Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
- visibility 145
- print Cetak

Ilustrasi Sam’un Al-Gazi yang berdoa dalam penjara setelah dikhianati, sebelum kekuatannya dipulihkan oleh Allah dan ia menghancurkan istana yang menahannya—sebuah kisah yang sering dikaitkan dengan inspirasi keutamaan seribu bulan dalam malam Lailatul Qadr.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tetapi setiap orang memiliki titik lemah.
Dalam kisah yang banyak diceritakan dalam literatur klasik, kelemahan Sam’un terletak pada rambutnya. Selama rambut itu tetap utuh, kekuatannya seakan tidak pernah habis. Rahasia ini tidak diketahui oleh banyak orang. Satu-satunya orang yang mengetahui kelemahan Sam’un adalah istrinya sendiri.
Para penguasa yang ingin menjatuhkan Sam’un kemudian mendekati sang istri. Mereka membujuknya dengan berbagai janji harta dan kemewahan. Perlahan-lahan godaan itu menguasai hatinya. Pada akhirnya ia tergoda oleh janji duniawi dan memilih mengkhianati suaminya sendiri.
Suatu malam, ketika Sam’un tertidur pulas tanpa kecurigaan, istrinya diam-diam memotong rambutnya.
Ketika pagi tiba, kekuatan yang selama ini membuat Sam’un ditakuti seakan lenyap begitu saja. Musuh-musuhnya tidak membuang kesempatan itu. Mereka segera datang, menangkapnya tanpa perlawanan berarti, lalu mengikatnya dengan rantai dan memasukkannya ke dalam penjara bawah tanah.
Dalam keadaan terbelenggu dan pasrah, Sam’un berdoa kepada Allah. Ia memohon ampun atas kekhilafan yang telah terjadi dalam hidupnya. Dalam munajatnya ia juga memohon agar kekuatannya dikembalikan, dan ia bernazar akan melakukan kebajikan serta membela kebenaran selama 1000 bulan. Doa Sam’un kemudian dikisahkan diterima. Rambutnya tumbuh kembali dan kekuatannya pulih seperti semula. Dengan kekuatan itu ia memutus tali besi yang mengekangnya dan sekaligus menghancurkan istana raja yang menahannya hingga runtuh dan lebur.
Setelah peristiwa itu, Sam’un Al-Ghazi menepati janjinya. Ia menjalani hidup dengan melakukan kebaikan dan menumpas kejahatan selama 1000 bulan tanpa henti, sebagaimana nazar yang telah ia ucapkan sebelumnya.
Dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhari, para sahabat merasa kagum sekaligus iri dengan kesempatan Sam’un beribadah selama 1000 bulan. Mereka pun menginginkan kesempatan yang sama untuk meraih pahala yang begitu panjang. Tidak lama kemudian Rasulullah didatangi oleh Malaikat Jibril yang membawa kabar tentang malam Lailatul Qadr, sebuah malam yang turun setiap bulan Ramadhan. Malam itu menjadi kesempatan bagi umat Islam setiap tahun untuk memperoleh pahala yang nilainya melebihi seribu bulan—sebuah keutamaan yang dalam kisah ini dihubungkan dengan perjalanan panjang ibadah Sam’un Al-Ghazi.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar