dialksanakan di Danau Limboto oleh BIOTA Gorontalo. (Fotop RA)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NULONDALO.com – Ratusan individu burung air residen (penetap) dan jenis migran (pendatang) di Danau Limboto tercatat dalam pengamatan dan sensus burung-air Asia (Asian Waterbird Census) pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Jenis burung-burung tersebut antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), cangak merah (Ardea purpurea), gagang bayam (Himantopus himantopus), kirik-kirik laut (Merops philippinus), layang-layang batu (Hirundo tahitica), perkutut (Geopelia striata), tekukur (Spilopelia chinensis), kicuit batu (Motacilla cinerea), dederuk merah (Streptopelia tranquebarica), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Dara laut (Sterna sp), kerakbasi (Acrocephalus), cerek kalung kecil (Charadrius dubius), cerek tilil (Charadrius alexandrinus), Tikusan alis-putih (Poliolimnas cinereus) dan dua jenis burung masih belum teridentifikasi.
“Pengamatan dan sensus burung dimulai pukul 06.00 Wita di tepi Danau Limboto,” kata Iwan Hunowu, pegiat lingkungan di Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), Sabtu (7/2/2026).
Dalam penghitungan burung-air ini sejumlah pengamat menggunakan peralatan khusus, yaitu teropong (binocular), spotting scope, dan buku panduan lapangan.
Sensus burung air di Gorontalo secara rutin dilaksanakan BIOTA yang berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) simpul Gorontalo, dan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Dalam penghitungan burung ini Iwan Hunowu tidak sendirian, ia bersama 80 orang dari lembaga kolaborator ditambah mahasiswa Fakutas Hukum dan Fakultas Farmasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ketua Prodi Konservasi Hutan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo.
Mereka mengamati burung dan mencocokkan dengan gambar di buku panduan lapangan, upaya ini tidak serta merta dapat mengidentifikasi bagi pengamat pemula. Mereka dibantu para pengamat burung yang berpengalaman.
Dalam sensus burung air asia ini, BIOTA juga memanfaatkan untuk melakukan edukasi pentingnya lahan basah bagi kehidupan kepada para mahasiswa.
Penghitungan burung air sangat mudah dilakukan, bahkan banyak dari peserta merasakan penasaran dan menyenangkan. Salah satu alasannya adalah burung air sangat mudah dijumpai dan dapat ditemukan di berbagai jenis lahan basah, seperti sungai, danau, atau sawah. Burung-burung ini memesona dan memegang peranan penting dalam fungsi ekosistem.
“Sejak awal abad ke-20, telah disadari bahwa burung-burung ini hanya dapat dilestarikan dan dikelola secara berkelanjutan melalui kolaborasi internasional,” kata Ragil Satriyo Gumilang, Koordinator AWC Indonesia yang juga Ketua Sekretariat Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya (KNKBBH).
Ragil menjelaskan burung air telah memikat para pengamat burung amatir dan relatif mudah untuk dihitung. Hal ini menjadikan burung ini ideal untuk dilakukan pemantauan jangka panjang, karena relatif efisien biayanya untuk disurvei dari tahun ke tahun, terutama karena dilakukan melalui jaringan sukarelawan.
Sejak 1967 puluhan ribu orang di seluruh dunia mengunjungi lahan basah setiap tahun untuk mengambil bagian dalam Sensus Burung Air Internasional (Internatyional Waterbird Census).
Pada bulan Januari dan Februari banyak spesies burung air yang berkumpul dalam jumlah besar di lahan basah. Ini memberikan meruakan peluang bagus bagi para pengamat burung untuk memantau jumlah, tren, dan perubahan distribusi populasi burung air, serta mengidentifikasi lokasi-lokasi penting.
Sejak tahun 1967, selama 60 tahun terakhir Sensus Burung Air Internasional telah berkembang menjadi salah satu program pemantauan keanekaragaman hayati terbesar dan paling lama dilaksanakan di dunia. Salah satunya dilaksanakan di Danau Limboto, Gorontalo.
- Penulis: Moloneo Az

Saat ini belum ada komentar