Going Concern Ibadah
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- visibility 180
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam dunia akuntansi, ada satu asumsi yang membuat laporan keuangan bisa tidur nyenyak setiap akhir tahun: going concern. Artinya, entitas diasumsikan akan terus berlanjut usahanya, tidak bangkrut besok pagi, dan tidak bubar jalan setelah RUPS bubar. Nah, dalam konteks Ramadhan, saya kira kita juga perlu satu asumsi serupa: going concern ibadah. Jangan sampai ibadah kita hanya berstatus proyek musiman—aktif saat Ramadhan, lalu “likuidasi” selepas takbir berkumandang.
Ramadhan sering kali mirip laporan keuangan interim. Semua tampak rapi, saldo amal meningkat drastis, grafik sedekah menanjak, dan beban dosa ditekan serendah mungkin. Masjid penuh seperti initial public offering (IPO) pahala. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di saf depan, tiba-tiba sudah booking tempat sejak rakaat pertama. Ini bukan sindiran, ini fenomena audit sosial.
Namun, sebagaimana auditor memberi opini atas keberlangsungan usaha, kita juga perlu bertanya: apakah ibadah kita memiliki sustainability? Atau jangan-jangan setelah Ramadhan, neraca amal kembali defisit, arus kas spiritual minus, dan laba takwa tinggal catatan kaki?
Humor ala Nahdlatul Ulama mengajarkan kita satu hal: jangan terlalu tegang dalam beragama, tapi juga jangan kendor dalam komitmen. Konon, ada jamaah yang begitu semangat tarawih di malam pertama, sampai membaca doa qunut di setiap rakaat—karena takut stok doa tidak cukup sampai malam ke-30. Semangatnya luar biasa, hanya saja manajemen ritmenya perlu pembinaan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar