1 Muharram, Amor Fati, dan Keberanian untuk Berhijrah
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 38
- print Cetak

Muhammad Kamal/istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriah sebenarnya berawal dari keresahan praktis di era Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, administrasi negara mulai berkembang pesat, namun kekacauan muncul karena dokumen-dokumen resmi tidak memiliki penanggalan yang jelas. Untuk mengatasi ambiguitas ini, para sahabat akhirnya bersepakat untuk menetapkan sebuah titik tolak waktu yang tak terbantahkan.
Mereka memilih momentum Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi bukan tanpa alasan; peristiwa tersebut bukan sekadar pindah tempat, melainkan titik balik yang menandai lahirnya komunitas baru yang lebih terorganisir. Sejak saat itulah, Hijrah tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi resmi menjadi jangkar waktu yang mendefinisikan identitas dan arah gerak peradaban Islam hingga hari ini.
Maka Islam tidak menjadikan kelahiran seorang tokoh, kemenangan perang, ataupun kemegahan sebuah kerajaan sebagai titik awal perhitungannya. Islam memilih hijrah. Sebuah peristiwa yang mengandung pesan sederhana namun revolusioner: jika kenyataan tidak memungkinkan nilai-nilai kehidupan tumbuh dengan baik, maka manusia harus berani berpindah, beradaptasi, dan menciptakan ruang baru bagi perubahan. Hijrah sejak awal bukanlah kisah tentang kepasrahan, melainkan kisah tentang keberanian melawan stagnasi.
Pergantian kalender dari Dzulhijjah menuju Muharram bukan sekadar suksesi angka di atas lembaran waktu. Ia adalah momentum simbolik tapi juga ajakan untuk menengok kembali perjalanan dirinya, lalu bertanya kedalalm diri soal hidup yang sedang diarahkan. Kalender hijriah ini dimulai dari hijrah—sebuah tindakan yang secara filosofis mengandung makna transformasi, keberanian, dan kesediaan untuk meninggalkan sesuatu yang lama demi kemungkinan masa depan yang lebih bermakna.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar