Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bendera dan Gugatan Nasionalisme

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
  • visibility 28
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu seakan mengancam sekaligus mengejek kekuasaan yang berdiri angkuh.

Fenomena ini tidak betul betul baru. Sebelumnya pencinta anime One Piece, yg mengenal baik karakter Mongkey D Lutfy , sering menginlbarkan Jolly Roger dalam berbagai even. Tetapi maraknya menjelang hari kemerdekaan yg disakrakkan itu jelas mencuri perhatian. Reaksi beragam menguar di jagat maya dan dunia nyata. Yang tenang menanggapinya santai; “itu hanya kreativitas, kritik yg satir karena situasi yg getir.” Tetapi yg reaksioner kebakaran jenggot. Dibilangnya itu pelecehan simbol negara. Mengapa ia berkibar saat merah putih yang seharusnya mengangkasa? Kekuasaan segera pasang kuda kuda, jika perlu tindakan represif.

Lantas muncullah tanya, gejala apa ini? Tidakah itu menunjukkan mereka yang mengibarkan bendera tersebut sedang menghianati nasionalisme? Tetapi nasionaisme yang mana dulu? Apakah seperti yg disebut Miichael Billig, banal nationalism, yg setiap senin upacara bendera atau di tiap acara instansi di hotel menyanyi lagu Indonesia raya? Ataukah nasionalisme yang selalu bicara soal kedaulatan, cinta tanah air, tetapi dibelakang bersekutu dengan negara adikuasa di luar sana tanpa peduli menyulitkan rakyat atau tidak.
Jika nasionalisme itu yang dimaksud, maka justru yang mengibarkan bendera one peace itu tegah mengekspresikan simbol perlawanan, kedaulatan dan pembebasan. Bukankah Jolly Roger, si kelompok Topi Jerami, memang simbol identitas bagi karakter-karakter yang menolak tunduk pada tirani. Monkey D. Luffy dan kawan-kawannya berlayar bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan membebaskan (diri sendiri dan orang lain) dari belenggu ketidakadilan.

Sering kali memang negara cenderung memaksakan nasionalisme yang dinginkannya. State-led nationalism, begitu istilahnya. Nasionalisme ini dikonstruksi dan digerakkan secara aktif oleh negara melalui berbagai institusi resmi, media, pendidikan, dan kebijakan publik. Tujuannya adalah untuk membentuk identitas nasional yang seragam, mendukung legitimasi kekuasaan, serta mengarahkan loyalitas warga kepada negara atau tepatnya rezim berkuasa, dengan simbol-simbol resminya. Berani menyempal dari simbol simbol itu, Anda bisa dituduh macam macam, dari penghianat negara, tidak cinta tanah air, bahkan bisa dituduh makar .

Padahal seturut kata Pierre Bourdieu simbol memang punya kuasa, tetapi kuasa itu tak selalu abadi. Ketika simbol nasional dipaksakan secara kaku dan tak memberi ruang bagi ekspresi kultural baru, maka yang terjadi adalah alienasi, bukan menggerakkan cinta tanah air. Mereka yang mengibarkan bendera One Piece tidak otomatis anti-Indonesia, melainkan mereka yang menuntut bentuk nasionalisme yang lebih inklusif, lentur, dan menyenangkan.

Nasionalisme abad 21, tidak bisa lagi terjebak dalam kebanggaan simbol. Dalam Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari menekankan nasionalisme harus bergeser dari simbol menuju solidaritas pada nilai. Jika tidak, ia akan terjebak dalam chauvinisme yang rentan melahirkan represi.
Karena itu saat bendera One Piece dipersoalkan, yang pasang bendera direpresi, namun diam pada pengrusakan lingkungan, ketimpangan sosial, atau kekerasan negara, maka yang dibela bukanlah nasionalisme, melainkan simbol kosong tanpa keadilan

Last but not least, daripada menanggapi fenomena bendera One Piece dengan kemarahan dan paranoia, mengapa tidak kita anggap saja sebagai bagian dari karnaval kemerdekaan yang kaya warna? Ingatlah ketika Gus Dur menyikapi pengibaran bendera bintang kejora pada masa pemerintahannya dengan santai, “Tidak usah risau, bila bendera merah putih masih berkibar lebih tinggi, anggap saja bendera lainnya umbul umbul.

