Sekretaris Komisi Fatwa MUI: Bulan Sya’ban Momentum Persiapan Menuju Ramadhan
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- visibility 46
- print Cetak

Logo MUI/istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftahul Huda, menyampaikan bahwa bulan Sya’ban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan, baik dari sisi fisik, spiritual, maupun finansial.
Hal tersebut disampaikan Kiai Miftah saat ditemui MUI Digital di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, persiapan tersebut penting mengingat rangkaian ibadah di bulan Ramadhan sangat padat dan membutuhkan kesiapan yang matang.
“Di bulan Ramadhan itu ibadahnya sangat menguras tenaga. Di siang hari berpuasa, malamnya ada qiyamul lail, salat sunnah tarawih, witir, tahajud, dan tadarus Alquran,” ujarnya.
Kiai Miftah menekankan pentingnya persiapan finansial agar umat dapat memperbanyak sedekah selama Ramadhan. Pasalnya, pahala sedekah di bulan suci tersebut dilipatgandakan oleh Allah SWT.
“Persiapan finansial diperlukan supaya kita bisa memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan, karena sedekah di bulan Ramadhan pahalanya dilipatgandakan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengimbau umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan menjalankan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Sebab, berdasarkan sejumlah riwayat, bulan Sya’ban merupakan waktu diangkatnya amal perbuatan manusia kepada Allah SWT.
“Ada satu riwayat bahwa bulan Sya’ban itu waktunya diangkat amal. Kalau di bulan Sya’ban kita memperbanyak ibadah dan puasa, maka yang dilaporkan adalah catatan amal yang baik-baik,” jelasnya.
Selain itu, bulan Sya’ban juga memiliki keutamaan dengan adanya momen Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti membaca Alquran, khususnya Surat Yasin sebanyak tiga kali, memperbanyak selawat, berdoa, serta bersedekah.
Dalam kesempatan yang sama, Kiai Miftah mengingatkan bahwa bulan Sya’ban menjadi kesempatan terakhir bagi umat Islam untuk mengqadha puasa Ramadhan sebelumnya.
“Terutama bagi perempuan yang memiliki utang puasa karena haid atau nifas, serta bagi laki-laki yang lalai atau lupa. Bulan Sya’ban ini adalah bulan terakhir untuk mengqadha puasa Ramadhan sebelumnya,” tegasnya.
Ia berharap, dengan memaksimalkan ibadah di bulan Sya’ban, umat Islam dapat memasuki bulan Ramadhan dengan kesiapan yang lebih baik dan mampu meraih keberkahan secara optimal.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar