Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 78
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pernahkah kita berpikir bahwa diam di rumah bisa menjadi tindakan patriotik?
Bagi sebagian orang, terutama mereka yang memahami nasionalisme sebagai gerak—kerja keras, mobilisasi, dan kehadiran fisik di ruang publik—gagasan ini mungkin terasa aneh. Nasionalisme selama ini dibayangkan sebagai sesuatu yang tampak: tindakan yang bisa disaksikan, diukur, bahkan dirayakan. Dalam bayangan itu, diam justru sering diposisikan sebagai kebalikannya—pasif, tidak produktif, dan jauh dari semangat kebangsaan.
Namun barangkali justru di titik inilah kita perlu mulai membedah ulang asumsi tersebut.
Sejak April 2026, pemerintah menetapkan pola kerja Work From Home (WFH) setiap hari Jumat, baik bagi ASN maupun sebagian sektor swasta. Tujuannya sederhana: menekan konsumsi bahan bakar minyak. Sekilas, kebijakan ini tampak administratif—teknis, praktis, dan jauh dari wacana besar seperti nasionalisme. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: cara kita hidup, bergerak, dan mengonsumsi energi sebagai sebuah bangsa.
Istilah WFH sendiri menemukan momentumnya ketika dunia menghadapi pandemi. “Stay at home” menjadi seruan global yang mengubah ritme kehidupan secara drastis. Rumah tidak lagi sekadar ruang istirahat, melainkan bertransformasi menjadi ruang kerja. Kita dipaksa menemukan cara baru untuk tetap produktif tanpa kehadiran fisik. Dari situ, lahir satu kesadaran penting: kerja tidak selalu identik dengan perpindahan tubuh, melainkan dapat berlangsung melalui koneksi yang tak kasatmata.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar