Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Panas Bumi vs Panas Hati

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 284
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri +62 ini, kadang yang panas bukan cuma bumi, tapi juga hati rakyat. Apalagi kalau yang panas itu proyek panas bumi, lalu terdengar kabar bahwa yang mengelola adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Waduh. Ini bukan sekadar energi terbarukan, ini energi perdebatan.

Sebagai bangsa yang sejak dulu tegas mendukung Palestina, kita ini unik. Secara diplomatik tidak punya hubungan dengan Israel, tapi dunia bisnis global itu seperti warung kopi 24 jam: semua orang bisa nongkrong, asal punya modal. Nah, di sinilah mulai muncul kegelisahan kolektif. Rakyat bertanya, “Lho, ini bagaimana ceritanya? Kita tidak punya hubungan diplomatik, tapi kok ada izin usaha?”

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan bilang, “Ini bukan soal panas bumi, ini soal bumi yang kepanasan karena kita kurang komunikasi.” Humor beliau selalu sederhana tapi kena. Karena dalam politik, yang paling mahal itu bukan investasi, melainkan kepercayaan.

Sebagai ekonom yang kebetulan lahir dari rahim tradisi Nahdlatul Ulama, saya melihat persoalan ini bukan sekadar hitung-hitungan dolar dan megawatt. Ini soal rasa. Dalam kultur NU, rasa itu penting. Orang bisa salah hitung, tapi jangan sampai salah rasa.

Secara teknis, energi panas bumi itu baik. Ramah lingkungan. Mendukung agenda ekonomi hijau Presiden Prabowo. Kita memang butuh transisi energi. Tidak mungkin selamanya mengandalkan batu bara sambil berharap langit tetap biru. Tapi begini, kalau proyeknya membuat sebagian rakyat merasa “kok agak aneh ya?”, maka tugas pemerintah adalah menjelaskan, bukan sekadar menjalankan.

Rakyat Indonesia ini cerdas. Kadang saking cerdasnya, sebelum dijelaskan sudah menyimpulkan duluan. Maka kalau tidak ada transparansi, imajinasi publik bisa lebih liar dari sumur geotermal.

Isu Palestina bagi masyarakat Indonesia bukan isu luar negeri biasa. Ini sudah seperti urusan keluarga jauh yang selalu kita doakan tiap khutbah Jumat. Maka ketika ada kabar perusahaan yang punya afiliasi Israel masuk mengelola proyek strategis, reaksi emosional itu bisa dimaklumi.

Pertanyaannya, apakah ini otomatis salah? Belum tentu. Dunia bisnis itu ruwet. Saham bisa dimiliki lintas negara. Perusahaan bisa beroperasi independen dari politik negaranya. Tapi dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada struktur kepemilikan.

Nah, di sinilah tantangan Presiden Prabowo. Beliau dikenal tegas mendukung kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional. Komitmen itu sudah jelas. Tapi rakyat juga ingin melihat konsistensi dalam kebijakan ekonomi. Jangan sampai yang hijau di sektor energi malah bikin wajah rakyat memerah karena bingung.

Dalam tradisi NU, ada prinsip tawazun (keseimbangan). Politik boleh jalan, ekonomi boleh tumbuh, tapi jangan sampai akal sehat dan rasa keadilan tertinggal. Energi hijau itu penting, tapi legitimasi sosial lebih penting lagi. Kalau proyek berjalan tapi rakyat tidak nyaman, itu seperti makan sate tanpa sambal: technically bisa dimakan, tapi ada yang kurang.

Stabilitas politik juga bukan cuma soal tidak ada demo. Stabilitas itu soal kepercayaan. Kalau rakyat merasa diajak bicara, dijelaskan secara jujur, biasanya masalah bisa selesai. Tapi kalau rakyat merasa hanya jadi penonton, maka panas bumi bisa berubah jadi panas opini.

Sebagai ekonom, saya melihat ini sebagai ujian kedewasaan kebijakan publik kita. Apakah kita mampu menjelaskan secara terbuka struktur kepemilikan perusahaan, mekanisme kerja sama, dan batas-batas relasi politiknya? Kalau memang tidak ada hubungan langsung dengan negara Israel, katakan secara terang. Kalau ada keterkaitan, jelaskan juga secara jujur. Kejujuran itu lebih menenangkan daripada klarifikasi setengah-setengah.

Indonesia selama ini dikenal konsisten dalam diplomasi kemanusiaan. Itu modal besar. Jangan sampai modal moral itu tergerus hanya karena kurang komunikasi. Kita ini bangsa yang mudah memaafkan, asal merasa dihargai.

Humor ala Gus Dur selalu mengajarkan bahwa bangsa ini jangan terlalu tegang. Tapi bukan berarti tidak serius. Kita bisa tertawa sambil tetap kritis. Kita bisa mendukung energi hijau sambil tetap menjaga solidaritas terhadap Palestina.

Jangan sampai nanti rakyat berkata, “Kita dukung Palestina di mimbar, tapi bingung di meteran listrik.” Itu bisa jadi bahan stand-up comedy nasional.

Saya percaya Presiden Prabowo punya niat baik membangun ekonomi hijau dan memperkuat ketahanan energi nasional. Itu visi yang strategis. Namun visi besar perlu komunikasi besar pula. Jangan biarkan panas bumi menguapkan kepercayaan rakyat.

Karena dalam negara demokrasi, yang paling berbahaya bukan energi fosil atau energi nuklir, melainkan energi kecurigaan. Kalau itu meledak, tidak ada teknologi yang bisa meredamnya.

Maka mari kita jaga keseimbangan. Energi hijau tetap jalan, solidaritas kemanusiaan tetap tegak, dan kepercayaan publik tetap utuh. Kalau semua bisa diseimbangkan, insyaAllah yang panas hanya bumi, bukan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya.

Penulis : Dosen/Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Menjelang pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Tani Merdeka Indonesia di Jakarta, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Gorontalo menyatakan dukungan penuh dan memastikan kehadiran dalam agenda nasional tersebut. RAPIMNAS Tani Merdeka Indonesia akan digelar di Gedung Kementerian, Jakarta, pada 27–28 Agustus 2025. Forum ini menjadi ajang strategis konsolidasi nasional untuk memperkuat peran petani dalam […]

  • Membentengi Anggaran Makan Bergizi: Ujian Akuntabilitas dan Integritas SPIP

    Membentengi Anggaran Makan Bergizi: Ujian Akuntabilitas dan Integritas SPIP

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Amrullah
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Anggaran publik seharusnya tidak hanya dipahami sebagai deretan angka yang tersusun rapi dalam dokumen resmi negara. Lebih dari itu, anggaran merupakan bentuk nyata dari komitmen pemerintah kepada masyarakat, sekaligus ukuran sejauh mana negara mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Oleh karena itu, ketika anggaran dialokasikan untuk program makan bergizi, persoalannya tidak berhenti pada aspek teknis […]

  • Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

    Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman bagi lahirnya gagasan, perdebatan, dan keberanian berpikir. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berbicara lain. Ruang belajar kita masih dibayangi oleh warisan feodal yang mengekang kebebasan berpikir. Murid dituntut manut, mahasiswa diminta tunduk, sementara guru atau dosen ditempatkan di atas altar otoritas yang tidak boleh dipertanyakan. Ujung-ujungnya, pendidikan gagal […]

  • Mahasiswa KKN Unhas Gelar Edukasi Pelestarian Mangrove di Desa Pajukukang

    Mahasiswa KKN Unhas Gelar Edukasi Pelestarian Mangrove di Desa Pajukukang

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 107
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM–MAROS–Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja Edukasi Pelestarian Mangrove di Aula Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sabtu (1/8). Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya tanaman mangrove dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir. Program ini terlaksana melalui sinergi dengan Balai Riset Perikanan Budidaya Air […]

  • OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP untuk Permudah Akses Pembiayaan Peternak Sapi Perah

    OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP untuk Permudah Akses Pembiayaan Peternak Sapi Perah

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama International Labour Organization (ILO) meluncurkan Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan program akses keuangan inklusif bagi peternak sapi perah di Jawa Timur, Kamis (11/6). Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan formal sekaligus mempercepat digitalisasi sektor peternakan. Peluncuran yang berlangsung di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, […]

  • Melihat yang Tak Terlihat Ala Gus Dur: Catatan tentang Politik, Agama, dan Jaringan Kekuasaan

    Melihat yang Tak Terlihat Ala Gus Dur: Catatan tentang Politik, Agama, dan Jaringan Kekuasaan

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Ada satu kebiasaan intelektual yang menarik dari Abdurrahman Wahid ketika membaca peristiwa politik. Ia tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang tampak di permukaan. Dalam tulisannya “Iran yang Tidak Saya Lihat”, Gus Dur justru memulai dari sebuah pengakuan yang sederhana: ia tidak berada di Iran, tidak menyaksikan langsung gejolak yang sedang berlangsung di sana. […]

expand_less