Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Universalitas Sepak Bola dan Identity Sports

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Minggu, 11 Des 2022
  • visibility 121
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejatinya sepak bola adalah simbol universalisme. Negara-negara yang telah ditetapkan dan telah memenuhi persyaratan sebagai peserta Piala Dunia 2022, ikut meramaikan even sepak bola paling bergengsi di seantero dunia ini. 

Sudah barang tentu, negara peserta selalu didampingi oleh tim suporter fanatik dari negaranya masing-masing.

Para pendukung ataupun simpatisan dari negara lainnya yang tidak masuk sebagai peserta akan memilih dan menentukan tim yang akan mereka dukung dengan sebebas-bebasnya.

Sepengetahuan saya, selama Piala Dunia digelar, pilihan para pendukung didasarkan dengan berbagai alasan. Ada yang mendukung tim dari salah satu negara karena kepopuleran tim tersebut, ada yang karena materi pemainnya merata, ada yang karena kualitas permainan timnya yang bagus, ada yang karena penerapan strategi yang jitu, dan ada pula yang didasarkan pada semangat dan potensi kemenangan yang diharapkan.

Pendek kata, pilihan tidak lagi melihat sekat-sekat negara, batas teritorial, budaya, ras dan agama. Bahkan ketika tim Israil misalnya, saat mengikuti even sepak bola internasional, ada saja yang mendukung tim ini.

Padahal semua tahu bagaimana tragedi-tragedi kemanusiaan selalu dilakonkan oleh negara Yahudi ini. Itulah uniknya sepak bola. Menyatukan perbedaan dan melupakan sejenak problematika internal dan eksternal.

Kemunculan Maroko sebagai peserta Piala dunia tahun 2022 ini menampilkan fenomena yang sedikit berbeda. 

Sejak lolosnya Maroko ke fase 16 besar, dukungan yang bernuansa primordialisme mencuat ke permukaan. Isu agama dengan segala aksesorisnya ditampilkan lewat media. 

Dukungan yang bersifat eksklusif ini terus menguat ketika Maroko berhasil melaju ke Semi Final dengan membenamkan superioritas Spanyol.

Saya menamakan fenomena ini dengan “Identity Sports”, Olahraga yang mengedepankan simbol Identitas.

Lihat saja status maupun tulisan pendek yang diposting di media sosial. Ada parade shalawat, ada pengajian, ada doa, ada histori Maghribi dan invasi Andalusi dan lain sebagainya. Pokoknya Stigma yang dimunculkan adalah Eropa vs Afrika, Eropa (Non Muslim) vs Maroko (Muslim).

Mencermati fenomena ini, saya teringat dengan teori tentang Barat versus Islam dalam tulisan Samuel Huntington. Meski tidak sampai ke sana, tapi paling tidak bagi seseorang atau kelompok yang telah terdoktrinasi oleh pemikiran bahwa kapan saja, dimana saja, dan dalam even apapun selalu ada  “Battle of Religion”.

Maka doktrin ini akan selalu menjadi benih yang terus tertanam dalam hatinya dan akan berkecambah ketika dalam realitas apapun Barat vs Islam akan berhadap-hadapan secara langsung. Vis to Vis. Tak peduli apakah itu even  sosial, budaya dan tak terkecuali even olah raga.

Dukungan yang mengedepankan semangat eksklusifisme ini tidak bisa disalahkan apalagi dibendung. Karena memang tanpa sadar rasa keberagamaan itu muncul tiba-tiba pada diri seseorang secara personal maupun secara komunal sebagai bentuk ekspresi kebanggaan dan kecintaan kepada agama yang dianut.

Tapi mestikah agama harus dimasukan ke ranah olah raga   untuk menarik simpati dan dukungan ? Apakah simbol agama harus kita gadaikan untuk sekedar mendukung tim yang nota bene milik semua umat ?

Sepak bola itu milik semua bangsa. Sepak bola itu milik semua agama. Sepak bola itu wadah persaudaraan antar manusia. Jika dalam politik ada yang disebut “Identity Politics” atau “Politik Identitas” maka  biarlah itu menjadi komoditas politik.

Olah raga harus bebas dari aroma-aroma eksklusivitas. Semestinya Kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Dunia olah raga, khususnya sepak bola, adalah “Dunia universalitas”. “Dunia tanpa batas”.

Salam Olah Raga
Gorontalo, 11 Desember 2022
  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjelang HUT Bhayangkara ke-80, Polres Maros Ziarah dan Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan Maccopa Kab Maros

    Menjelang HUT Bhayangkara ke-80, Polres Maros Ziarah dan Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan Maccopa Kab Maros

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Nulondalo.com.Maros- Menyambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Maros menggelar kegiatan ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Maccopa, Jalan Poros Maros-Makassar, Kelurahan Adatongeng, Kecamatan Turikale, Selasa (23/6/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung Kapolres Maros AKBP Douglas Mahendrajaya dan diikuti Wakapolres Maros Kompol Ahmad Rosma, para pejabat utama Polres Maros, para […]

  • Alumni Lemhannas Berperan Starategis Kuatkan Wawasan Kebangsaan

    Alumni Lemhannas Berperan Starategis Kuatkan Wawasan Kebangsaan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menyampaikan harapannya agar Ikatan Alumni (IKAL) Lemhannas Republik Indonesia Provinsi Gorontalo dapat menjadi contoh organisasi strategis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Dalam sambutannya pada pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IKAL Lemhannas Provinsi Gorontalo periode 2025–2030, Rabu (2/7/2025), Idah menekankan bahwa IKAL memiliki posisi penting […]

  • Rentenir Tak Dilarang, Asal Tak Memukul: Wajah Baru Hukum Pidana Setelah KUHP 2026

    Rentenir Tak Dilarang, Asal Tak Memukul: Wajah Baru Hukum Pidana Setelah KUHP 2026

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 715
    • 0Komentar

    Di gang sempit permukiman padat penduduk, praktik pinjam-meminjam uang masih berlangsung seperti biasa. Bunga mencekik, tempo singkat, dan penagihan yang membuat jantung berdebar. Bedanya, kini semua itu terjadi di bawah payung hukum pidana yang baru. Sejak 2 Januari 2026, Indonesia resmi meninggalkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana warisan kolonial. KUHP dan KUHAP versi terbaru mulai berlaku, […]

  • Kemenkes Tegaskan RS Dilarang Tolak Pasien JKN Nonaktif Sementara

    Kemenkes Tegaskan RS Dilarang Tolak Pasien JKN Nonaktif Sementara

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 271
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa rumah sakit dilarang menolak pasien yang status kepesertaan BPJS Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dinonaktifkan sementara, sepanjang pasien tersebut membutuhkan pelayanan kesehatan sesuai indikasi medis. Penegasan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/D/539/2026 yang diterbitkan Kemenkes sebagai langkah memastikan persoalan administratif tidak berdampak pada […]

  • Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Tamim al-Dari adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari wilayah Palestina di kawasan Syam. Sebelum memeluk Islam, Tamim dikenal sebagai seorang rahib atau pendeta Kristen. Ia hidup dalam tradisi keagamaan yang kuat dan terbiasa dengan kehidupan ibadah. Dalam literatur biografi sahabat seperti Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab dan Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Tamim disebut sebagai […]

  • Membagun Peradaban Islam yang tak Islami

    Membagun Peradaban Islam yang tak Islami

    • calendar_month Jumat, 14 Jun 2019
    • account_circle Aljunaid Bakari
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo sebagai ibu kota provinsi merupakan kota yang terus berkembang. Perkembangannya terbilang cukup masif, terutama sejak resmi memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2002. Sebagaimana kota-kota berkembang pada umumnya, arah pengembangan Kota Gorontalo sangat dipengaruhi oleh sense of place—sebuah imaji kolektif yang menjadi inspirasi pembangunan wilayah. Di banyak kota di Indonesia, sense […]

expand_less