Israel Serang Jembatan Strategis di Lebanon, Dikhawatirkan Jadi Awal Invasi Darat
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 69
- print Cetak

jembatan strategis yang hancur akibat serangan udara, menggambarkan eskalasi konflik dan dampaknya terhadap infrastruktur vital serta konektivitas wilayah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Pasukan Israel menyerang Jembatan Qasmiyeh pada Minggu, sebuah jalur vital yang menghubungkan wilayah selatan Lebanon dengan bagian lain negara itu, dalam eskalasi terbaru konflik di perbatasan kedua negara.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebut serangan tersebut sebagai “pendahuluan invasi darat,” sekaligus memperingatkan bahwa langkah itu bertujuan memutus konektivitas geografis wilayah selatan.
“Ini adalah upaya untuk memutus hubungan antara wilayah di selatan Sungai Litani dan bagian lain Lebanon,” kata Aoun, dikutip dari reuters.com, Senin (23/3/2026).
Ia menilai serangan tersebut sebagai bagian dari skema untuk membangun zona penyangga di sepanjang perbatasan dan memperluas kontrol Israel di wilayah Lebanon.
Serangan terhadap jembatan tersebut terjadi setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan militer untuk menghancurkan seluruh penyeberangan di atas Sungai Litani serta bangunan yang berada dekat garis perbatasan.
Militer Israel menyatakan langkah itu ditujukan untuk menekan aktivitas kelompok bersenjata Hezbollah, yang sebelumnya meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Serangan tersebut merupakan respons atas eskalasi yang lebih luas, termasuk ketegangan regional menyusul pembunuhan pemimpin tertinggi Iran.
Panglima militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan operasi terhadap Hezbollah “baru saja dimulai” dan akan diperluas dalam waktu dekat.
“Kami sedang mempersiapkan langkah lanjutan, termasuk operasi darat dan serangan terarah sesuai rencana yang telah disusun,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Strategi Israel, menurut Katz, meniru pendekatan yang sebelumnya digunakan di wilayah Gaza, seperti di Beit Hanoun dan Rafah, dengan menciptakan zona penyangga melalui penghancuran infrastruktur di dekat perbatasan untuk mengurangi ancaman terhadap komunitas Israel.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menyatakan telah melarang aktivitas militer Hezbollah dan membuka kemungkinan untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Israel guna meredakan ketegangan.
Namun, awal bulan ini Israel telah memperingatkan bahwa Lebanon akan menghadapi konsekuensi serius, termasuk kerusakan infrastruktur dan potensi kehilangan wilayah, jika tidak melucuti Hezbollah sesuai dengan ketentuan gencatan senjata tahun 2024.
Eskalasi terbaru ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan, terutama jika operasi darat benar-benar diluncurkan dalam waktu dekat.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar