Tarawih Tanpa Manipulasi
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- visibility 188
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan fenomena tahunan yang menarik untuk diamati dengan kacamata akuntansi: masjid penuh, saf rapat, parkir meluber, dan sandal kadang tertukar sebuah metafora kecil tentang risiko pengendalian internal. Namun yang paling menarik adalah tarawih: ibadah malam yang khusyuk, sekaligus ladang potensial “manipulasi spiritual”.
Dalam dunia akuntansi, manipulasi bisa terjadi ketika laporan keuangan disusun bukan untuk mencerminkan realitas, melainkan untuk menyenangkan pemangku kepentingan. Dalam ibadah, manipulasi terjadi ketika tarawih dikerjakan bukan untuk Tuhan, melainkan untuk timeline media sosial. Bedanya tipis, tapi dampaknya tebal.
Tradisi Nahdlatul Ulama mengajarkan keseimbangan antara fikih dan akhlak. Tarawih 8 atau 20 rakaat bukan soal menang-kalahan, tetapi soal keikhlasan dan adab. Humor ala pesantren sering bilang, “Yang penting bukan cepat atau lambatnya, tapi jangan sampai hatinya lebih cepat pulang duluan.” Kita bisa berdiri lama, tapi pikiran sudah di gorengan depan masjid.
Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengingatkan bahwa agama jangan membuat orang kehilangan selera humor. Kalau tarawih membuat kita mudah menyalahkan yang berbeda jumlah rakaatnya, mungkin yang perlu diaudit bukan hitungan rakaatnya, melainkan saldo toleransinya. Dalam bahasa akuntansi, itu namanya salah klasifikasi akun: perbedaan dianggap ancaman, bukan rahmat.
Tarawih tanpa manipulasi berarti menghindari “creative piety” rekayasa kesalehan. Dalam laporan keuangan, ada istilah earnings management. Dalam ibadah, ada “image management”. Kita ingin terlihat paling rajin, paling depan saf, paling lantang amin-nya. Padahal, standar audit spiritual tidak mengukur volume suara, melainkan kedalaman niat.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar