Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jokowi Yang Sedang Turun Kelas? (Refleksi tentang Kekuasaan, Politik, dan Kematangan Demokrasi Kita)

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 188
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang patut dibela atau digugat. Tulisan ini tidak berdiri di satu pihak, tidak pula hadir untuk menyokong atau menjatuhkan. Yang ingin disorot di sini adalah sebuah peristiwa politik yang mengandung makna lebih dalam: mantan Presiden Jokowi menggugat pihak-pihak yang menuduh ijazahnya palsu.

Langkah ini menggambarkan lebih dari sekadar upaya membela kehormatan pribadi. Ada pergeseran posisi yang terasa: dari simbol kenegaraan yang dulu berdiri paling tinggi, menjadi sosok yang harus menanggapi satu per satu suara bising dari lorong media dan ruang publik. Jokowi tampak kembali masuk ke dalam percakapan-percakapan yang mestinya sudah ia tinggalkan, bertukar peran dari negarawan menjadi penggugat. Ia tidak sedang melanggar hukum—tidak juga melanggar etika. Tetapi dalam gerak itu, ada sesuatu yang ia lepaskan: jarak simbolik yang selama ini memisahkan seorang mantan presiden dari kegaduhan politik harian.

Momen ini menyisakan kegelisahan. Apakah republik ini telah gagal menyediakan ruang tenang bagi seorang mantan pemimpin? Ataukah memang kekuasaan, sebagaimana pernah dibaca oleh Foucault, tidak benar-benar selesai, hanya berpindah bentuk dan strategi? Jokowi bukan sekadar individu; ia adalah teks yang hidup, simbol dari harapan, ketegangan, dan arah sejarah bangsa ini. Dan ketika ia turun kelas—dalam arti membuka kembali dirinya terhadap pertarungan-pertarungan publik yang kasar—maka yang sedang goyah bukan hanya citra personal, melainkan juga cara kita sebagai bangsa menempatkan kenegarawanan.

Kita bisa melihat ini juga dari kaca mata populisme. Pemimpin populis lahir dari kedekatan dengan rakyat, mencairkan jarak dan menyentuh emosi. Tapi ketika masa jabatan selesai, sisa-sisa logika populisme itu kerap menyeret sang pemimpin untuk tetap “hadir” dalam debat publik, bahkan ketika seharusnya ia sudah cukup dihormati dengan ketidakhadirannya. Populisme membuka ruang naik yang cepat, tetapi menutup jalan turun yang bermartabat.

Weber pernah menandai jenis kekuasaan kharismatik sebagai sesuatu yang ampuh, tetapi rapuh ketika tidak ditopang oleh institusi yang dewasa. Dalam kasus ini, kita menyaksikan betapa sistem kita belum sepenuhnya siap memberi transisi yang agung bagi seorang mantan presiden. Kita cepat dalam mengagungkan, tapi lamban dalam merawat kehormatan setelah kekuasaan.

Ironi itu semakin terang saat kasus hukum seperti tuduhan ijazah palsu harus ditanggapi sendiri oleh sosok yang pernah duduk di kursi nomor satu. Tentu, setiap orang berhak atas pembelaan. Namun, dalam pertarungan di arena yang mulai becek oleh prasangka, personalisasi masalah justru menurunkan kelas simbolik seorang mantan pemimpin. Jokowi boleh jadi menang secara hukum, tetapi apa yang sedang dipertaruhkan lebih dari itu: kepercayaan publik terhadap posisi kenegarawanan yang seharusnya tak lagi ikut rebutan suara di ruang gaduh.

Mungkin inilah saatnya kita bercermin: apakah republik ini terlalu mudah memberi tahta, tapi terlalu kaku memberi ruang istirahat? Apakah kekuasaan kita desain sebagai panggung tanpa pintu keluar? Jika seorang mantan presiden harus kembali turun ke gelanggang hanya untuk membela nama, maka sesungguhnya bukan hanya ia yang turun kelas—tapi kita, sebagai bangsa, sedang kehilangan ketinggian nilai.

Kita pernah percaya bahwa politik adalah jalan luhur untuk melayani. Tapi jika setelah semua pencapaian itu, seorang pemimpin harus kembali bertarung di tengah lumpur sangka dan curiga, maka pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah. Pertanyaannya adalah: sudah sedewasa apa demokrasi kita menempatkan bekas pemimpinnya?

Jokowi bukan orang biasa. Ia adalah teks, simbol, dan bayangan tentang siapa kita sebagai bangsa. Dan hari ini, saat ia turun kelas, bukan hanya sejarah yang mencatat langkahnya—tapi juga kebijaksanaan kolektif kita, yang mungkin sedang diuji paling keras.

Oleh: Pepy Albayqunie  – (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nusantara sebagai nafas panjang Peradaban Dunia: Dari Migrasi Purba hingga kemandirian ilmiah

    Nusantara sebagai nafas panjang Peradaban Dunia: Dari Migrasi Purba hingga kemandirian ilmiah

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Zulkifli
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Kepulauan Nusantara adalah sebuah ruang geografis dan kultural yang dibentuk oleh sejarah migrasi manusia yang panjang dan berlapis. Keberagaman etnis, bahasa, dan budaya yang kini menghuni Nusantara tidak dapat dipisahkan dari proses pergerakan nenek moyang manusia yang datang dalam beberapa gelombang migrasi besar. Nusantara adalah tempat dengan temuan manusia purba terbanyak di dunia dan menjadi […]

  • Dorong Zakat di Bidang Pertanian, BAZNAS Bantu Petani Binaan PWNU Gorontalo

    Dorong Zakat di Bidang Pertanian, BAZNAS Bantu Petani Binaan PWNU Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 212
    • 0Komentar

      Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Gorontalo (PWNU) menjalin kerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Gorontalo di bidang Zakat Pertanian. Mengingat potensi zakat di Indonesia tahun 2024 diperkirakan Rp41 triliyun. Kerjasama tersebut ditandai penandatanganan  Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kejasama (PKS) kedua belah pihak, Rabu (18/12/2024), bertempat di Kantor BAZNAS Provinsi Gorontalo, Jalan HB. […]

  • Keutamaan Hari Asyura: Hari Besar Penuh Hikmah dan Pelajaran

    Keutamaan Hari Asyura: Hari Besar Penuh Hikmah dan Pelajaran

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Dalam kalender Hijriyah, bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan suci yang dimuliakan oleh Allah SWT. Di antara hari-hari di bulan ini, terdapat satu hari yang memiliki keutamaan luar biasa, yaitu Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Asyura bukan hanya sekadar penanda waktu, namun ia sarat dengan nilai sejarah, spiritualitas, dan pelajaran moral […]

  • Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Lalyla binti Abdullah bin Abdu Syams al-Qurasyiyah al-Adawaiyah atau lebih dikenal dengan Al-Shifah binti Abdullah adalah perempuan Quraisy dari Bani ‘Adi yang masuk Islam pada fase awal dakwah di Makkah, lalu hijrah ke Madinah. Informasi tentang dirinya memang tidak sebanyak tokoh perempuan lain, tetapi data yang tersedia cukup jelas dalam beberapa sumber klasik seperti Al-Tabaqat […]

  • Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

    Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Dzaky Alfarisi
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Setiap akhir tahun anggaran, pemerintah pusat maupun daerah hampir selalu memasuki fase yang sama: perlombaan mengejar target penyerapan anggaran. Narasi yang dibangun ke publik pun cenderung seragam—realisasi belanja mencapai angka tinggi, sering kali di atas 90 persen, dan hal tersebut diklaim sebagai bukti keberhasilan kinerja. Di permukaan, angka-angka ini memang terlihat meyakinkan. Namun, jika ditelaah […]

  • Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi

    Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 165
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah sejuknya malam di Bumi Cerah Bulontalangi, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (26/12/2025), pesan tentang integritas disampaikan dengan cara yang sederhana namun berkesan. Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, hadir membuka peringatan Hari Anti Korupsi Dunia (Harkodia) yang digelar Fakultas Ilmu Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Di hadapan mahasiswa, Idah mengajak generasi muda, […]

expand_less