Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ramadhan Yang Robek

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 58
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo)

Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia.

Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional.

Banyak definisi yang dikemukakan oleh para Psikolog tentang emosi. Tapi pada intinya emosi dipahami sebagai suatu perasaan yang muncul sebagai respons terhadap situasi atau orang tertentu.

Kecenderungan emosi sangat tergantung dengan situasi batin seseorang. Emosi yang muncul dari positive thinking melahirkan rasa cinta, kasih, simpati dan empati. Sebaliknya, emosi yang muncul dari negative thinking akan melahirkan rasa curiga, marah dan benci.

Problematika kejiwaan yang paling sulit dirasakan oleh setiap orang adalah kemampuannya memproteksi diri dari emosi negatif yang berpotensi besar merusak batin dan bahkan berpotensi merusak diri sendiri dan orang lain.

Ada sebuah pernyataan yang sering disampaikan orang bahwa ketidakmampuan mengendalikan emosi akan melahirkan penyesalan yang tiada akhir. Benar. Memang begitu realitanya.

Luapan emosi negatif akan dialami oleh siapa saja. Emosi tidak memandang kasta. Anak, orang tua, guru, murid, para buruh, rakyat, bawahan, majikan, pimpinan, orang awam, tidak terkecuali orang alim sekalipun disasar oleh sifat kejiwaan yang buruk ini. Dalam riwayat keislaman, sosok pribadi sekelas Abubakar Ashiddiq yang dikenal dengan kelembutan dan keteduhan jiwanya pernah melampiaskan amarahnya yang sangat besar ketika beliau dicaci oleh seseorang yang menyebabkan Nabi SAW menghindar dan menjauh darinya.

Oleh karena itu, dalam konteks ini, puasa menjadi momen penting menguji ketahanan jiwa dalam mengendalikan emosi. Seorang yang tempramental alias sumbu pendek akan menjadi pribadi yang memiliki kendali diri yang benar-benar teruji jika selama sebulan puasa tidak ada sama sekali luapan ataupun hanya sekedar letupan emosi terhadap kondisi sekitarnya. Sukses sebulan penuh mengendalikan emosi atau melewati hari-hari puasa tanpa marah menjadi bagian terpenting bagi kualitas nilai Ramadhan yang dijalani.

Secara pribadi saya memiliki pengalaman pahit sepahit empedu dalam hal pengendalian emosi ini. Saya biasa dipanggil Pak Haji atau Pak Ustadz, bahkan terkadang dipanggil Pak Kiyai. Gelar kehormatan yang diberi oleh masyarakat ini memiliki konsekuensi yang sangat berat. Pribadi yang dipanggil haji, ustadz dan kiyai dianggap telah memiliki semua atribut lahir batin dalam wilayah agama. Pribadinya menjadi barometer kemampuan dan kekuatan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama. Ternyata status mulia pemberian masyarakat ini tidak kemudian membuat saya menjadi pribadi yang paripurna yang semestinya menjadi teladan yang baik.

Di saat seharusnya saya mempraktikkan hidup di Ramadhan tanpa marah dan di saat saya harus menyampaikan nasehat tentang puasa sebagai wadah pengendalian emosi, malahan saya yang terperangkap dalam emosi yang tidak terkendali.

Hari itu, di saat puasa telah berada di puncak hari, saya melampiaskan emosi dengan mengungkapkan kata-kata kemarahan kepada seseorang sebagai bentuk ketidaksukaan atas situasi yang terjadi. Tidak penting mengisahkan peristiwanya, karena intinya adalah marah besar di saat puasa.

Padahal saya sudah berkomitmen untuk tidak marah sedikit pun dalam hal apa pun dan dalam situasi apa pun selama Ramadhan. Ternyata saya gagal 1000%. Target menjadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu menjadi sebuah impian yang belum bisa diwujudkan. Entahlah jika Tuhan masih mengizinkan untuk mendapatkan bulan mulia ini pada tahun yang akan datang. Hanya bisa berharap lewat doa.

Setelah melampiaskan kemarahan dan kembali ke ruang kerja. Seluruh badan terasa lemah, persendian rasanya putus semua. Ada penyesalan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ingin rasanya memutar waktu untuk mensetting kembali peristiwa yang dijalani. Dalam batin ini ada “rasa” tidak khusyu’ lagi menjalani rutinitas amaliah Ramadhan karena selalu dibayangi oleh setitik noda yang ditorehkan di momen termulia ini.

Saya membayangkan bahwa hari itu para pembesar setan datang dari lapisan bumi paling dalam atau dari petala langit terjauh yang ditugaskan khusus membawa misi merasuk dan merusak hati seorang haji, Ustadz, Kiyai yang tidak pantas dipanggil kiyai dan memang tidak pantas.

Hari ini, kertas putih Ramadhan yang yang berisikan tulisan indah keimanan, pengabdian, dan keikhlasan itu telah robek di bagian sudutnya atau di bagian tengahnya dengan robekan yang merusak kebeningan warnanya. Hari ini Ramadhan saya benar-benar cacat.

Satu hal lagi yang saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri adalah saya telah memiliki andil besar dalam merobek Ramadhan orang lain yang telah dia jaga berhari-hari. 😭

Astaghfirullahal ‘Azhiim

Gorontalo, 04 Ramadhan 1446 H / 04 Maret 2025 M

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Dalam dunia keuangan, laporan laba rugi sering jadi primadona. Investor melihatnya, direksi memamerkannya, media mengutipnya. Tapi bagi seorang akuntan, neraca—ya, struktur aset, kewajiban, dan ekuitas—adalah panggung sesungguhnya di mana kekuatan dan kelemahan suatu entitas benar-benar bisa dinilai. Maka ketika saya membaca laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) per 31 Desember 2024, […]

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • Masa Depan Partai Islam di Serambi Madinah oleh Dr. Funco Tanipu

    Masa Depan Partai Islam di Serambi Madinah oleh Dr. Funco Tanipu

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Partai-partai Islam di Indonesia rata-rata mengambil gambar Bulan sebagai lambang partainya masing-masing. Selain bulan, ada juga bintang sebagai bagian dari lambang partai. Selain partai, ada beberapa ormas yang menggunakan bulan sebagai lambang organisasi, seperti HMI, GP Ansor, dll. Bulan dan bintang memiliki makna keberanian, ketinggian, keteguhan, dan kekuatan politik yang menjamin tegaknya syariat Islam. Selain […]

  • Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Aliansi pemuda peduli rakyat Indonesia (APPRI) gelar aksi demonstrasi soal tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di depan kementrian imigrasi dan mabes polri pada Jum’at, 22 Agustus 2025. APPRI mendesak kepada Kapolri dan menteri imigrasi agar melakukan pemeriksaan terhadap oknum pejabat imigrasi Sumatera Utara dan imigrasi kota Medan karena diduga terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang. […]

  • Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini kita memang sering dikejutkan dengan berbagai berita mencengangkan. Dari pajak yang naik berlipat-lipat, hingga sewa tempat tinggal anggota dewan terhormat yang berjumlah 50 juta perbulan. Dan kita lagi lagi dikejutkan dengan viralnya berita seorang rektor perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan bawahannya. Berita pelecehan seksual semacam […]

  • Bukan Sekadar Tradisi, Ini Makna Al-Barzanji Menurut KH. Abdul Rasyid Kamaru Play Button

    Bukan Sekadar Tradisi, Ini Makna Al-Barzanji Menurut KH. Abdul Rasyid Kamaru

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 131
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Qadi Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Abdul Rasyid Kamaru, menyampaikan pengajian mendalam mengenai kitab Al-Barzanji dalam rangkaian majelis rutin di Masjid Agung Baiturrahim, Kota Gorontalo. Pada pertemuan ketujuh ini, beliau masih memfokuskan pembahasan pada bagian mukadimah (ibtidā’ul imlā’) sebelum memasuki bab inti. Dalam pengajiannya, KH. Abdul Rasyid menegaskan bahwa […]

expand_less