Breaking News
light_mode
Trending Tags

Alam adalah Ayat Makro Kosmos, Kitab Suci adalah Ayat Mikro Kosmos

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
  • visibility 63
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Tulisan ini terinsiprasi dari sambutan Menteri Agama, Prof AGH Nazarudin Umar dalam acara peluncuran buku tafsir ayat-ayat ekologi: membangun kesadaran ekoteologis berbasis Alquran yang dilaksanakan di Gedung Bayt Alquran, TMII oleh LPMQ (Lajnah Pentashih Mushaf Quran).

Dalam epistemologi Islam, ayat bukan sekadar rangkaian kalimat dalam kitab suci. Ia berarti “tanda” kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu. Karena itu, Tuhan tidak hanya menulis satu jenis kitab, tetapi dua: kitab tertulis (kitāb masṭūr) dan kitab terbentang (kitāb manṣūr). Yang pertama hadir sebagai teks wahyu yang dapat dibaca dengan bahasa; yang kedua hadir sebagai semesta yang dapat dibaca dengan kesadaran. Keduanya bersumber dari Kalam Ilahi yang sama, hanya berbeda dalam medium penyingkapan.

Dalam pandangan para sufi seperti Ibn ‘Arabi, al-Ghazali, dan Jalaluddin Rumi, alam adalah tajalli—penyingkapan diri Tuhan yang terus berlangsung. Alam tidak diam; ia berbicara dengan bahasa sunyi, berzikir dalam ritme waktu, dan menampakkan keindahan Tuhan melalui harmoni ciptaannya. Kitab suci hadir untuk menuntun manusia membaca bahasa alam dengan makna yang benar, sementara alam menegaskan kebenaran kitab suci melalui realitas yang hidup. Inilah dua teks Ilahi yang saling menjelaskan, yang satu bersifat makro kosmos, yang lain mikro kosmos.

Namun modernitas sering memisahkan keduanya. Alam direduksi menjadi objek eksploitasi, kitab suci direduksi menjadi teks hukum. Pandangan ini melahirkan krisis spiritual dan krisis ekologis sekaligus—manusia kehilangan kesadaran akan kesucian ciptaan. Alam dipandang sebagai benda mati, bukan ayat yang bernyawa. Padahal, Al-Qur’an sendiri berulang kali menyeru: “Apakah kamu tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17–20). Seruan ini adalah ajakan untuk membaca alam sebagai teks teologis, bukan sekadar objek empiris.

Kesadaran seperti itu sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi lokal Nusantara. Dalam kosmologi Bugis-Makassar misalnya, percaya bahwa seluruh unsur alam memiliki ruh dan fungsi kosmik. Ritual sebelum menanam, melaut, atau menebang pohon bukan bentuk tahayul, melainkan ekspresi dari kesadaran teologis bahwa alam adalah bagian dari kehidupan spiritual manusia. Petani membaca tanda musim seperti menafsirkan ayat, nelayan menatap langit seperti membaca firman. Di sana, pengalaman religius melebur dalam etika ekologis.

Pandangan progressif yang melekat pada kebudayaan lokal ini menemukan relevansinya kembali dalam gerakan ekoteologi Kementerian Agama, melalui peluncuran buku tafsir ekoteolog—sebuah upaya spiritual dan kebijakan sosial untuk menghidupkan kembali kesadaran teologis terhadap alam. Melalui pendekatan program-program berbasis ekoteologi, Kementerian Agama menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan hanya masalah ilmiah, melainkan masalah iman.

Kementerian Agama berupaya memulihkan kesadaran spiritual masyarakat terhadap bumi. Alam tidak lagi dipandang sebagai sumber daya yang habis pakai, melainkan sebagai mitra spiritual dalam perjalanan manusia mengenal Tuhan.

Pendekatan ini sejatinya adalah kebangkitan dimensi sufistik Islam di ruang kebijakan publik. Ia menegaskan kembali pandangan bahwa pengetahuan sejati bukan hanya hasil dari observasi empiris, melainkan juga musyahadah—penyaksian batin terhadap kehadiran Ilahi di setiap makhluk. Alam, dalam hal ini, adalah madrasah ruhaniyah tempat manusia belajar rendah hati, bersyukur, dan sadar akan keterhubungannya dengan seluruh ciptaan.

Gerakan ekoteologi Kementerian Agama juga berfungsi sebagai kritik epistemologis terhadap cara berpikir modern yang antroposentris. Gerakan ini menegaskan perlunya reorientasi spiritual dari paradigma “penguasaan alam” menuju “peleburan bersama alam.” Dalam konteks ini, teologi Islam ditafsir ulang secara praksis—dari dogma menuju ekosistem kesadaran; dari ritual menuju tanggung jawab ekologis.

Ketika kesadaran makro dan mikro kosmos ini dihidupkan, agama tidak lagi berdiri berhadapan dengan sains, melainkan berdialog secara mendalam. Sains membaca hukum-hukum Tuhan dalam wujud fenomena, agama membaca makna Tuhan dalam wujud makna. Dan di antara keduanya, manusia berdiri sebagai penafsir—sebagai khalifah yang menjaga keseimbangan.

Maka, membaca kitab suci tanpa membaca alam berarti kehilangan separuh wahyu. Dan membaca alam tanpa kesadaran kitab suci berarti kehilangan arah ruhani. Keduanya harus bersatu dalam kesadaran ekologis yang baru—kesadaran yang menuntun manusia untuk hidup dalam zikir ekologis: menjaga bumi sambil menyadari bahwa setiap langkah di atas tanah adalah langkah di atas ayat.

Gerakan ekoteologi Kementerian Agama, dengan demikian, bukan hanya kebijakan administratif, melainkan panggilan spiritual untuk meneguhkan kembali posisi manusia dalam jaringan kosmik. Dalam bahasa sufi, ia adalah usaha untuk mengembalikan manusia ke maqamnya sebagai pembaca semesta—yang memahami bahwa setiap pohon adalah tasbih, setiap sungai adalah dzikir, dan setiap napas adalah kesaksian akan wahdatul wujud—kesatuan segala yang ada di bawah nama-Nya.

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Hari, bulan dan tahun merupakan siklus hidup manusia yang diukur menurut satuan waktu dengan berdasarkan peredaran bumi, bulan dan matahari. Siklus hari manusia terbagi dalam dua babakan, yaitu malam dan siang. Dalam penciptaan keduanya, begitu sangat istimewa sehingga Allah mengulang-ulang penciptaan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir (QS. 3:190, 11:3, 16:12, 23:80, […]

  • 80 Tahun Indonesia Merdeka: Gerakan Nurani Bangsa Serukan Pembaruan Demokrasi Dan Keadilan Sosial

    80 Tahun Indonesia Merdeka: Gerakan Nurani Bangsa Serukan Pembaruan Demokrasi Dan Keadilan Sosial

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Dalam momentum peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan refleksi kritis atas perjalanan panjang bangsa sekaligus seruan untuk memperbaiki arah demokrasi, penegakan hukum, kesejahteraan rakyat, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya. Indonesia sebagai negara kepulauan yang dibangun di atas keberagaman budaya, adat istiadat, agama, dan kekayaan alam, terus berupaya mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan: […]

  • Gelar Konsolidasi, Gus Yayan Optimis Kader PKB Gorontalo Duduki Posisi Strategis 2029

    Gelar Konsolidasi, Gus Yayan Optimis Kader PKB Gorontalo Duduki Posisi Strategis 2029

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo, menggelar sosialisasi hasil Muktamar PKB Tahun 2024 serta Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Simpel dan SMS PKB di Hotel Grand Q, Kota Gorontalo, 15/02/25. Dalam sambutannya, Ketua DPW PKB Gorontalo Muhammad Dzikyan menegaskan, bahwa PKB terus bergerak maju untuk menjadikan partai ini sebagai kekuatan politik modern, […]

  • Asyiknya Sensus Burung Air di Danau Limboto

    Asyiknya Sensus Burung Air di Danau Limboto

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 68
    • 0Komentar

    NULONDALO.com  – Ratusan individu burung air residen (penetap) dan jenis migran (pendatang) di Danau Limboto tercatat dalam pengamatan dan sensus burung-air Asia (Asian Waterbird Census) pada Sabtu, 7 Februari 2026. Jenis burung-burung tersebut antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), cangak merah (Ardea purpurea), gagang bayam (Himantopus himantopus), […]

  • Rakorev Pemkot Gorontalo, Wali Kota Tekankan TPP, Parkir Berlangganan, hingga Zikir Akbar

    Rakorev Pemkot Gorontalo, Wali Kota Tekankan TPP, Parkir Berlangganan, hingga Zikir Akbar

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 68
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, didampingi Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, memberikan sejumlah penekanan dalam rapat koordinasi dan evaluasi (Rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang digelar di Bandhayo Lo Yiladia, Jumat (19/12/2025). Salah satu fokus utama yang disoroti Wali Kota Adhan adalah progres penerapan aplikasi Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) serta sistem […]

  • Konten Kreator Gorontalo Ditetapkan Tersangka, Kasus Ini Jadi Pengingat Etika Bermedia Sosial Menurut Islam

    Konten Kreator Gorontalo Ditetapkan Tersangka, Kasus Ini Jadi Pengingat Etika Bermedia Sosial Menurut Islam

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Setelah melalui proses penyidikan yang cukup panjang, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Gorontalo resmi menetapkan konten kreator ZH alias Ka Kuhu sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran hak cipta. Penetapan tersangka tersebut diketahui berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang diterima oleh pihak pelapor. Kuasa hukum pelapor, Rongki Ali Gobel, membenarkan […]

expand_less