Going Concern Ibadah
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam dunia akuntansi, ada satu asumsi yang membuat laporan keuangan bisa tidur nyenyak setiap akhir tahun: going concern. Artinya, entitas diasumsikan akan terus berlanjut usahanya, tidak bangkrut besok pagi, dan tidak bubar jalan setelah RUPS bubar. Nah, dalam konteks Ramadhan, saya kira kita juga perlu satu asumsi serupa: going concern ibadah. Jangan sampai ibadah kita hanya berstatus proyek musiman—aktif saat Ramadhan, lalu “likuidasi” selepas takbir berkumandang.
Ramadhan sering kali mirip laporan keuangan interim. Semua tampak rapi, saldo amal meningkat drastis, grafik sedekah menanjak, dan beban dosa ditekan serendah mungkin. Masjid penuh seperti initial public offering (IPO) pahala. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di saf depan, tiba-tiba sudah booking tempat sejak rakaat pertama. Ini bukan sindiran, ini fenomena audit sosial.
Namun, sebagaimana auditor memberi opini atas keberlangsungan usaha, kita juga perlu bertanya: apakah ibadah kita memiliki sustainability? Atau jangan-jangan setelah Ramadhan, neraca amal kembali defisit, arus kas spiritual minus, dan laba takwa tinggal catatan kaki?
Humor ala Nahdlatul Ulama mengajarkan kita satu hal: jangan terlalu tegang dalam beragama, tapi juga jangan kendor dalam komitmen. Konon, ada jamaah yang begitu semangat tarawih di malam pertama, sampai membaca doa qunut di setiap rakaat—karena takut stok doa tidak cukup sampai malam ke-30. Semangatnya luar biasa, hanya saja manajemen ritmenya perlu pembinaan.
Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah memberi teladan bahwa humor adalah cara cerdas untuk menegur tanpa melukai. Kalau beliau masih bersama kita, mungkin beliau akan berkata, “Kalau iman cuma kuat di bulan Ramadhan, berarti dia kontrak bulanan, bukan pegawai tetap.” Kita tertawa, tapi dalam hati mengangguk pelan.
Dalam akuntansi, asumsi going concern diuji dengan indikator: arus kas, kemampuan membayar utang, dan prospek usaha. Dalam ibadah, indikatornya adalah konsistensi salat setelah Ramadhan, keberlanjutan sedekah, serta akhlak yang tetap teduh walau diskon sudah tidak ada. Jangan sampai kita rajin tadarus 30 juz, tapi 30 hari setelahnya kembali sibuk membaca komentar netizen dengan nada tinggi.
Ramadhan sejatinya adalah training camp ruhani. Ia bukan tujuan akhir, melainkan fase akselerasi. Di pesantren-pesantren NU, para kiai sering mengingatkan bahwa yang dicari bukanlah “Ramadhan yang ramai”, tetapi “pasca-Ramadhan yang istiqamah”. Sebab ukuran keberhasilan puasa bukan hanya pada jumlah takjil yang dibagikan, melainkan pada pengendalian diri yang dipertahankan.
Dalam perspektif akuntansi, kita mengenal prinsip matching: pendapatan harus dipertemukan dengan beban dalam periode yang sama. Dalam ibadah, pahala Ramadhan seharusnya dipertemukan dengan komitmen sebelas bulan berikutnya. Jangan sampai pendapatan pahala besar di bulan suci, tapi beban kemalasan menumpuk di bulan Syawal.
Kita juga mengenal istilah impairment, penurunan nilai aset. Dalam konteks spiritual, aset terbesar adalah hati. Jika setelah Ramadhan hati kembali keras, mudah marah, dan sulit memaafkan, mungkin telah terjadi impairment loss pada aset takwa. Dan sayangnya, standar akuntansi belum menyediakan jurnal pembalik otomatis untuk itu.
Humor ala Gus Dur selalu menyentil tanpa menyakiti. Maka izinkan saya menyentil diri sendiri terlebih dahulu. Kadang kita ini seperti perusahaan yang rajin membuat laporan keberlanjutan (sustainability report), tapi praktiknya masih tambal sulam. Media sosial penuh unggahan ibadah, tetapi tetangga sebelah rumah belum tentu merasakan dampaknya. Padahal dalam tradisi NU, ibadah itu membumi—hablum minallah kuat, hablum minannas hangat.
Ramadhan mengajarkan disiplin waktu: sahur tepat, berbuka tepat, tarawih teratur. Ini sebenarnya latihan tata kelola (good governance) pribadi. Jika selama 30 hari kita mampu menahan lapar dan amarah, mestinya setelah itu kita juga mampu menahan diri dari korupsi kecil-kecilan—baik korupsi waktu, amanah, maupun kejujuran. Sebab going concern ibadah tak mungkin bertahan tanpa integritas.
Akhirnya, mari kita jadikan Ramadhan sebagai audit internal tahunan. Jika ada temuan, perbaiki. Jika ada kelemahan, tingkatkan. Dan yang paling penting, pertahankan asumsi bahwa ibadah ini akan terus berjalan sampai akhir hayat. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita mengajukan “permohonan pailit spiritual”.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan sekadar menyusun laporan laba rugi duniawi, tetapi menyiapkan laporan pertanggungjawaban ukhrawi. Dan semoga ketika malaikat menjadi auditor terakhir kita, mereka bisa memberi opini: Wajar Tanpa Pengecualian atas Going Concern Ibadahnya.
Kalau belum sampai ke sana, minimal jangan sampai dapat opini: Disclaimer karena kurang bukti amal berkelanjutan.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar