Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi
- account_circle Suko Wahyudi
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- visibility 168
- print Cetak

Suko Wahyudi/istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jika nilai nilai Ramadhan mampu meresap dalam tata kelola negara, maka politik simbolik dapat berubah menjadi politik pertanggungjawaban. Retorika amanah diikuti transparansi. Bahasa keberpihakan diikuti kebijakan yang berpihak. Komitmen keadilan diikuti penegakan hukum yang konsisten.
Stabilitas memang penting. Namun stabilitas yang tidak ditopang kepercayaan hanya akan menjadi ketenangan di permukaan. Demokrasi yang matang menuntut lebih dari sekadar keteraturan prosedural. Ia menuntut integritas moral yang hidup dalam tindakan, bukan sekadar hadir dalam simbol. Di bulan suci ini, refleksi tersebut menjadi relevan. Indonesia memiliki modal sosial dan spiritual yang besar. Ramadhan setiap tahun memperkuat solidaritas dan empati. Tantangannya adalah bagaimana energi moral itu tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi mengalir ke ruang kebijakan.
Pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemampuannya menjaga stabilitas, tetapi dari kemampuannya menjaga kepercayaan. Stabilitas bisa dirancang melalui sistem. Kepercayaan hanya bisa dibangun melalui kejujuran dan konsistensi. Jika keduanya berjalan beriringan, maka demokrasi Indonesia tidak hanya stabil secara prosedural, tetapi juga kokoh secara moral.
Penulis : Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta
- Penulis: Suko Wahyudi

Saat ini belum ada komentar