Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 54
- print Cetak

Ilustrasi udara Selat Hormuz yang memperlihatkan lalu lintas kapal tanker minyak dan LNG melintasi jalur sempit penghubung Teluk Persia dan Laut Arab. Perairan strategis ini menjadi salah satu rute ekspor energi terpenting dunia, dengan sekitar seperlima perdagangan LNG global melewati kawasan tersebut.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Perdagangan gas alam cair (LNG) global mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya konflik di Timur Tengah, dengan jalur vital Selat Hormuz praktis terhenti. Situasi ini memicu kekhawatiran krisis energi baru, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari Teluk.
Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah tanker LNG menghentikan perjalanan dari dan menuju Qatar guna menghindari Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi lintasan sekitar 20 persen ekspor LNG dunia. Setidaknya 11 kapal dilaporkan menunda pelayaran dalam beberapa hari terakhir.
Qatar, eksportir LNG terbesar kedua dunia, memasok lebih dari 80 persen produksinya ke pasar Asia. China menjadi pembeli terbesar LNG Qatar, disusul India dan Jepang. Para importir di kawasan tersebut kini menghubungi pemasok lain untuk mencari alternatif pasokan di tengah ketidakpastian pengiriman.
Gangguan ini berpotensi mendorong lonjakan harga gas global. Kontrak LNG jangka panjang di Asia umumnya dikaitkan dengan harga minyak mentah Brent, sehingga kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik akan turut mengerek harga gas bagi konsumen.
Analis energi memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut dan jalur pelayaran tetap terganggu, risiko pemotongan produksi LNG dapat meningkat. Produksi LNG membutuhkan arus ekspor yang stabil; gangguan berkepanjangan dapat memaksa fasilitas produksi mengurangi output.
Eropa dinilai relatif lebih siap karena memiliki cadangan gas, namun tetap berisiko terdampak jika pengalihan pasokan lebih banyak diarahkan ke Asia. Sementara itu, negara-negara seperti Turki dan Mesir juga menghadapi tekanan tambahan akibat ketergantungan pada pasokan gas dari kawasan yang kini tidak stabil.
Kondisi ini mengingatkan pasar pada gejolak energi 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga gas ke level tertinggi dalam sejarah di Eropa dan berbagai belahan dunia.
Pelaku pasar kini memantau ketat perkembangan keamanan di Selat Hormuz dan kebijakan eksportir utama di Teluk. Jika ketegangan tidak segera mereda, Asia berpotensi menghadapi tekanan pasokan dan kenaikan biaya energi yang signifikan dalam waktu dekat.
Data Harga Energi Terbaru
-
Harga LNG Asia: Pada akhir 2025, harga LNG spot untuk pasar Asia tercatat turun tipis di sekitar USD 10,60 per MMBtu meskipun permintaan tetap kuat di region lain, seiring bertambahnya pasokan dari Amerika Serikat.
-
Harga Gas Global: Laporan gas global menunjukkan rata-rata harga LNG Asia (Platts JKM) bergerak dalam kisaran USD 9–11/MMBtu pada akhir 2025, meskipun potensi gangguan pasokan bisa mendorong harga naik di masa depan.
-
Harga Minyak Dunia: Konflik juga mendorong harga minyak naik, dengan Brent diperkirakan bisa menyentuh USD 100–120 per barel jika eskalasi berkepanjangan
Dampak ke Indonesia
Indonesia sebagai negara importir energi masih merasakan gejolak harga global:
-
Kenaikan harga minyak dunia secara tidak langsung menekan biaya energi domestik dan berpotensi mendorong inflasi harga BBM serta energi transportasi. Data menunjukkan harga minyak Brent sudah berada di kisaran USD 70–73 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi jika konflik memburuk.
-
Biaya logistik energi naik hingga potensi ±12 %, yang bisa memicu kenaikan harga barang dan biaya produksi di Indonesia karena nilai impor energi yang besar terkait biaya distribusi global.
-
Ketergantungan Indonesia terhadap sumber LNG domestik dan impor membuat pasar energi lokal rawan terhadap gejolak global, terutama jika harga LNG benchmark dunia terus naik. Menurut data historis, harga LNG di pasar Indonesia biasanya berada dalam kisaran USD 9–14/MMBtu dalam beberapa tahun terakhir.
Analisis Pasar Energi Global
Para analis pasar energi global mencatat bahwa konflik Timur Tengah memperkuat volatilitas harga energi yang pernah terjadi pada krisis energi 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Harga LNG dan gas alam di berbagai pasar dunia diketahui sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik serta aliran ekspor global:
-
Ketidakpastian pasokan karena risiko Selat Hormuz dapat mendorong harga LNG dan gas alam ke level yang lebih tinggi, terutama jika jalur perdagangan utama terganggu.
-
Sementara itu, tekanan harga juga datang dari permintaan kuat di Eropa yang meningkatkan impor LNG dan cadangan yang relatif rendah di sejumlah negara produsen energi.
-
Di sisi lain, pertumbuhan pasokan dari Amerika Serikat membantu menstabilkan pasar jangka pendek, namun ketegangan geopolitik bisa membalik tren tersebut secara cepat jika konflik berkepanjangan.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar