Lebaran Dua Versi
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Ilustrasi suasana silaturahmi Idul Fitri di rumah seorang kyai, saat para santri berkumpul, menikmati hidangan lebaran, dan berdiskusi santai tentang perbedaan penetapan hari raya dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, para santri menyempatkan diri berkumpul di rumah Kyai Saleh setelah Salat Ied.
Segala jenis makanan khas Sulawesi Selatan terhidang rapi, menggoda selera. Ada barongko, kue cucur, pisang goreng, dan aneka lontong yang harum. Suasana hangat dan riuh rendah percakapan memenuhi ruang tamu, tapi tetap penuh tertib.
Satu per satu, para santri sungkem, menciumi tangan sang Kyai. Tanpa menunggu komando, Tesa segera menghampiri meja makan dan mengambil beberapa jenis makanan yang telah tersedia. Yusran, Ale, Ais, dan santri lainnya ikut berkerumun. Kyai Saleh tersenyum melihat tingkah para santrinya, lalu perlahan menyeruput kopi yang masih panas.
“Pelan-pelanko, cukup ji ini,” tegur Sampara kepada rekan-rekannya, yang mulai memperlihatkan tanda-tanda berebutan.
Tesa duduk kembali setelah menumpuk beberapa makanan di piringnya.
“Tidak bisakah memang kira-kira bersatu itu orang lebaran, Kyai?” tanyanya tiba-tiba.
Kyai Saleh mengangkat dagu, menatap Tesa dengan tatapan tenang.
“Kenapa tanya begitu, Tesa?”
“Di medsos ramai, Kyai. Katanya potensi beberapa kali beda puasa dan lebaran dalam sepuluh tahun ke depan.”
“Iya, Kyai. Mulaimi lagi ramai di medsos. Ada ketua MUI keluarkan pernyataan haram mengumumkan 1 Syawal selain pemerintah. Bagaimana itu, Kyai?” Yusran ikut bertanya.
“Bukannya hal-hal seperti ini sudah beberapa kali kita lewati?” Kyai Saleh terlihat enggan memberi jawaban pasti.
“Tidak ada masalah kan?”
“Itulah maksud saya, Kyai. Apa memang tidak ada sama sekali peluang tidak berbeda?”
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar