Going Concern Ibadah
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- visibility 181
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Humor ala Gus Dur selalu menyentil tanpa menyakiti. Maka izinkan saya menyentil diri sendiri terlebih dahulu. Kadang kita ini seperti perusahaan yang rajin membuat laporan keberlanjutan (sustainability report), tapi praktiknya masih tambal sulam. Media sosial penuh unggahan ibadah, tetapi tetangga sebelah rumah belum tentu merasakan dampaknya. Padahal dalam tradisi NU, ibadah itu membumi—hablum minallah kuat, hablum minannas hangat.
Ramadhan mengajarkan disiplin waktu: sahur tepat, berbuka tepat, tarawih teratur. Ini sebenarnya latihan tata kelola (good governance) pribadi. Jika selama 30 hari kita mampu menahan lapar dan amarah, mestinya setelah itu kita juga mampu menahan diri dari korupsi kecil-kecilan—baik korupsi waktu, amanah, maupun kejujuran. Sebab going concern ibadah tak mungkin bertahan tanpa integritas.
Akhirnya, mari kita jadikan Ramadhan sebagai audit internal tahunan. Jika ada temuan, perbaiki. Jika ada kelemahan, tingkatkan. Dan yang paling penting, pertahankan asumsi bahwa ibadah ini akan terus berjalan sampai akhir hayat. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita mengajukan “permohonan pailit spiritual”.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan sekadar menyusun laporan laba rugi duniawi, tetapi menyiapkan laporan pertanggungjawaban ukhrawi. Dan semoga ketika malaikat menjadi auditor terakhir kita, mereka bisa memberi opini: Wajar Tanpa Pengecualian atas Going Concern Ibadahnya.
Kalau belum sampai ke sana, minimal jangan sampai dapat opini: Disclaimer karena kurang bukti amal berkelanjutan.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar