Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 108
- print Cetak

Muhammad Kamal/ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyak orang menjelaskan dominasi Amerika Serikat di dunia dengan dua kata kunci: ekonomi dan militer. Memang benar, negara itu memiliki mesin ekonomi yang raksasa dan kekuatan militer yang sulit ditandingi. Namun penjelasan semacam itu sering melewatkan satu hal yang jauh lebih menentukan: kemampuan membentuk cara dunia berpikir. Dalam politik global modern, kekuasaan tidak selalu tampil dalam bentuk senjata atau tekanan militer. Ia sering bekerja melalui bahasa pengetahuan—melalui konsep, teori, dan definisi tentang apa yang disebut rasional, maju, atau modern.
bentuk imperialisme modern bekerja. Ia tidak lagi hadir seperti kolonialisme abad ke-19 yang terang-terangan menaklukkan wilayah. Dominasi kini sering bergerak melalui narasi pembangunan, program bantuan, dan legitimasi ilmiah. Penaklukan tidak selalu datang dengan kapal perang; kadang ia hadir dalam bentuk laporan riset, kurikulum universitas, atau kebijakan pembangunan yang terdengar sangat teknokratis.
Salah satu titik penting dalam sejarah politik global muncul pada tahun 1949 ketika Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman memperkenalkan apa yang kemudian dikenal sebagai Point Four Program. Dalam pidato itu, dunia untuk pertama kalinya dipetakan secara eksplisit menjadi dua kategori besar: negara maju dan wilayah yang disebut “terbelakang”. Pembagian ini tampak seperti klasifikasi ilmiah yang netral. Namun jika dilihat dalam konteks geopolitik saat itu—ketika kolonialisme lama mulai runtuh dan persaingan ideologi antara kapitalisme dan sosialisme semakin tajam—istilah tersebut memiliki makna politik yang sangat kuat.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar