Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 39
- print Cetak

Ilustrasi suasana medan perang pada masa awal Islam saat senja menjelang. Julaybib digambarkan berdiri dengan wajah tenang dan penuh keteguhan setelah pertempuran usai, di tengah hamparan gurun yang berdebu.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada edisi Ramadhan 2026 kali ini, saya ingin mengisinya dengan menceritakan orang-orang yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, yang kita kenal sebagai sahabat Nabi tetapi sangat sedikit disebut dalam catatan sejarah.
Julaybib adalah salah satunya. Siapa di antara kita umat Islam yang mengenal sosok ini. Mungkin ada, tetapi sangat sedikit. Termasuk saya yang baru mengenalnya setelah melakukan pelacakan sumber.
Julaybib termasuk sahabat Nabi SAW yang riwayat hidupnya sangat terbatas. Asal-usulnya tidak diketahui secara jelas. Nasab dan kabilahnya tidak dicatat dalam sumber-sumber utama. Tidak ada keterangan pasti tentang dari mana ia berasal atau dari keluarga mana ia datang. Ia bukan bagian dari keluarga besar atau terpandang di Madinah, dan tidak memiliki posisi sosial yang menonjol dan ada sumber yang menyebut kondisi fisiknya juga tidak menonjol. Intinya, dia tidak memiliki daya tarik secara fisik dan sosial.
Sebagian penulis belakangan menyebut kemungkinan bahwa ia seorang mantan budak yang kemudian masuk Islam. Namun, tidak ada riwayat sahih yang secara tegas menyatakan hal tersebut. Karena itu, anggapan itu lebih tepat dipahami sebagai dugaan, bukan fakta sejarah.
Diceritakan, Julaybib sering merasa minder dengan kondisi dirinya — penampilannya yang kurang menarik, status sosial yang rendah, dan ketidaktahuan tentang asal-usulnya. Tapi di balik itu, ada ketulusan dan keberanian yang nyata dalam setiap tindakannya. Sikap itulah yang membuat Nabi Muhammad SAW memperhatikannya dan menyayanginya, sehingga namanya tetap dikenang meski catatan sejarah tentang dirinya sangat sedikit.
Kisah yang paling dikenal tentang Julaybib berkaitan dengan pernikahannya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Suatu hari Nabi SAW menanyakan kepadanya tentang pernikahan. Julaybib menjawab dengan kerendahan hati, menyadari bahwa dirinya bukan sosok yang biasanya menjadi pilihan keluarga untuk dijadikan menantu. Nabi SAW kemudian mendatangi seorang lelaki dari kalangan Anshar dan menawarkan Julaybib sebagai calon suami bagi putrinya. Keluarga itu pada awalnya merasa keberatan. Namun sang putri menerima, karena ia tidak ingin menolak pilihan yang datang melalui Nabi Muhammad SAW. Pernikahan itu pun berlangsung.
Tidak lama setelah pernikahannya, Julaybib ikut serta dalam sebuah peperangan bersama Nabi SAW. Riwayat dalam Shahih Muslim tidak menyebutkan secara spesifik nama peperangan tersebut, hanya menjelaskan bahwa ia gugur di medan perang pada masa Madinah. Setelah pertempuran usai, Nabi SAW menanyakan keberadaan para sahabat dan akhirnya menemukan Julaybib di antara mereka yang telah syahid. Disebutkan bahwa ia telah membunuh tujuh musuh sebelum akhirnya terbunuh.
Peristiwa itu menjadi bagian paling dikenal dari kisahnya. Di hadapan para sahabat, Nabi SAW bersabda, “Ia bagian dariku dan aku bagian darinya.”
Tidak banyak yang tercatat tentang kehidupan Julaybib selain peristiwa ini. Ia bukan tokoh besar dalam sejarah, bukan pemimpin kabilah, dan bukan perawi hadis yang banyak meriwayatkan ilmu. Namun satu pernyataan Nabi SAW sudah cukup menjadikan namanya dikenang. Kisahnya memperlihatkan bahwa kemuliaan dalam Islam tidak selalu ditentukan oleh nasab, harta, atau kedudukan sosial, melainkan oleh iman, keberanian, dan ketulusan—hal-hal yang mungkin tidak selalu tampak, tetapi dinilai tinggi oleh Nabi Muhammad SAW.
Dari kisah Julaybib kita bisa belajar bahwa menjadi istimewa tidak selalu berarti menjadi orang besar atau terkenal. Nilai seseorang tidak diukur dari status, harta, atau kedudukan, tetapi dari ketulusan, keberanian, dan kesetiaan dalam tindakan sehari-hari. Kita tidak perlu menunggu pengakuan dunia untuk merasa berarti; cukup menjadi diri sendiri, melakukan hal-hal yang benar, dan berkontribusi dengan apa yang kita bisa. Julaybib menunjukkan bahwa tindakan kecil yang tulus, meski sederhana, bisa meninggalkan jejak yang abadi.
Penulis : Jamaah Gusdurian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar