Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- visibility 190
- print Cetak

Sebuah truk pengangkut kayu bermuatan berlebih (overload) melintas di ruas jalan wilayah Tomilito, Gorontalo Utara, dengan tumpukan kayu menjulang dan tidak tertutup pengaman, sehingga membahayakan keselamatan pengguna jalan lain dan memicu keresahan warga setempat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gorontalo Utara, nulondalo.com – Seorang warga Gorontalo Utara, Sandy Syafrudin Nina, menyuarakan keprihatinan serius terhadap aktivitas truk pengangkut kayu bermuatan berlebih (overload) yang kerap melintas di wilayah Tomilito.
Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Dalam kesaksiannya, Sandy mengungkapkan bahwa siang hari, jalanan dari arah Tomilito dipenuhi iring-iringan truk kayu yang melaju dengan muatan menjulang, miring, dan tampak tidak aman.
“Bukan satu, tapi truk-truk yang beriringan seperti pawai kematian yang tak diundang. Muatannya melampaui batas kewajaran dan menantang keselamatan siapa pun yang melintas,” ungkapnya.
Menurut Sandy, keberadaan truk-truk bermuatan berlebih itu menimbulkan teror psikologis bagi pengguna jalan. Warga merasa cemas setiap kali harus berpapasan atau berada di belakang kendaraan tersebut.
Melalui pernyataan terbukanya, Sandy menggugat nurani tiga pilar utama yang dinilai bertanggung jawab atas kondisi ini: perusahaan, pemerintah daerah, dan DPRD Gorontalo Utara.
Kepada pihak perusahaan, ia mempertanyakan etika operasional yang mengedepankan efisiensi angkutan namun mengabaikan keselamatan publik.
“Jalanan bukan jalur pribadi perusahaan. Ketika armada dibiarkan beroperasi dengan muatan ‘obesitas’, itu sama saja berjudi dengan nyawa orang lain,” tegasnya.
Sandy juga mengkritik sikap Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara yang dinilai melakukan pembiaran terhadap pelanggaran yang terjadi secara terbuka dan berulang.
“Diamnya birokrasi di hadapan pelanggaran kasat mata adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat publik. Jalan raya adalah ruang hidup warga, bukan arena bahaya,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia turut menantang DPRD Gorontalo Utara untuk menjalankan fungsi pengawasan secara nyata. Menurutnya, para wakil rakyat seharusnya hadir dan bersuara ketika keselamatan konstituennya terancam.
“Rakyat bertaruh nyawa di jalan dapilnya sendiri. Jangan sampai DPRD dianggap bisu di tengah intimidasi raksasa-raksasa jalanan ini,” katanya.
Sandy juga mendesak aparat penegak hukum agar segera melakukan penertiban terhadap truk-truk bermuatan berlebih yang beroperasi di wilayah Tomilito dan sekitarnya.
“Kita semua punya keluarga yang menunggu di rumah. Jangan tunggu ada berita duka dulu, baru semua sibuk saling menyalahkan,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa di era digital saat ini, pembiaran tidak lagi bisa ditutupi. Menurutnya, kamera warga dan media sosial telah menjadi alat kontrol publik terhadap kekuasaan.
“Zaman sudah terlalu canggih untuk berpura-pura tidak tahu. Kami telah bersuara, sekarang giliran para pemangku kepentingan membuktikan bahwa telinga kekuasaan belum tuli,” pungkas Sandy.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar