Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
  • visibility 288
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jean Baudrillard memberi kacamata yang tajam untuk membaca situasi ini. Dalam logika simulacra, realitas tidak lagi diukur dari apa yang sungguh terjadi, melainkan dari bagaimana ia ditampilkan. Kebijakan publik berubah menjadi pertunjukan. Yang penting bukan lagi apakah program bekerja, tetapi apakah ia terlihat bekerja. Klarifikasi berfungsi sebagai simulasi keberhasilan—menutup kegagalan dengan citra, mengganti kenyataan dengan narasi.

Akibatnya, pemborosan tak hanya bersifat anggaran, tetapi juga makna. Dana publik tersedot untuk mengelola persepsi, bukan memperbaiki substansi. Anggaran yang seharusnya bisa meningkatkan kualitas gizi anak-anak justru tergerus untuk menjaga “wajah” kebijakan agar tetap tampak mulus di ruang publik.

Dalam istilah agama ini bisa dibaca sebagai riya’ birokrasi: bekerja agar terlihat bekerja. Negara tampak sibuk, tetapi kesibukan itu kehilangan niat pengabdian. Ketika yang dijaga adalah wibawa kekuasaan, bukan efektivitas kebijakan, maka pemborosan menjadi kebiasaan, bahkan sistem.

Sialnya lagi Pola Negeri Tiba-Tiba hanya akan melahirkan kelelahan kolektif. Publik dipaksa terus menyesuaikan diri dengan kejutan-kejutan kebijakan yang rapuh fondasinya. Ruang dialog menyempit, kritik dianggap gangguan, dan klarifikasi menjelma monolog kekuasaan.

Negara yang mapan seharusnya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan. Ia cukup bekerja dengan tenang, terukur, dan terbuka pada koreksi. Seperti puasa, kekuasaan juga perlu belajar menahan diri—menahan diri dari godaan tampil serba cepat dan mendadak. Tanpa itu, setiap rupiah dari kantong rakyat hanya akan habis sebagai bahan bakar mesin citra yang bising, alih-alih benar-benar menjelma manfaat bagi mereka yang paling membutuhkan.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengapa Saya Menjagokan Brazil dan Portugal Sebagai Juara Piala Dunia 2026

    Mengapa Saya Menjagokan Brazil dan Portugal Sebagai Juara Piala Dunia 2026

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Memprediksi juara Piala Dunia bukan sesuatu yang mudah dan beresiko, tentu saja. Sepak bola terlalu kaya dengan kejutan untuk dipastikan hasil akhirnya. Beresiko karena beberapa tim sepakbola telah memiliki penggemar fanatik yang siap menolak prediksi yang tidak memperhitungkan timnya. Saat ini, saya sedang mengembangkan satu metode yang saya sebut matematika sosial. Saya sudah menulisnya di web BDK […]

  • Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

    Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Fajrullah
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Menjelang Ramadan 1447 Hijriah (2026 Masehi), umat Islam di Indonesia berpotensi kembali dihadapkan pada perbedaan penetapan awal puasa. Kali ini, pemicunya adalah fenomena astronomis unik: Sang Bulan Baru (Hilal) sejatinya belum lahir saat tanggal 29 Syakban 1447 H. Penentuan awal Ramadan akan berpusat pada Selasa, 17 Februari 2026 (29 Syakban). Kunci perdebatan ada pada waktu […]

  • Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membantah tudingan bahwa dirinya menikmati dana dalam kasus dugaan korupsi kuota haji yang tengah ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pernyataan tersebut disampaikan Yaqut kepada awak media setelah keluar dari ruang pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2025). Saat itu, ia terlihat telah mengenakan rompi oranye khas […]

  • Khutbah Jumat : Ampunan Allah Tak Terbatas

    Khutbah Jumat : Ampunan Allah Tak Terbatas

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan yang sering membuat manusia terjatuh dalam kesalahan, ada satu hal yang tak pernah berubah: luasnya ampunan Allah. Betapapun jauh langkah kita menyimpang, betapapun sering kita mengulang dosa yang sama, pintu rahmat itu tetap terbuka—tidak pernah dikunci, tidak pernah habis. Manusia adalah tempatnya lupa dan salah. Ia berjalan dengan keterbatasan, tersandung oleh hawa […]

  • Intangible Langit

    Intangible Langit

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Masalahnya, yang kedua ini sering kalah populer. Akuntansi langit: aset yang tak kelihatan. Coba kita bayangkan kalau malaikat benar-benar menerapkan standar akuntansi. Barangkali di langit ada semacam SAK Syariah Akhirat (Standar Akuntansi Kehidupan Abadi). Dalam standar itu, Ramadhan adalah periode revaluasi aset spiritual. Misalnya: Puasa → meningkatkan nilai aset kesabaran Sedekah → meningkatkan nilai likuiditas […]

  • Yang Nanam Malah Lapar

    Yang Nanam Malah Lapar

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) adalah usia yang cukup matang untuk merenung: apakah jam’iyah ini masih sekadar kuat di tahlilan, atau sudah cukup berani kuat di laporan keuangan? Gus Dur pernah berkelakar, “NU itu besar sekali, tapi kalau ditanya asetnya, jawabannya sering: berkah.” Masalahnya, berkah saja tidak cukup untuk bayar pupuk, solar kapal nelayan, dan […]

expand_less