Investasi Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
- visibility 183
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di bulan Ramadhan, manusia mendadak berubah menjadi “analis investasi spiritual.” Yang biasanya sibuk menghitung cicilan motor, tiba-tiba rajin menghitung pahala. Bahkan ada yang sudah seperti akuntan publik: setiap amal dicatat, setiap sedekah dihitung, setiap tarawih dianggap sebagai “portofolio akhirat.”
Kalau di dunia bisnis kita mengenal investasi saham, obligasi, atau deposito, maka Ramadhan sebenarnya mengajarkan satu jenis investasi yang jauh lebih menarik: investasi langit. Modalnya kecil, risikonya rendah, return-nya tidak masuk akal menurut standar ekonomi konvensional.
Coba kita bayangkan kalau pahala Ramadhan dipresentasikan dalam laporan keuangan.
Dalam akuntansi, kita mengenal konsep return on investment (ROI). Orang menaruh uang Rp1 juta, berharap kembali Rp1,1 juta atau lebih. Tetapi dalam logika Ramadhan, ROI-nya jauh lebih spektakuler. Satu amal baik dilipatgandakan hingga sepuluh kali, bahkan tujuh ratus kali lipat.
Secara akuntansi konvensional, model seperti ini pasti ditolak auditor.
Bayangkan seorang auditor bertanya: “Bagaimana bisa investasi Rp10.000 menghasilkan pahala setara Rp7 juta?”
Jawaban Ramadhan sederhana: Ini bukan pasar modal, ini pasar amal.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar