Nusantara sebagai nafas panjang Peradaban Dunia: Dari Migrasi Purba hingga kemandirian ilmiah
- account_circle Zulkifli
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 121
- print Cetak

Zulkifl/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ironisnya, kita sebagai negara yang menjadi pusat penelitian dunia tetapi belum memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan penelitian, sehingga kita harus mengirim sampel keluar negri untuk diteliti dan pasti mengeluarkan anggaran yang jauh lebih besar. Ini menjadi tolak ukur bahwa seharusnya kita memiliki alat yang memadai bagi para peneliti.
Mengubah narasi sejarah dunia
Penemuan seni cadas di Sulawesi semakin menegaskan posisi strategis Nusantara dalam sejarah peradaban manusia. Di kawasan Leang Metanduno, Pulau Muna, ditemukan lukisan cap tangan yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun. Temuan ini melampaui rekor sebelumnya di kawasan Maros-Pangkep.
Penemuan tersebut bukan hanya soal angka usia. Ia mengubah cara dunia memandang asal-usul seni dan simbolisme manusia. Selama bertahun-tahun, Eropa sering ditempatkan sebagai pusat awal seni prasejarah. Namun, temuan di Sulawesi menunjukkan bahwa kemampuan berpikir simbolik—kemampuan untuk merepresentasikan pengalaman dan makna melalui gambar—telah berkembang di Nusantara pada masa yang sangat tua.
Cap tangan, gambar hewan, dan representasi aktivitas manusia mengindikasikan bahwa manusia purba tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga merefleksikan kehidupannya. Mereka meninggalkan jejak, seolah ingin berbicara kepada generasi yang belum lahir. Di titik inilah Nusantara tampil bukan sekadar sebagai wilayah migrasi, melainkan sebagai salah satu pusat awal ekspresi intelektual manusia.
Antara ” Out Of Afrika ” Dan Tantangan Ilmiah Nusantara
Dalam diskursus evolusi manusia, dan persebaran Hominin, teori Out of Africa masih menjadi landasan utama. Bukti fosil tertua memang ditemukan di Afrika dengan usia sekitar 3,5 juta tahun, sementara temuan tertua di Nusantara berada pada kisaran 1,8–1,5 juta tahun.
Wacana tandingan seperti “Out of Nusantara” tentu menarik secara nasionalisme, tetapi ilmu pengetahuan tidak berdiri di atas kebanggaan, melainkan pada data. Sampai saat ini, belum ada bukti empiris yang mampu menggugurkan dominasi temuan di Afrika. Namun, hal ini bukan berarti teori Out of Africa tidak bisa terbantahkan.
- Penulis: Zulkifli

Saat ini belum ada komentar