Zakat Salah Catat
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 254
- print Cetak

Foto: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sinilah akuntansi berperan. Zakat profesi, zakat perdagangan, zakat pertanian semuanya punya basis penghitungan. Nisabnya jelas, tarifnya jelas. Tapi yang sering tidak jelas adalah niat dan pencatatannya. Banyak entitas usaha yang mengakui zakat sebagai “biaya lain-lain”. Seolah-olah zakat itu gangguan kecil dalam laporan laba rugi. Padahal dalam perspektif maqashid syariah, zakat adalah mekanisme keadilan distributif.
Gus Dur mungkin akan berkata, “Kalau zakat dicatat sebagai beban, jangan-jangan nanti pahala juga diminta amortisasinya.” Kita tertawa lagi. Tapi kritiknya dalam. Akuntansi modern mengenal konsep akuntabilitas dan transparansi. Dalam pengelolaan zakat, dua konsep ini bukan sekadar prinsip tata kelola, melainkan bagian dari ibadah.
Ramadhan adalah momentum audit spiritual. Kita menghitung berapa juz dibaca, berapa rakaat tarawih ditegakkan. Tapi jarang yang menghitung dengan teliti berapa zakat yang benar-benar wajib dikeluarkan. Dalam tradisi pesantren, kiai sering mengingatkan: “Jangan sampai zakatmu lebih kecil dari cicilan motormu.” Ini satire, tapi relevan.
Secara ilmiah, pengelolaan zakat yang baik berdampak pada pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan mustahik. Studi-studi empiris menunjukkan bahwa tata kelola zakat yang transparan meningkatkan kepercayaan publik. Ketika laporan keuangan disusun sesuai standar akuntansi syariah, maka legitimasi lembaga meningkat. Kepercayaan itu seperti saldo kas—sekali bocor, sulit kembali utuh.
Namun ada paradoks. Di satu sisi, kita ingin zakat dikelola profesional. Di sisi lain, kita masih alergi pada audit. Seolah-olah audit itu tanda tidak percaya. Padahal dalam akuntansi, audit adalah bentuk cinta yang paling rasional. Ia memastikan bahwa amanah tidak berubah menjadi manipulasi.
Humor ala NU mengajarkan keseimbangan antara teks dan konteks. Zakat bukan hanya angka 2,5 persen, tetapi komitmen sosial. Akuntansi bukan hanya soal PSAK dan jurnal umum, tetapi soal moralitas pencatatan. Jangan sampai kita rajin mengoreksi laporan mahasiswa, tapi lupa mengoreksi laporan harta sendiri.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar