Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ramadhan Yang Robek

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 95
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo)

Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia.

Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional.

Banyak definisi yang dikemukakan oleh para Psikolog tentang emosi. Tapi pada intinya emosi dipahami sebagai suatu perasaan yang muncul sebagai respons terhadap situasi atau orang tertentu.

Kecenderungan emosi sangat tergantung dengan situasi batin seseorang. Emosi yang muncul dari positive thinking melahirkan rasa cinta, kasih, simpati dan empati. Sebaliknya, emosi yang muncul dari negative thinking akan melahirkan rasa curiga, marah dan benci.

Problematika kejiwaan yang paling sulit dirasakan oleh setiap orang adalah kemampuannya memproteksi diri dari emosi negatif yang berpotensi besar merusak batin dan bahkan berpotensi merusak diri sendiri dan orang lain.

Ada sebuah pernyataan yang sering disampaikan orang bahwa ketidakmampuan mengendalikan emosi akan melahirkan penyesalan yang tiada akhir. Benar. Memang begitu realitanya.

Luapan emosi negatif akan dialami oleh siapa saja. Emosi tidak memandang kasta. Anak, orang tua, guru, murid, para buruh, rakyat, bawahan, majikan, pimpinan, orang awam, tidak terkecuali orang alim sekalipun disasar oleh sifat kejiwaan yang buruk ini. Dalam riwayat keislaman, sosok pribadi sekelas Abubakar Ashiddiq yang dikenal dengan kelembutan dan keteduhan jiwanya pernah melampiaskan amarahnya yang sangat besar ketika beliau dicaci oleh seseorang yang menyebabkan Nabi SAW menghindar dan menjauh darinya.

Oleh karena itu, dalam konteks ini, puasa menjadi momen penting menguji ketahanan jiwa dalam mengendalikan emosi. Seorang yang tempramental alias sumbu pendek akan menjadi pribadi yang memiliki kendali diri yang benar-benar teruji jika selama sebulan puasa tidak ada sama sekali luapan ataupun hanya sekedar letupan emosi terhadap kondisi sekitarnya. Sukses sebulan penuh mengendalikan emosi atau melewati hari-hari puasa tanpa marah menjadi bagian terpenting bagi kualitas nilai Ramadhan yang dijalani.

Secara pribadi saya memiliki pengalaman pahit sepahit empedu dalam hal pengendalian emosi ini. Saya biasa dipanggil Pak Haji atau Pak Ustadz, bahkan terkadang dipanggil Pak Kiyai. Gelar kehormatan yang diberi oleh masyarakat ini memiliki konsekuensi yang sangat berat. Pribadi yang dipanggil haji, ustadz dan kiyai dianggap telah memiliki semua atribut lahir batin dalam wilayah agama. Pribadinya menjadi barometer kemampuan dan kekuatan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama. Ternyata status mulia pemberian masyarakat ini tidak kemudian membuat saya menjadi pribadi yang paripurna yang semestinya menjadi teladan yang baik.

Di saat seharusnya saya mempraktikkan hidup di Ramadhan tanpa marah dan di saat saya harus menyampaikan nasehat tentang puasa sebagai wadah pengendalian emosi, malahan saya yang terperangkap dalam emosi yang tidak terkendali.

Hari itu, di saat puasa telah berada di puncak hari, saya melampiaskan emosi dengan mengungkapkan kata-kata kemarahan kepada seseorang sebagai bentuk ketidaksukaan atas situasi yang terjadi. Tidak penting mengisahkan peristiwanya, karena intinya adalah marah besar di saat puasa.

Padahal saya sudah berkomitmen untuk tidak marah sedikit pun dalam hal apa pun dan dalam situasi apa pun selama Ramadhan. Ternyata saya gagal 1000%. Target menjadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu menjadi sebuah impian yang belum bisa diwujudkan. Entahlah jika Tuhan masih mengizinkan untuk mendapatkan bulan mulia ini pada tahun yang akan datang. Hanya bisa berharap lewat doa.

Setelah melampiaskan kemarahan dan kembali ke ruang kerja. Seluruh badan terasa lemah, persendian rasanya putus semua. Ada penyesalan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ingin rasanya memutar waktu untuk mensetting kembali peristiwa yang dijalani. Dalam batin ini ada “rasa” tidak khusyu’ lagi menjalani rutinitas amaliah Ramadhan karena selalu dibayangi oleh setitik noda yang ditorehkan di momen termulia ini.

Saya membayangkan bahwa hari itu para pembesar setan datang dari lapisan bumi paling dalam atau dari petala langit terjauh yang ditugaskan khusus membawa misi merasuk dan merusak hati seorang haji, Ustadz, Kiyai yang tidak pantas dipanggil kiyai dan memang tidak pantas.

Hari ini, kertas putih Ramadhan yang yang berisikan tulisan indah keimanan, pengabdian, dan keikhlasan itu telah robek di bagian sudutnya atau di bagian tengahnya dengan robekan yang merusak kebeningan warnanya. Hari ini Ramadhan saya benar-benar cacat.

Satu hal lagi yang saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri adalah saya telah memiliki andil besar dalam merobek Ramadhan orang lain yang telah dia jaga berhari-hari. 😭

Astaghfirullahal ‘Azhiim

Gorontalo, 04 Ramadhan 1446 H / 04 Maret 2025 M

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 91
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor. Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai konferensi pers penanganan bencana di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). “Direncanakan begitu (tahun baru ke Sumatra),” ujar Prasetyo Hadi, […]

  • WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan Inc terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga seumur cadangan tembaga dan emas di Papua sebagai kebijakan yang berpotensi melanjutkan krisis ekologis dan kemanusiaan di Tanah Papua. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even […]

  • Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    • calendar_month 1 jam yang lalu
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium. Berguru pada Tauhid ala […]

  • Dua Bocah SD Salurkan Donasi, Jamil: Anak Sekecil Itu Memang Sangat Menggetarkan Batin

    Dua Bocah SD Salurkan Donasi, Jamil: Anak Sekecil Itu Memang Sangat Menggetarkan Batin

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Tepat pada Senin, 1 Desember 2025 pukul 10 pagi WIB, di sebuah posko penggalangan donasi bencana alam yang terjadi di Sumbar, Sumut dan Aceh yang berlokasi di kantor PB PMII, Dua anak berseragam SD datang membawa pesan moral. Dengan tangan mungil yang belum mengenal rumitnya dunia Mereka menyerahkan uang lima ribu rupiah. Nilai […]

  • Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 128
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi dan pelaku pasar. Salah satu kritik datang dari intelektual Nahdlatul Ulama sekaligus ekonom, Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, yang menilai dinamika tersebut memunculkan kekhawatiran terkait independensi lembaga moneter. Dalam tulisan opininya yang berjudul; “Pasar Masuk Angin” tayang di […]

  • KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat Play Button

    KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 244
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi mendoakan orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia kembali ditegaskan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Muhyiddin Zeny dalam pengajian rutin yang disiarkan melalui Nutizen TV. Dalam kajiannya, KH Muhyiddin Zeny menjelaskan bahwa amal kebaikan orang yang masih hidup dapat disampaikan pahalanya kepada orang yang telah wafat, […]

expand_less