Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital
- account_circle Julkifli Gadeang
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak

Julkifli Gadeang : Pegiat Literasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Julkifli Gadeang
Hari ini, sebuah persoalan tidak perlu benar-benar penting untuk menjadi perhatian publik. Ia hanya perlu viral. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai upaya menghakimi dinamika ruang digital yang terus berkembang, melainkan sebagai refleksi kritis atas perubahan cara masyarakat membangun dan memahami opini publik di era teknologi informasi. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, opini ini berupaya menawarkan sudut pandang alternatif mengenai bagaimana viralitas bekerja bukan sekadar sebagai fenomena komunikasi, tetapi sebagai kekuatan yang secara perlahan membentuk kesadaran kolektif masyarakat.
Refleksi ini menjadi penting, terutama ketika ruang digital semakin menentukan arah perhatian publik, mempengaruhi diskursus sosial, bahkan berkontribusi terhadap respons kebijakan. Dalam konteks tersebut, tulisan ini mengajak pembaca untuk melihat kembali relasi atau hubungan antara teknologi, informasi, dan nalar publik khususnya dalam peran generasi muda sebagai aktor utama ekosistem digital kontemporer.
Dalam lanskap digital kontemporer, arah percakapan masyarakat sering kali tidak ditentukan oleh substansi persoalan, melainkan oleh seberapa cepat sebuah isu menyebar di media sosial. Fenomena ini memperlihatkan perubahan mendasar dalam cara opini publik terbentuk. Perhatian kolektif masyarakat tidak lagi bergerak berdasarkan urgensi kepentingan publik, tetapi mengikuti logika algoritma dan popularitas digital.
Kita hidup dalam situasi ketika viralitas mampu mengangkat isu remeh menjadi agenda nasional, sementara persoalan struktural yang menyangkut hajat hidup masyarakat justru tenggelam karena gagal menarik perhatian ruang digital. Dengan kata lain, ruang publik hari ini semakin dikendalikan oleh ekonomi perhatian (attention economy), di mana visibilitas lebih menentukan dibanding validitas.
Pemikir media, Marshall McLuhan sarjana sastra dan teoretikus media asal Kanada Pemikirannya tentang “Teknologi Komunikasi” sebagai “Perpanjangan Manusia” dan semboyannya “the medium is the message” yaitu membentuk cara baru memahami hubungan antara media, persepsi, dan budaya di era elektronik. Sejak lama ia menegaskan bahwa media bukan sekadar saluran komunikasi, melainkan kekuatan yang membentuk cara manusia memahami realitas. Dalam konteks media sosial, pernyataan tersebut menemukan relevansinya. Bahwa algoritma digital tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menentukan realitas mana yang dianggap penting oleh masyarakat.
Apa yang terus muncul di lini masa perlahan diterima sebagai kenyataan sosial. Repetisi informasi menciptakan kesan kebenaran, meskipun belum tentu didasarkan pada fakta yang utuh. Di sinilah viralitas bekerja sebagai mekanisme baru dalam produksi opini publik.
Situasi ini menandai pergeseran fungsi ruang publik sebagaimana dibayangkan oleh Jurgen Habermas seorang filsuf dan sosiolog asal Jerman melalui karyanya “The Structural Transformation of the Public Sphere” atau Transformasi Struktural Ranah Publik. Bahwa ruang publik idealnya menjadi arena dialog rasional tempat masyarakat mempertimbangkan kepentingan bersama melalui argumentasi kritis. Namun ruang digital justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya, yaitu diskursus publik digerakkan oleh emosi, kecepatan, dan sensasi.
Isu yang memancing kemarahan atau simpati lebih mudah memperoleh legitimasi sosial dibanding pembahasan kebijakan yang membutuhkan analisis mendalam. Akibatnya, opini publik semakin rentan dibentuk oleh persepsi sesaat, bukan pertimbangan rasional.
