Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi
- account_circle Suko Wahyudi
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- visibility 169
- print Cetak

Suko Wahyudi/istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan sejatinya mengajarkan integritas yang tidak bergantung pada sorotan publik. Puasa melatih manusia untuk jujur dalam kesunyian, taat tanpa pengawasan manusia. Nilai ini relevan bagi kehidupan politik. Stabilitas yang kokoh tidak lahir dari pengelolaan persepsi, melainkan dari konsistensi antara simbol dan realitas. Kejujuran yang tidak dipentaskan justru menjadi sumber legitimasi yang paling kuat.
Tantangan demokrasi Indonesia saat ini bukan semata soal mekanisme elektoral atau desain kelembagaan. Tantangannya adalah bagaimana mengubah stabilitas prosedural menjadi stabilitas substantif. Stabilitas substantif berarti rakyat merasakan keadilan, bukan hanya melihat ketertiban. Ia berarti hukum dipahami sebagai pelindung, bukan ancaman. Ia berarti kritik tidak dipersepsi sebagai gangguan, melainkan sebagai bagian dari dinamika sehat
demokrasi.
Publik Indonesia kian kritis. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang memungkinkan mereka membandingkan janji dan realisasi secara cepat. Mereka tidak hanya menilai apa yang dikatakan pemimpin, tetapi juga apa yang dilakukan. Dalam situasi ini, politik pencitraan memiliki batas efektivitas. Ketika realitas tidak sejalan dengan narasi, kepercayaan sulit dipertahankan.
Kita tidak sedang berada dalam krisis terbuka yang mengguncang sendi negara. Namun gejala sinisme publik tidak bisa diabaikan. Sinisme muncul ketika rakyat merasa suaranya kurang didengar atau ketika kebijakan dinilai jauh dari kebutuhan nyata. Dalam jangka panjang, sinisme dapat menggerus partisipasi politik dan melemahkan kualitas demokrasi.
Ramadhan memberi kesempatan untuk melakukan muhasabah kolektif. Bukan hanya individu yang bertanya tentang kualitas ibadahnya, tetapi juga negara yang merefleksikan kualitas kebijakannya. Apakah stabilitas yang ada telah diiringi keadilan yang dirasakan. Apakah simbol kesalehan telah diikuti keberanian menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
- Penulis: Suko Wahyudi

Saat ini belum ada komentar