Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ramadhan dan Semangat Temporal Beribadah

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month 14 jam yang lalu
  • visibility 55
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam kajian sosiologi dan studi budaya, sesuatu (tren, budaya, nilai, atau gaya hidup) yang datang kembali setelah lama pergi akan disambut dengan nostalgia atau perayaan. Teori ini selaras dengan bulan Ramadhan yang merupakan bahagian dari tatanan nilai dan momen suci yang datang kembali setelah lama pergi. Euforia penyambutannya terlihat jelas dari perilaku sosial dan perilaku keagamaan masyarakat yang menampilkan semangat dan intensitas ibadah yang cukup tinggi

Ada satu ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syalabi dan dipopulerkan oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi, yaitu : “Kun Rabbaniyyan Walaa Takun Ramadhaniyyan” (Jadilah engkau hamba Tuhan dan jangan engkau menjadi hamba Ramadhan). Ungkapan ini dimaksudkan agar ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba dimotivasi oleh kepatuhan dan ketundukkannya kepada Sang Pencipta, Pemelihara alam semesta, bukan karena sesuatu atau karena ada momen-momen tertentu.

Ungkapam ini juga dapat dipahami sebagai sebuah komitmen beribadah yang tidak terikat oleh waktu, konsistensi ibadah yang melintasi batas-batas dimensi sekaligus merupakan komitmen diri dalam menjaga kestabilan spiritual dan tingkat kejiwaan yang sempurna. Datangnya sebuah momen yang diyakini memiliki keistimewaan sedikitpun tidak mempengaruhi tinggi rendahnya semangat beribadah. Karena memang perilaku baik ini sudah terbina dan terjaga dalam karakter dan kepribadian.

Ungkapan “Kun Rabbaniyyan Walaa Takun Ramadhaniyyan” ini kemudian menjadi materi kajian yang sangat menarik untuk dielaborasi dalam ruang pemikiran yang lebih luas dan lebih fleksibel sehingga dengan cara berpikir seperti ini akan melahirkan pemahaman yang lebih arif dan bijaksana.

Berikut ini adalah salah satu contoh berpikir di ruang yang sempit : Jika ungkapan “Kun Rabbaniyyan Walaa Takun Ramadhaniyyan” ditarik ke wilayah akidah dengan konsep pemurnian tauhid yang diusung oleh kaum puritaniasme dengan pembahasan yang menggunakan patron tekstual dan kaku, maka kesimpulan yang muncul adalah siapa saja yang beribadah karena Ramadhan, maka dapat dikategorikan sebagai pelaku syirik. Alasannya sederhana, Ramadhan bukan Tuhan. Ramadhan adalah waktu. Sedangkan waktu merupakan salah satu bagian dari ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan adalah makhluk. Kesimpulannya, jika waktu adalah makhluk, berarti beribadah karena Ramadhan adalah beribadah kepada makhluk. Bukankah ini syirik ? Inilah yang disebut permainan logika silogisme di ruang yang sempit.

Oleh Karena itu, agar tidak terperangkap pada pemahaman yang ekstrim, tekstual dan kaku, dibutuhkan pemahaman agama yang moderat. Caranya adalah pemahaman terhadap teks harus dibarengi dengan pemahaman terhadap realitas dan fakta yang telah dipraktikan pada masa Nabi, sahabat dan generasi salafush shalih.

Ada beberapa pertanyaan yang dikaitkan dengan ungkapan “Kun Rabbaniyyan Walaa Takun Ramadhaniyyan” yang terkadang dijadikan sebagai dasar untuk menjustifikasi “penyimpangan” ibadah seseorang karena momen tertentu. Ini pertanyaannya :

  • Apakah Nabi SAW yang dalam banyak riwayat disebutkan lebih bersemangat dan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya di bulan Ramadhan masuk dalam kategori beribadah hanya karena Ramadhan ?
  • Apakah Nabi SAW yang diceritakan lebih dermawan pada bulan Ramadhan yang kedermawanannya melebihi hembusan angin dikategorikan sebagai beribadah karena Ramadhan dan bukan karena Tuhan ?
  • Apakah para Sahabat Nabi yang juga dalam berbagai riwayat disebutkan banyak kali mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan tidak masuk dalam kategori Kun Rabbaniyyan ?
  • Jika semangat beribadah temporal pada bulan Ramadhan dipahami sebagai sesuatu yang mengurangi atau bahkan menghilangkan kualitas ibadah, maka apakah sikap yang diperlihatkan oleh Nabi SAW, para Sahabat dan para Salafush Shalih yang memberi perlakuan khusus terhadap Ramadhan adalah sebuah kesalahan ?
    Sudah pasti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah TIDAK.

Jika demikian, ungkapan ini dipahami tidak lebih dari sekedar upaya untuk mengarahkan seseorang pada niat yang ikhlas dalam beribadah kepada Tuhan dengan memanfaatkan momen Ramadhan yang istimewa.

Oleh karena itu, meskipun tingginya semangat hanya hadir di saat Ramadhan yang melahirkan istilah “semangat temporal”, semangat yang akan redup ketika momen Ramadhan berlalu, namun semangat seperti ini bukanlah suatu kesalahan apalagi kesyirikan

#OriginalIdea
#NoAI

Gorontalo, 03 Ramadhan 1447 H / 21 Februari 2026 M

Penulis : Pemerhati Sosial Keagamaan

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menjelaskan bahwa kuota penerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) pada tahun 2025 mengalami penyesuaian signifikan. Kebijakan ini diambil sebagai imbas dari efisiensi anggaran yang harus diterapkan oleh seluruh pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hal ini disampaikan Wagub Idah saat menyerahkan bantuan BLP3G di dua kecamatan […]

  • Cicil Emas Tanpa Cemas, Kanwil IX Ajak Masyarakat Nikmati Momen Emas Bersama Pegadaian

    Cicil Emas Tanpa Cemas, Kanwil IX Ajak Masyarakat Nikmati Momen Emas Bersama Pegadaian

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 51
    • 0Komentar

    PT Pegadaian terus menghadirkan inovasi layanan keuangan yang memudahkan masyarakat dalam berinvestasi emas. Melalui program Promo Cicilan Emas Pegadaian, masyarakat kini dapat menikmati kemudahan bertransaksi cicil emas dengan lebih hemat, aman, dan praktis melalui aplikasi digital Pegadaian. Promo dengan kode SERUMULIA15 memberikan keuntungan berupa potongan uang muka sebesar Rp 15 ribu per gram dengan maksimal […]

  • KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat Play Button

    KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 231
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi mendoakan orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia kembali ditegaskan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Muhyiddin Zeny dalam pengajian rutin yang disiarkan melalui Nutizen TV. Dalam kajiannya, KH Muhyiddin Zeny menjelaskan bahwa amal kebaikan orang yang masih hidup dapat disampaikan pahalanya kepada orang yang telah wafat, […]

  • KPK Ingatkan Bahaya Korupsi Dini, Pelaku Termuda Tercatat Berusia 24 Tahun

    KPK Ingatkan Bahaya Korupsi Dini, Pelaku Termuda Tercatat Berusia 24 Tahun

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 61
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan bahwa praktik korupsi tidak lagi hanya melibatkan elite, tetapi mulai menyasar generasi muda. KPK bahkan mencatat pelaku tindak pidana korupsi termuda berusia 24 tahun, sebuah kondisi yang dinilai sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Peringatan tersebut disampaikan Wakil Ketua KPK Agus […]

  • Transmigrasi Patriot Didatangkan dari Jawa: Pengakuan Gagalnya Pendidikan di Mamuju?

    Transmigrasi Patriot Didatangkan dari Jawa: Pengakuan Gagalnya Pendidikan di Mamuju?

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Misbahuddin Yamin
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Program Transmigrasi Patriot yang digagas Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanegara dengan mengirim mahasiswa dari tujuh kampus elite seperti UI, UGM, ITB, IPB, ITS, Unpad, dan Undip ke Mamuju, secara sekilas tampak progresif. Narasi yang dibangun adalah kolaborasi, sinergi, dan pembangunan ekonomi inklusif. Namun, jika dibaca secara lebih jernih dan struktural, kebijakan ini menyimpan persoalan […]

  • Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Nulondalo.com –  Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan pembangunan Gorontalo Islamic Centre bertujuan mendorong pertumbuhan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga kemasyarakatan. Gusnar mengatakan, pembangunan berskala besar tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan ruang wilayah Kota Gorontalo agar tidak semakin padat. “Yang terpenting dalam pembangunan ini adalah pengembangan wilayah agar bisa tumbuh lebih […]

expand_less