Dominasi viralitas juga menunjukkan bahwa kekuasaan di era digital tidak lagi semata berada pada institusi politik atau media arus utama. Seperti dijelaskan oleh Manuel Castells seorang sosiolog dan ilmuwan komunikasi asal Katalonia (Spanyol) melalui karyanya tentang “Hubungan Antara Teknologi Informasi, Ruang Perkotaan, dan Kekuasaan Sosial”. bahwa masyarakat modern telah memasuki fase network society atau masyarakat jaringan, di mana kekuasaan bekerja melalui jaringan informasi. Dalam struktur ini, siapa pun yang mampu mengendalikan arus perhatian publik memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran sosial.
Masalahnya, generasi muda sebagai kelompok paling aktif di ruang digital sering kali tanpa sadar menjadi agen reproduksi viralitas tersebut. Aktivitas membagikan informasi kerap didorong oleh respons emosional, bukan refleksi kritis. Tombol share menjadi lebih cepat ditekan dibanding proses verifikasi.
Di titik inilah dominasi viralitas menemukan momentumnya. Opini publik tidak lagi terbentuk melalui proses pertimbangan kolektif yang matang, tetapi melalui akumulasi respons spontan jutaan pengguna digital. Realitas sosial kemudian dikonstruksi secara masif melalui interaksi digital yang berlangsung hampir tanpa jeda.
Pandangan ini sejalan dengan teori konstruksi sosial realitas dari Peter L. Berger seorang sosiolog dan teolog Protestan kelahiran Wina (Austria) bersama Thomas Luckmann sosiolog asal Slovenia (Jerman) melalui Karya “The Social Construction of Reality” yang menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses produksi dan reproduksi makna. Dalam ruang digital, proses konstruksi tersebut berlangsung dengan kecepatan eksponensial atau pola perubahan sosial. Viralitas mempercepat transformasi opini menjadi “kebenaran sosial” meskipun fondasinya belum tentu kokoh.
Di sinilah persoalan mendasar muncul. Ketika viralitas menjadi standar utama perhatian publik, maka batas antara kepentingan publik dan kepentingan popularitas menjadi kabur. Masyarakat merasa terlibat dalam isu sosial, padahal sering kali hanya mengikuti arus percakapan yang telah diarahkan oleh logika algoritmik.
Karena itu, tantangan generasi muda di era digital bukan sekadar kemampuan menguasai teknologi, melainkan kemampuan menjaga otonomi berpikir di tengah banjir informasi. Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kecakapan teknis, tetapi harus berkembang menjadi kesadaran kritis terhadap bagaimana opini publik dibentuk.
Ruang digital seharusnya tidak berhenti sebagai arena sensasi kolektif. Ia dapat menjadi ruang edukasi, advokasi sosial, dan perjuangan gagasan apabila digunakan secara reflektif. Viralitas, dalam hal ini, perlu diarahkan bukan untuk mengejar perhatian sesaat, tetapi untuk memperkuat isu-isu yang benar-benar merepresentasikan kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi generasi muda bukan lagi bagaimana menjadi bagian dari tren digital, melainkan bagaimana memastikan bahwa arus informasi tidak menggantikan nalar publik. Sebab masa depan demokrasi digital tidak ditentukan oleh seberapa banyak suara yang terdengar, tetapi oleh kualitas kesadaran di balik suara tersebut.
Di tengah dominasi viralitas, menjaga rasionalitas menjadi bentuk tanggung jawab sosial baru. Tanpa itu, ruang digital berisiko berubah dari ruang deliberasi publik yang menjadi sekadar panggung popularitas informasi. Dan ketika viralitas sepenuhnya menentukan opini publik, maka yang paling berbahaya bukanlah informasi yang salah, melainkan hilangnya kemampuan masyarakat untuk membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar ramai diperbincangkan.
- Penulis: Julkifli Gadeang
- Editor: Risman Lutfi

Saat ini belum ada komentar