Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Khutbah Jumat: Islam sebagai Rahmat, Antara Ajaran dan Perwujudan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
  • visibility 237
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi, manusia justru kian akrab dengan kesunyian yang ganjil. Segalanya menjadi lebih cepat, lebih dekat, dan lebih canggih—namun hati manusia tidak serta-merta menjadi lebih tenang. Di balik layar yang terang, banyak jiwa diam-diam meredup. Di tengah limpahan informasi, manusia justru kehilangan arah.

Fenomena ini bukan sekadar gejala psikologis, melainkan tanda zaman: manusia modern sedang mengalami kelelahan eksistensial. Mereka memiliki banyak hal, tetapi kehilangan makna hidup. Mereka mampu menjangkau dunia, tetapi gagal memahami dirinya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, agama kembali dilirik—bukan sebagai identitas formal, melainkan sebagai kebutuhan batin. Tuhan, yang sempat “ditinggalkan” dalam hiruk-pikuk modernitas, kini kembali dicari dalam diam. Tidak sedikit yang mulai membuka kembali kitab suci, menelusuri tradisi spiritual, bahkan menoleh kepada Islam sebagai jalan hidup yang menawarkan ketenangan dan keutuhan.

Namun di titik inilah pertanyaan yang lebih mendasar muncul: ketika dunia mulai mencari Islam, apa yang mereka temukan pada diri umatnya?

Apakah mereka melihat ajaran yang menghadirkan kasih sayang, atau justru wajah yang keras dan mudah menghakimi? Apakah Islam hadir sebagai rahmat yang menenangkan, atau hanya sebagai identitas yang dipertahankan tanpa kedalaman makna?

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan itu—bahwa di saat dunia sedang mencari Tuhan, umat Islam justru dihadapkan pada ujian yang lebih besar: bukan sekadar bagaimana menjelaskan agama, tetapi bagaimana menghadirkannya dalam sikap, dalam akhlak, dan dalam cara menjadi manusia.

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

‎أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله

‎اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

‎أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

‎قال الله تعالى:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di tengah gemuruh dunia yang semakin canggih, di saat manusia merasa telah menaklukkan jarak dengan teknologi, menembus langit dengan ilmu pengetahuan, dan menggenggam dunia dalam genggaman digitalnya—justru pada saat itulah kegelisahan diam-diam tumbuh di dalam hati manusia.

Ada kekosongan yang tak mampu diisi oleh harta, ada kegersangan yang tak mampu disirami oleh kemewahan, dan ada kelelahan batin yang tak mampu disembuhkan oleh hiburan duniawi.

Manusia, hari ini tampak kuat di luar. Tetapi, sangat rapuh di dalam.
Tampak tersenyum di layar, tetapi gelisah dalam kesunyian.

Dan di titik inilah, tanpa banyak suara, tanpa banyak pengumuman, manusia mulai kembali mencari keberadaan Tuhan di dalam dirinya.

Sebagian mereka mengetuk pintu-pintu agama. Sebagian lagi membuka lembaran-lembaran wahyu. Sebagian yang lain, yang mungkin tak pernah mengenal Islam sebelumnya, mulai bertanya dengan jujur: di mana letak kebenaran itu?

Namun, wahai kaum Muslimin, di saat manusia mulai melangkah mendekat kepada Islam, kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri:

Kita, selaku muslim. Apakah mereka menemukan keindahan Islam pada diri kita? Ataukah mereka justru melihat wajah agama Islam yang keras, kaku, dan kehilangan kasih sayang dari diri kita?

Allah ﷻ telah menegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus bukan hanya untuk satu kaum, bukan hanya untuk satu kelompok, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Maka rahmat itu seharusnya mengalir dalam lisan kita, tampak dalam sikap kita, dan terasa dalam kehadiran kita.

Namun, realitas yang kita saksikan hari ini sering kali berbicara sebaliknya.

Betapa banyak orang yang tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi kemudian menjauh karena akhlak sebagian umat Islam yang jauh dari Al-Qur’an.
Betapa banyak yang ingin mengenal Islam, tetapi mundur karena melihat perpecahan, caci maki, dan kerasnya perdebatan di antara kaum Muslimin sendiri.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Maka, jika akhlak itu hilang dari diri kita, sejatinya kita telah menjauh dari misi utama diutusnya Nabi ﷺ.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

‎خياركم أَحاسنكم أَخْلَاقًا

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”

Seakan-akan Rasulullah ingin menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seorang Muslim bukan pada banyaknya pengetahuan, bukan pula pada kerasnya pembelaan, tetapi pada halusnya akhlak dan luasnya kasih sayang terhadap sesama manusia.

Para ulama tasawuf pernah berpesan, bahwa agama ini bukan sekadar apa yang diucapkan oleh lisan kita, tetapi apa yang memancar dari batin kita.

Sebab, manusia tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga merasakan apa yang kita lakukan.

Jika hati kita dipenuhi rahmat, maka orang lain akan merasakannya tanpa harus banyak bicara.
Namun, jika hati kita dipenuhi amarah dan kebencian, maka kata-kata seindah apa pun tidak akan mampu menyembunyikannya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari ini dunia sedang mengalami kekosongan spiritual. Manusia mulai kembali mencari keberadaan Tuhan. Mereka mulai kembali membuka kitab suci.

Tetapi, sebenarnya mereka tidak hanya membaca kitab suci—mereka juga “membaca” kita. Membaca akhlak penganut kitab suci itu sendiri.

Mereka membaca cara kita berbicara, cara kita bersikap, cara kita menyikapi perbedaan, bahkan cara kita memperlakukan sesama manusia.

Dan bisa jadi, tanpa kita sadari, kita menjadi penghalang bagi orang lain untuk mengenal Islam karena kita belum mampu merepresentasikan Islam sebagai sebuah agama rahmat dan agama yang lembut.

Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan:

‎ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”

Hikmah bukan hanya pada kata-kata, tetapi juga pada cara bertindak.
Nasihat bukan hanya pada isi, tetapi juga pada kelembutan hati.

Maka, ketika dunia mulai kembali mencari Tuhan, tugas kita bukan sekadar menunjukkan arah, tetapi menjadi jalan yang membuat orang merasa aman untuk mendekat.

Sebab, bisa jadi seseorang tidak tersentuh oleh panjangnya ceramah kita, tetapi luluh oleh satu sikap tulus kita.

Dan bisa jadi, seseorang tidak mengenal Islam melalui dalil yang begitu rumit, justru melalui akhlak sederhana dari kita yang jujur dan penuh kasih.

‎بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته، إنه هو السميع العليم

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله حمدًا كثيرًا كما أمر، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إرغامًا لمن جحد به وكفر، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله سيد البشر

‎اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

‎أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita kembali menundukkan hati kita sejenak, merenungkan dengan jujur, bahwa, sejatinya dakwah yang paling kuat bukanlah dakwah dengan suara yang lantang, tetapi dengan hati yang lapang.

Bukan pada banyaknya kata, tetapi pada dalamnya makna.

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim sejati adalah orang yang membuat Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya …

Dan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i dikatakan:

“Seorang mukmin adalah yang membuat orang lain merasa aman (darah dan hartanya) dari gangguan dirinya.”

Betapa indahnya Islam ketika hadir sebagai rasa aman. Betapa mulianya seorang Muslim ketika kehadirannya menenangkan, bukan menakutkan.

Maka, jika hari ini dunia mulai mencari jalan kebenaran, jadilah kita bagian dari jawaban itu. Jadilah wajah Islam yang meneduhkan, bukan yang membuat gaduh. Jadilah cermin yang jernih, agar orang lain dapat melihat keindahan Islam tanpa terhalang oleh keruhnya diri kita.

Sebab, pada akhirnya, manusia mungkin lupa apa yang kita ucapkan, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana perasaan mereka saat bersama kita.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

‎اللهم صلِّ على سيدنا محمد، وعلى آل سيدنا محمد، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم، في العالمين إنك حميد مجيد

‎اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات

‎اللهم أصلح قلوبنا، وزكِّ نفوسنا، واجعلنا مفاتيح للخير مغاليق للشر

‎اللهم اجعلنا ممن يمثلون الإسلام بأخلاقهم قبل أقوالهم

‎اللهم اجعلنا رحمة لعبادك، كما كان نبيك رحمة للعالمين

‎اللهم انصر إخواننا المستضعفين في كل مكان

‎ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

‎عباد الله،
‎إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
‎وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
‎يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

‎فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dunia Berkabung: Paus Fransiskus, Simbol Perdamaian Lintas Agama, Telah Wafat

    Dunia Berkabung: Paus Fransiskus, Simbol Perdamaian Lintas Agama, Telah Wafat

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Dunia kembali berselimut duka. Sosok besar yang selama ini menjadi simbol perdamaian dan toleransi lintas agama, Paus Fransiskus, telah berpulang. Kabar wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini menggema hingga ke seluruh penjuru dunia, meninggalkan jejak haru di hati banyak orang—termasuk Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Dalam pernyataannya kepada media, Nasaruddin menyampaikan […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Pameran seni bertajuk “Sangkut Paut” resmi dibuka, Selasa (25/11/2025) di Hartdisk Studio, Bone Bolango. Pameran ini merupakan hasil proses kreativitas dari program MTN Lab Residence Gorontalo, yang menghadirkan 29 seniman dan 8 kurator dalam kerja kolaboratif selama dua minggu terakhir. Residensi ini memperlihatkan bagaimana gagasan tumbuh ketika praktik seni dirawat melalui kedekatan—antara seniman, kurator, ruang […]

  • Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

    Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini  ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif […]

  • Menag Ajak Tokoh Agama Perkuat Pesan Damai Jelang Nyepi, Idulfitri, dan Paskah

    Menag Ajak Tokoh Agama Perkuat Pesan Damai Jelang Nyepi, Idulfitri, dan Paskah

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 248
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para tokoh agama untuk memperkuat pesan damai, persaudaraan, dan kerukunan di tengah masyarakat. Ajakan tersebut disampaikan mengingat sejumlah hari besar keagamaan berlangsung berdekatan bahkan bersamaan pada tahun ini, yakni Hari Raya Nyepi, Idulfitri, dan Paskah. Menurut Menag, momentum perayaan keagamaan tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat nilai […]

  • Secara Resmi, Imam Nahrawi ditetapkan Sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GENINUSA 

    Secara Resmi, Imam Nahrawi ditetapkan Sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GENINUSA 

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Santripreneur Nusantara (DPP GENINUSA) mengadakan rapat pengurus yang menghasilkan keputusan penting dalam struktur kepengurusan organisasi pada tanggal 21 februari 2025, hotel gred said Jakarta. Pada rapat DPP GENINUSA itu secara resmi menetapkan Bapak Imam Nahrowi (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia periode 2014-2019) sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GENINUSA. Ketum […]

expand_less