Zakat Salah Catat
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 253
- print Cetak

Foto: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan mengajarkan disiplin. Sahur ada waktunya, berbuka ada waktunya. Zakat pun ada nisab dan haulnya. Jika waktu saja kita patuhi, mengapa angka kita abaikan? Jangan sampai kita fasih membaca doa qunut, tetapi gagap membaca laporan arus kas.
Akhirnya, Zakat bukan sekadar rukun Islam. Ia adalah pengingat bahwa ibadah dan akuntansi bertemu pada satu titik: kejujuran. Dalam bahasa pesantren, sidq. Dalam bahasa auditor, fair presentation. Dalam bahasa Gus Dur, “Yang penting jangan bohong, karena Tuhan itu tidak bisa diaudit, tapi kita pasti diaudit.”
Maka, mari jadikan Ramadhan bukan hanya bulan diskon dosa, tetapi juga bulan rekonsiliasi laporan harta. Hitung dengan benar, niatkan dengan lurus, catat dengan jujur. Karena zakat yang salah catat bukan hanya berisiko pada opini auditor, tetapi juga pada opini akhirat. Dan di sana, tidak ada toleransi salah jurnal.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar