Menjejaki Kiprah Sang Menteri, di Tengah Moralitas Zaman yang Semakin Tergerus
- account_circle Andi Dzulfahmi Hamzah
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 61
- print Cetak

Andi Dzulfahmi Hamzah/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Yang perlu dikritisi secara serius adalah lemahnya kapasitas komunikasi digital kelembagaan di lingkungan Kementerian Agama. Inkonsistensi penyampaian, klarifikasi yang berulang, hingga misinterpretasi publik menunjukkan adanya kegagalan manajerial yang tidak bisa dianggap sepele. Karena itu, harus ada pihak yang secara tegas bertanggung jawab atas hal tersebut di dalam tubuh kementerian. Tanpa itu, distorsi akan terus berulang, dan setiap gagasan strategis akan terus tenggelam dalam salah tafsir yang sebenarnya bisa dicegah.
Penutup: Membaca dengan Jernih, Bukan dengan Kebisingan
Pada akhirnya, di tengah moralitas yang tergerus oleh zaman, kita mungkin tidak terlalu kekurangan tokoh. Kekurangan kita adalah pembaca yang sabar, yang bersedia menahan diri sebelum informasi ditelaah dengan baik, yang membaca pidato dua jam alih-alih sepuluh detik, yang mau memahami konteks alih-alih menelan judul dan potongan video mentah-mentah.
Membaca Nasaruddin Umar adalah membaca pertanyaan tentang diri kita sendiri: apakah kita masih mampu membaca dengan jernih, atau kita hanya membaca kebisingan? Apakah kita masih mengizinkan tokoh-tokoh tumbuh di republik ini, atau kita memilih merobohkan setiap pohon beringin yang akarnya tidak kita pahami?
Sang Menteri akan terus berjalan. Sejarah pula yang akan menulis bab-bab selanjutnya. Tugas kita lebih sederhana, namun lebih sulit: Belajar membaca.
Penulis : Direktur Program NUO
- Penulis: Andi Dzulfahmi Hamzah

Saat ini belum ada komentar