Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjejaki Kiprah Sang Menteri, di Tengah Moralitas Zaman yang Semakin Tergerus

  • account_circle Andi Dzulfahmi Hamzah
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 262
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Niat Tulus, Visi, dan Kita yang Sering Kali Keliru dalam Memahami

Gagasan Nasaruddin Umar selalu tampak asing pada pandangan pertama, tetapi seringkali dunia berpihak dan membenarkannya. Sekurang-kurangnya, ada 4 visi besar yang terus menerus digaungkan oleh beliau semenjak menjadi Menteri Agama: 1) Moderasi dan Kerukunan Ummat Beragama, 2) Kurikulum Berbasis Cinta, 3) Ekotelogi, 4) Pemberdayaan Ekonomi Ummat. Namun sebelum menitih lebih jauh, saya ingin mengambil contoh terdahulu, bagaimana gagasan beliau memperjuangkan keadilan gender di Indonesia tidak semulus dan semudah membalikkan telapak tangan.

Tiga dekade silam, ketika menulis disertasi tentang perspektif gender dalam Al-Qur’an, gagasan Nasaruddin Umar dicemooh sebagai bid’ah modernis. Ia dituding menyimpang, tetapi tetap menulis, berdialog, dan menjaga kerendahan hati. Hari ini, ketika perempuan Indonesia dapat memimpin lembaga, menjadi rektor, mengendarai motor sendiri, bahkan diakui sebagai ulama, sesungguhnya kita sedang menikmati buah dari pohon yang ditanam orang-orang seperti Nasaruddin Umar puluhan tahun lalu. Wadud (1999) menyebut pendekatan ini sebagai gender-sensitive hermeneutics: tafsir yang membaca teks suci dengan kepekaan sosial-historis. Sementara Mernissi (1991) mengingatkan bagaimana tafsir patriarkal kerap ditampilkan seolah-olah sebagai suara Tuhan. Nasaruddin Umar termasuk salah satu pelopor pendekatan ini di Asia Tenggara. Ironisnya, banyak hal yang dulu dicemooh kini justru perlahan menjadi konsensus yang diterima diam-diam.

Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, dan bersamanya problematika global ikut bergeser secara signifikan. Salah satu isu paling krusial adalah perubahan iklim. Laporan IPCC Sixth Assessment Report (2021–2023) mencatat kenaikan suhu global telah mencapai sekitar 1,1°C dibanding era pra-industri, dengan risiko tinggi melampaui 1,5°C dalam waktu dekat jika emisi tidak ditekan. Di sisi lain, Nicholas Stern (Stern Review, 2006) menegaskan bahwa dampak perubahan iklim dapat menurunkan PDB global hingga 5–20% per tahun, sementara biaya mitigasi hanya sekitar 1% PDB, sehingga ketidakbertindakan merupakan risiko ekonomi yang sangat besar.

Namun dalam perspektif Nasaruddin Umar, persoalan ini tidak cukup dibaca melalui kebijakan dan ekonomi semata. Ada dimensi yang lebih fundamental, yaitu cara manusia memaknai alam. Melalui gagasan ekoteologi, alam dipahami bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi memiliki dimensi kesakralan yang wajib dijaga. Dalam kerangka ini, agama tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadi kekuatan transformatif yang mengubah cara hidup manusia, termasuk relasinya dengan alam.

  • Penulis: Andi Dzulfahmi Hamzah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

    Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Gagal membawa pulang bongkahan emas dari Lembah Tupalo, kaum kolonial Belanda tidak lantas meninggalkan kawasan itu. Mereka kemudian menyusuri aliran sungai dengan harapan menemukan bongkahan emas lain yang lebih mudah diangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menurut penututan warga, rombongan serdadu itu memutuskan berhenti di sebuah puncak perbukitan. Di tempat itulah mereka mendirikan sebuah […]

  • Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang kritik publik terhadap penanganan kasus hukum yang menjerat Hogi Minaya, seorang suami korban penjambretan, akhirnya berujung pada keputusan tegas dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kapolres Sleman Kombes Pol Edy Setyanto resmi dinonaktifkan sementara dari jabatannya. Keputusan tersebut diambil menyusul polemik penetapan status tersangka terhadap Hogi Minaya, yang justru diproses hukum setelah berusaha […]

  • Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Padahal kesabaran sejati tidak pernah identik dengan diam. Dalam pemikiran Max Weber tentang ethic of responsibility, kedewasaan sosial justru lahir dari kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap keadaan di sekitarnya. Artinya, menerima kenyataan hari ini bukan berarti berhenti mengubah hari esok. Kesabaran seharusnya menjadi daya tahan moral agar seseorang tidak mudah patah, sambil tetap […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • Laporan Langit

    Laporan Langit

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Masalahnya, banyak dari kita terjebak pada sistem pencatatan tunggal: single entry dunia saja. Yang penting saldo rekening bertambah, jabatan naik, proyek cair. Soal saldo akhirat? “Nanti saja diatur.” Padahal dalam logika akuntansi, laporan yang hanya mencatat satu sisi pasti tidak seimbang. Neraca hidup pun bisa timpang: aset dunia menumpuk, tetapi liabilitas moral menggunung. Di bulan […]

  • Mengapa Literasi Keuangan Perempuan Menentukan Masa Depan Anak

    Mengapa Literasi Keuangan Perempuan Menentukan Masa Depan Anak

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Sutanti Idris
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Perempuan yang cerdas secara finansial juga mampu menciptakan pola parenting yang lebih sehat. Ia memahami bahwa kasih sayang tidak selalu diwujudkan dengan memenuhi semua keinginan anak. Banyak orang tua tanpa sadar mengganti kehadiran emosional dengan materi. Anak diberikan fasilitas berlebihan, tetapi kehilangan pendidikan karakter tentang kesederhanaan dan tanggung jawab. Literasi keuangan mengajarkan bahwa nilai hidup […]

expand_less