Setan Diikat, Fraud Berlanjut?
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 253
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Konon, setiap Ramadhan setan-setan dibelenggu. Informasi ini begitu populer, bahkan lebih populer daripada promo diskon sirup menjelang buka puasa. Tapi pertanyaannya, kalau setan sudah diikat, kenapa praktik fraud masih saja merajalela? Apakah setannya lolos dari sistem pengendalian internal? Atau jangan-jangan, yang perlu diaudit bukan setan, tapi niat dan sistem kita?
Dalam tradisi pesantren ala Nahdlatul Ulama, kita diajari bahwa Ramadhan adalah madrasah ruhaniyah. Namun, sebagai akademisi akuntansi, saya kadang bertanya dengan gaya nyentrik: kalau Ramadhan adalah madrasah, mengapa laporan keuangan masih penuh “catatan kaki yang misterius”? Mengapa ada selisih yang tidak hanya beda angka, tapi juga beda akhlak?
Fraud, dalam literatur akuntansi modern, sering dijelaskan lewat Fraud Triangle: pressure, opportunity, dan rationalization. Tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Tiga serangkai ini lebih kompak dari panitia takjil dadakan. Tapi dalam konteks Ramadhan, harusnya satu elemen penting bertambah: taqwa. Kalau taqwa hadir, mestinya segitiga itu berubah jadi segi empat yang stabil, bukan segitiga yang licin.
Di sinilah saya teringat gaya humor khas Gus Dur yang pernah mengingatkan bahwa lebih berbahaya dari orang pintar adalah orang pintar yang tidak jujur. Dalam bahasa akuntansi, ini bukan lagi sekadar salah saji, tapi salah niat. Setan boleh diikat, tapi kalau kreativitas manipulasi tetap jalan, jangan-jangan kita sedang menyalahkan makhluk yang sedang cuti tahunan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar