Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bendera dan Gugatan Nasionalisme

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
  • visibility 155
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu seakan mengancam sekaligus mengejek kekuasaan yang berdiri angkuh.

Fenomena ini tidak betul betul baru. Sebelumnya pencinta anime One Piece, yg mengenal baik karakter Mongkey D Lutfy , sering menginlbarkan Jolly Roger dalam berbagai even. Tetapi maraknya menjelang hari kemerdekaan yg disakrakkan itu jelas mencuri perhatian. Reaksi beragam menguar di jagat maya dan dunia nyata. Yang tenang menanggapinya santai; “itu hanya kreativitas, kritik yg satir karena situasi yg getir.” Tetapi yg reaksioner kebakaran jenggot. Dibilangnya itu pelecehan simbol negara. Mengapa ia berkibar saat merah putih yang seharusnya mengangkasa? Kekuasaan segera pasang kuda kuda, jika perlu tindakan represif.

Lantas muncullah tanya, gejala apa ini? Tidakah itu menunjukkan mereka yang mengibarkan bendera tersebut sedang menghianati nasionalisme? Tetapi nasionaisme yang mana dulu? Apakah seperti yg disebut Miichael Billig, banal nationalism, yg setiap senin upacara bendera atau di tiap acara instansi di hotel menyanyi lagu Indonesia raya? Ataukah nasionalisme yang selalu bicara soal kedaulatan, cinta tanah air, tetapi dibelakang bersekutu dengan negara adikuasa di luar sana tanpa peduli menyulitkan rakyat atau tidak.
Jika nasionalisme itu yang dimaksud, maka justru yang mengibarkan bendera one peace itu tegah mengekspresikan simbol perlawanan, kedaulatan dan pembebasan. Bukankah Jolly Roger, si kelompok Topi Jerami, memang simbol identitas bagi karakter-karakter yang menolak tunduk pada tirani. Monkey D. Luffy dan kawan-kawannya berlayar bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan membebaskan (diri sendiri dan orang lain) dari belenggu ketidakadilan.

Sering kali memang negara cenderung memaksakan nasionalisme yang dinginkannya. State-led nationalism, begitu istilahnya. Nasionalisme ini dikonstruksi dan digerakkan secara aktif oleh negara melalui berbagai institusi resmi, media, pendidikan, dan kebijakan publik. Tujuannya adalah untuk membentuk identitas nasional yang seragam, mendukung legitimasi kekuasaan, serta mengarahkan loyalitas warga kepada negara atau tepatnya rezim berkuasa, dengan simbol-simbol resminya. Berani menyempal dari simbol simbol itu, Anda bisa dituduh macam macam, dari penghianat negara, tidak cinta tanah air, bahkan bisa dituduh makar .

Padahal seturut kata Pierre Bourdieu simbol memang punya kuasa, tetapi kuasa itu tak selalu abadi. Ketika simbol nasional dipaksakan secara kaku dan tak memberi ruang bagi ekspresi kultural baru, maka yang terjadi adalah alienasi, bukan menggerakkan cinta tanah air. Mereka yang mengibarkan bendera One Piece tidak otomatis anti-Indonesia, melainkan mereka yang menuntut bentuk nasionalisme yang lebih inklusif, lentur, dan menyenangkan.

Nasionalisme abad 21, tidak bisa lagi terjebak dalam kebanggaan simbol. Dalam Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari menekankan nasionalisme harus bergeser dari simbol menuju solidaritas pada nilai. Jika tidak, ia akan terjebak dalam chauvinisme yang rentan melahirkan represi.
Karena itu saat bendera One Piece dipersoalkan, yang pasang bendera direpresi, namun diam pada pengrusakan lingkungan, ketimpangan sosial, atau kekerasan negara, maka yang dibela bukanlah nasionalisme, melainkan simbol kosong tanpa keadilan

Last but not least, daripada menanggapi fenomena bendera One Piece dengan kemarahan dan paranoia, mengapa tidak kita anggap saja sebagai bagian dari karnaval kemerdekaan yang kaya warna? Ingatlah ketika Gus Dur menyikapi pengibaran bendera bintang kejora pada masa pemerintahannya dengan santai, “Tidak usah risau, bila bendera merah putih masih berkibar lebih tinggi, anggap saja bendera lainnya umbul umbul.

Indonesia Negeri Tercinta, Merah Putih Kebanggaan kita (*)

Penulis memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BP3NU Gorontalo Gelar Raker, Bahas Statuta dan Regulasi Perguruan Tinggi NU

    BP3NU Gorontalo Gelar Raker, Bahas Statuta dan Regulasi Perguruan Tinggi NU

    • calendar_month Minggu, 10 Feb 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 175
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3NU) Provinsi Gorontalo dijadwalkan menggelar Rapat Kerja (Raker) yang akan berlangsung di Ballroom Hotel Damhil, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Minggu, 10 Februari 2019. Rapat kerja tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan statuta serta kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sekaligus membahas regulasi perguruan tinggi swasta di lingkungan […]

  • Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah

    Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Rasulullah pernah bersabda, “dijadikannya kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan lah penyejuk hatiku dalam ibadah shalat”. Hadis riwayat An-Nasa’i dan Ahmad. Hadis di atas seolah menyadarkan kepada kita, bahwa ibadah shalat menjadi penenang dan penyejuk, bagi hati Nabi Muhammad SAW. Tentu saja, hadis ini berlaku bagi umatnya juga. Shalat menjadi media […]

  • Pendidikan Kunci Utama untuk Memutus Rantai Kemiskinan

    Pendidikan Kunci Utama untuk Memutus Rantai Kemiskinan

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Akses terhadap pendidikan adalah hak mendasar dan kunci utama dalam memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Namun di Gorontalo, tantangan anak putus sekolah masih nyata. Faktor sosial-ekonomi keluarga menjadi penyebab utama anak putus sekolah. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi pendidikan semata, tetapi juga harus menyentuh aspek kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan sosial. Hal […]

  • Paradoks Kelangkaan Air Bersih: Melimpah Tapi Langka

    Paradoks Kelangkaan Air Bersih: Melimpah Tapi Langka

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • account_circle Muh. Akbar.
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk juga sumber daya air yang melimpah. Curah hujan yang tinggi, sungai yang banyak, serta keberadaan danau seharusnya menjadi jaminan ketersediaan air bagi seluruh masyarakat. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang bertolak belakang. Setiap tahun, banyak wilayah di Indonesia mengalami kekeringan, dan krisis air […]

  • Sudah Tahu? Ini Nominal Zakat Fitrah dan Fidyah Terbaru Tahun 1447 H

    Sudah Tahu? Ini Nominal Zakat Fitrah dan Fidyah Terbaru Tahun 1447 H

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 324
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI resmi menetapkan besaran zakat fitrah tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi sebesar Rp50.000 per jiwa atau setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras premium. Selain itu, BAZNAS juga menetapkan besaran fidyah sebesar Rp65.000 per jiwa per hari. Ketua BAZNAS RI, Noor Achmad, menyampaikan bahwa penetapan tersebut dilakukan setelah […]

  • Deviden Langit

    Deviden Langit

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Di bulan Ramadhan, banyak orang tiba-tiba menjadi “akuntan langit dadakan”. Mereka mulai rajin menghitung: berapa kali tarawih, berapa juz yang dibaca, berapa rupiah yang disedekahkan. Kalau di dunia korporasi kita mengenal laporan laba rugi, di bulan suci ini umat Islam seperti sedang menyusun “laporan laba langit”. Bedanya, auditor kita bukan kantor akuntan publik, tapi langsung […]

expand_less