Breaking News
light_mode
Trending Tags

Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
  • visibility 181
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jean Baudrillard memberi kacamata yang tajam untuk membaca situasi ini. Dalam logika simulacra, realitas tidak lagi diukur dari apa yang sungguh terjadi, melainkan dari bagaimana ia ditampilkan. Kebijakan publik berubah menjadi pertunjukan. Yang penting bukan lagi apakah program bekerja, tetapi apakah ia terlihat bekerja. Klarifikasi berfungsi sebagai simulasi keberhasilan—menutup kegagalan dengan citra, mengganti kenyataan dengan narasi.

Akibatnya, pemborosan tak hanya bersifat anggaran, tetapi juga makna. Dana publik tersedot untuk mengelola persepsi, bukan memperbaiki substansi. Anggaran yang seharusnya bisa meningkatkan kualitas gizi anak-anak justru tergerus untuk menjaga “wajah” kebijakan agar tetap tampak mulus di ruang publik.

Dalam istilah agama ini bisa dibaca sebagai riya’ birokrasi: bekerja agar terlihat bekerja. Negara tampak sibuk, tetapi kesibukan itu kehilangan niat pengabdian. Ketika yang dijaga adalah wibawa kekuasaan, bukan efektivitas kebijakan, maka pemborosan menjadi kebiasaan, bahkan sistem.

Sialnya lagi Pola Negeri Tiba-Tiba hanya akan melahirkan kelelahan kolektif. Publik dipaksa terus menyesuaikan diri dengan kejutan-kejutan kebijakan yang rapuh fondasinya. Ruang dialog menyempit, kritik dianggap gangguan, dan klarifikasi menjelma monolog kekuasaan.

Negara yang mapan seharusnya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan. Ia cukup bekerja dengan tenang, terukur, dan terbuka pada koreksi. Seperti puasa, kekuasaan juga perlu belajar menahan diri—menahan diri dari godaan tampil serba cepat dan mendadak. Tanpa itu, setiap rupiah dari kantong rakyat hanya akan habis sebagai bahan bakar mesin citra yang bising, alih-alih benar-benar menjelma manfaat bagi mereka yang paling membutuhkan.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban Ya Ramadhan

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu 
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Dalam salah satu bukunya yang masuk kategori best seller yakni Lentera Al-Qur’an, kisah dan hikmah kehidupan, salah satu tema yang dikupas Prof Quraish adalah menyangkut ramadhan. Ada dua kata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang, yakni marhaban dan ahlan wa sahlan, keduanya berarti selamat datang, tapi beda dalam penggunaan kalimat tersebut. Menurut Prof Quraish, […]

  • LBH Papua Pos Sorong Duga Kapolresta Lindungi Anggota dalam Kasus Penyiksaan Warga Sipil

    LBH Papua Pos Sorong Duga Kapolresta Lindungi Anggota dalam Kasus Penyiksaan Warga Sipil

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 123
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pos Sorong menduga Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Sorong, Papua Barat Daya, melakukan pembiaran dan melindungi oknum anggota kepolisian yang diduga terlibat dalam kasus penyiksaan terhadap warga sipil bernama Ortizan F. Tarage. Dilansir dari Jubi.id, Dugaan tersebut disampaikan anggota LBH Papua Pos Sorong, Ambrosius Kelagilit, menyusul lambannya penanganan […]

  • Intangible Langit

    Intangible Langit

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Masalahnya, yang kedua ini sering kalah populer. Akuntansi langit: aset yang tak kelihatan. Coba kita bayangkan kalau malaikat benar-benar menerapkan standar akuntansi. Barangkali di langit ada semacam SAK Syariah Akhirat (Standar Akuntansi Kehidupan Abadi). Dalam standar itu, Ramadhan adalah periode revaluasi aset spiritual. Misalnya: Puasa → meningkatkan nilai aset kesabaran Sedekah → meningkatkan nilai likuiditas […]

  • Bawaslu Kota Gorontalo Perkuat Kapasitas Panwascam Hadapi Tahapan Verifikasi Faktual

    Bawaslu Kota Gorontalo Perkuat Kapasitas Panwascam Hadapi Tahapan Verifikasi Faktual

    • calendar_month Sabtu, 15 Jun 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 43
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bawaslu Kota Gorontalo menggelar kegiatan peningkatan kapasitas bagi Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) se-Kota Gorontalo dalam rangka mempersiapkan pengawasan tahapan Verifikasi Faktual (Verfak) dukungan calon perseorangan pada Pemilihan Serentak 2024. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Yulia pada Sabtu–Minggu, 15–16 Juni 2024. Anggota Bawaslu Kota Gorontalo, Herlina Antu, menjelaskan bahwa penguatan kapasitas ini bertujuan agar […]

  • Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Imam al-Ghazālī menempatkan kepemimpinan sebagai amanah agung yang tidak hanya diukur dari kecakapan administratif atau kekuasaan struktural, melainkan dari kesatuan antara intelektualitas, spiritualitas, dan akhlak. Seorang pemimpin, menurut al-Ghazālī, bukan sekadar pengatur urusan lahiriah, tetapi tabib sosial—yang mampu mengobati kerusakan moral, kegersangan spiritual, dan kehancuran nilai dalam tubuh masyarakat atau […]

  • Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran Play Button

    Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 275
    • 0Komentar

    Ingatan manusia sering kali tertuju pada hal-hal yang dianggap penting. Jika pernyataan ini benar, maka muncul pertanyaan: apakah kecenderungan ini termasuk dalam ranah emosi atau hal yang bersifat rasional? Banyak yang berpendapat bahwa ini lebih berkaitan dengan emosi. Sebab, ketika seseorang lebih mudah mengingat hal-hal yang bermakna secara pribadi, emosional, atau bernilai subjektif, itu menunjukkan […]

expand_less