Indonesia Negeri Tercinta, Merah Putih Kebanggaan kita (*)

Penulis memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tersesat di Antara Makna: Tanggapan terhadap Donald Tungkagi soal Makuta Ilmu sebagai Paradigma Epistemologi UIN Smart

    Tersesat di Antara Makna: Tanggapan terhadap Donald Tungkagi soal Makuta Ilmu sebagai Paradigma Epistemologi UIN Smart

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 911
    • 0Komentar

    Sebagai seorang alumni, ketika mendengar kabar baik bahwa IAIN Sultan Amai Gorontalo sedikit lagi menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo (selanjutnya: UIN Smart), saya kegirangan minta ampun. Saya tahu prosesnya amat lama, melibatkan banyak sekali pihak, dan pekerjaan yang tidak mudah. Pada 17 Oktober 2025, alhasil terbit surat MenPAN-RB kepada presiden tentang Permohonan Izin Prakarsa Penyusunan […]

  • Pasal Larangan Komunisme dan Marxisme dalam KUHP Baru Tuai Perhatian

    Pasal Larangan Komunisme dan Marxisme dalam KUHP Baru Tuai Perhatian

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 85
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Ketentuan mengenai larangan ajaran Komunisme dan Marxisme dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru kembali menjadi perhatian publik. Aturan tersebut tercantum dalam Pasal 188 KUHP, yang melarang setiap orang mengajarkan, menyebarkan, serta mengembangkan ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme dalam bentuk apa pun. Dalam pasal tersebut, pelanggaran terhadap ketentuan dimaksud dapat dikenai ancaman pidana […]

  • Ketum GP Ansor Dijadwalkan Lantik Pengurus Wilayah dan Cabang se-Gorontalo, Hadiri Sejumlah Agenda Strategis

    Ketum GP Ansor Dijadwalkan Lantik Pengurus Wilayah dan Cabang se-Gorontalo, Hadiri Sejumlah Agenda Strategis

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Addin Jauharudin, dijadwalkan melantik jajaran Pimpinan Wilayah dan Cabang GP Ansor se-Gorontalo dalam sebuah seremoni resmi yang akan berlangsung pada Sabtu, 19 Juli 2025 pukul 19.30 WITA di Ballroom Hotel Damhil, Kota Gorontalo. Ketua PW GP Ansor Gorontalo, Zulkarnain Ahmad, menyampaikan bahwa kunjungan Ketum Addin ke […]

  • Ancaman Infiltrasi Ideologi Terlarang dan Pemberhentian Kepala Daerah

    Ancaman Infiltrasi Ideologi Terlarang dan Pemberhentian Kepala Daerah

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Makmun Rasyid
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Posisi kepala daerah di Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai jabatan administratif. Dalam kerangka negara hukum yang berlandaskan Pancasila, kepala daerah adalah aktor konstitusional yang memikul mandat ganda: menjalankan roda pemerintahan daerah serta menjaga integritas ideologi negara. Loyalitas terhadap konstitusi tidak cukup ditunjukkan melalui sumpah jabatan; ia harus diwujudkan dalam kebijakan, tindakan, dan sikap selektif […]

  • Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) juga telah dinikmati warga Kecamatan Paguyaman dan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo. Penyaluran bantuan ini dilakukan oleh Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah. Idah Syahidah menjelaskan kuota penerima BLP3G di tahun ini mengalami penyesuaian signifikan. Hal ini imbas dari efisiensi anggaran seluruh pemerintah daerah termasuk Provinsi Gorontalo. “Kalu tahun-tahun sebelumnya penerima bantuan […]

  • Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Hari, bulan dan tahun merupakan siklus hidup manusia yang diukur menurut satuan waktu dengan berdasarkan peredaran bumi, bulan dan matahari. Siklus hari manusia terbagi dalam dua babakan, yaitu malam dan siang. Dalam penciptaan keduanya, begitu sangat istimewa sehingga Allah mengulang-ulang penciptaan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir (QS. 3:190, 11:3, 16:12, 23:80, […]

expand_less