Breaking News
light_mode
Trending Tags

Iran Tunjuk Ayatollah Alireza Arafi Jadi Anggota Dewan Kepemimpinan Sementara Pasca Kematian Khamenei

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 133
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com –  Pemerintah Iran secara resmi menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota Dewan Kepemimpinan sementara negara itu, sehari setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang menghantam ibu kota Teheran.

Penunjukan Arafi diumumkan oleh juru bicara Majelis Penelaahan Kepentingan (Expediency Discernment Council), Mohsen Dehnavi, melalui sebuah unggahan di platform X pada Minggu (1/3/2026). Arafi dipilih sebagai perwakilan ulama dalam dewan sementara yang dibentuk berdasarkan ketentuan konstitusi Iran setelah kekosongan kekuasaan di posisi pemimpin tertinggi.

Dewan Kepemimpinan sementara akan dipimpin secara kolektif sampai Majelis Ahli (Assembly of Experts) memilih pengganti tetap bagi pemimpin tertinggi. Selain Arafi, dua anggota dewan tersebut adalah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, serta Ketua Mahkamah Agung, Gholamhossein Mohseni Ejei.

Arafi, yang juga merupakan anggota Dewan Penjaga (Guardian Council), dipandang sebagai tokoh senior di jajaran ulama dan birokrasi negara, memiliki pengalaman panjang dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.

Pembentukan Dewan Kepemimpinan sementara ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan regional setelah serangan udara yang menewaskan Khamenei, peristiwa yang telah mengguncang struktur politik dan stabilitas keamanan di kawasan.

Proses pemilihan pemimpin tertinggi baru akan dilanjutkan oleh Majelis Ahli, sebuah badan yang bertanggung jawab memilih figur tertinggi negara sesuai konstitusi Iran, meskipun mekanisme dan waktunya belum diumumkan secara resmi.

Sebelumnya, Netanyahu mengatakan ada “banyak tanda” yang menunjukkan bahwa kompleks kediaman dan markas besar Khamenei di Teheran hancur dan bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu kemungkinan tewas bersama sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya.

Presiden AS, Donald Trump, juga menyampaikan klaim serupa. Ia menyebut kematian Khamenei sebagai bentuk “keadilan” terhadap sosok yang selama ini dituduh sejumlah pihak sebagai aktor penting di balik berbagai konflik regional.

Dilansir dari Al Jazeera, media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kabar tersebut pada dini hari Minggu. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Khamenei wafat dalam serangan gabungan AS–Israel yang menghantam kompleksnya pada Sabtu pagi.

“Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Grand Ayatollah Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah menjadi syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari,” demikian laporan Tasnim. Media pemerintah Iran juga menyebutkan bahwa putri, menantu, dan cucu Khamenei turut menjadi korban.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Khamenei dan sejumlah pejabat Iran “tidak bisa lolos dari intelijen AS dan sistem pelacakan canggih.”

Khamenei memegang tampuk kepemimpinan Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh revolusi Islam yang menggulingkan monarki Dinasti Pahlavi satu dekade sebelumnya.

Jika Khomeini dikenal sebagai kekuatan ideologis di balik Revolusi Islam, Khamenei dinilai sebagai figur yang membentuk dan memperkuat aparatus militer serta paramiliter Iran. Struktur tersebut tidak hanya memperkuat pertahanan negara, tetapi juga memperluas pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat sebagai presiden Iran dan memimpin negara itu dalam perang panjang melawan Irak pada dekade 1980-an. Konflik berdarah tersebut, ditambah dukungan sejumlah negara Barat kepada Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat, sebagaimana dinilai sejumlah analis.

Perkembangan situasi di kawasan masih dinamis dan berpotensi memicu eskalasi lebih luas, mengingat posisi strategis Iran dalam geopolitik Timur Tengah.

  • Penulis: Tim Redaksi
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Lomba Da’i Cilik turut memeriahkan rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo yang dilaksanakan di Kantor PWNU Gorontalo, Rabu (29/10/2025). Penanggung jawab kegiatan, Indrawan Modanggu, menyampaikan bahwa lomba Da’i Cilik ini bertujuan untuk menumbuhkan potensi generasi muda sejak dini, khususnya anak-anak di bawah usia 10 tahun, agar semakin mengenal nilai-nilai Islam dan ekonomi syariah. “PWNU […]

  • Aksi Teror Menimpa Wartawan di Tanjungbalai, Mobil Diduga Dibakar OTK

    Aksi Teror Menimpa Wartawan di Tanjungbalai, Mobil Diduga Dibakar OTK

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Aksi teror diduga menimpa seorang wartawan media online di Kota Tanjungbalai. Mobil milik korban diduga dibakar oleh orang tak dikenal (OTK) di depan rumahnya pada Kamis malam (29/1/2026). Beruntung, api berhasil dipadamkan dengan cepat berkat bantuan warga sekitar sehingga tidak sempat merambat dan menyebabkan kerusakan lebih parah. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa […]

  • 500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi. Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan […]

  • Ilusi Kesejahteraan di Daerah: Mengapa Dana Transfer Daerah Belum Menyentuh Akar Masalah?

    Ilusi Kesejahteraan di Daerah: Mengapa Dana Transfer Daerah Belum Menyentuh Akar Masalah?

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Thahira Azzahra
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Triliunan rupiah terus dialirkan dari pemerintah pusat ke daerah setiap tahunnya melalui skema Dana Transfer Daerah. Di sisi lain, realitas yang tampak di sekitar kita justru memperlihatkan kondisi jalan yang rusak, fasilitas kesehatan yang kurang terawat, serta angka kemiskinan yang berjalan tanpa banyak perubahan. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana dana tersebut benar-benar dirasakan […]

  • Pemkab Bone Bolango Galang Dana untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatera

    Pemkab Bone Bolango Galang Dana untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 210
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aksi solidaritas dan kepedulian terhadap korban bencana di Aceh dan Sumatera ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Bone Bolango. Melalui penggalangan dana yang melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) serta aparatur pemerintah desa, Pemkab Bone Bolango berhasil menghimpun bantuan kemanusiaan pada apel kerja perdana tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Alun-Alun Bone Bolango, Jumat (2/1/2026). Aksi […]

  • KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

    KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Moh. Rodney Neu
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Barangkali tidak semua orang mengenal sosok ulama masyhur Gorontalo yang satu ini. Namun di kalangan para santri, guru agama, dan tokoh masyarakat, nama KH. Adam Zakaria dikenang sebagai ulama yang tak pernah berhenti belajar, mengajar, dan berkhidmat untuk Islam. Ia adalah cerminan nyata dari kegigihan menuntut ilmu, meski tanpa pernah mencicipi pendidikan formal di pesantren. […]

expand_less