Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

  • account_circle Abdul Kadir Lawero
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 247
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah riak ombak pesisir Kota Gorontalo, sejarah mencatat nama seorang ulama yang hidupnya sederhana, namun penuh pengaruh. Sosok itu adalah KH. Nahar Akadji, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Pagula—sebuah panggilan penuh makna yang mencerminkan kelembutan, kearifan, dan manisnya akhlak beliau.

Di Gorontalo, penyebutan ulama memang berbeda. Tak ada istilah “Kiai” seperti di Jawa atau “Tuan Guru” seperti di Lombok. Masyarakat lebih akrab dengan sebutan lokal seperti Ti Guru, Ti Kali, Ti Bapu, Ti Paci, Ti Aba, Ti Ka’i, atau Ti Danggu, Ti Katinggi, Ti Kapende, Ti Ka’i—panggilan yang berasal dari ciri sosial dan fisik seseorang. Namun, meski tidak membawa gelar kiai dalam sebutannya, KH. Nahar Akadji diakui sebagai salah satu ulama besar di pesisir Gorontalo.

Lahir dari Kesederhanaan, Hidup dalam Keberkahan

KH. Nahar Akadji lahir pada 17 Agustus 1926 di Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Ia tumbuh di tengah keluarga nelayan yang hidup bersahaja. Ayahnya melaut, ibunya menjaga rumah tangga. Tapi dari rumah sederhana itulah tumbuh semangat belajar dan cinta terhadap agama yang luar biasa.

Sejak muda, Pagula sudah terbiasa tidur di rumah guru atau kerabat hanya demi menghadiri majelis ilmu. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Kayubulan dan kemudian melanjutkan pendidikan agama di Madrasah Al-Fatah (PP Al-Huda). Di sinilah ia berguru kepada ulama besar KH. Abas Rauf dan mulai menyelami kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Irsyadul Ibad.

Mengajar Sejak Usia Muda, Merangkul Semua Kalangan

Pada usia 23 tahun, Pagula sudah mengajar kitab kuning. Ia tidak menetap di satu tempat, tapi berpindah-pindah dari kampung ke kampung, menggelar pengajian di rumah-rumah warga. Murid-muridnya datang dari berbagai usia dan lapisan masyarakat.

Yang membuat beliau istimewa bukan hanya ilmunya, tapi juga caranya mendidik. Ia dikenal sabar, tidak keras, dan sangat ngemong. Bagi murid-muridnya, ia bukan hanya guru agama, tetapi juga pembimbing spiritual yang penuh kasih.

Membangun Masjid Lewat Arisan: Solusi dari Rakyat untuk Rakyat

Ketika masyarakat pesisir kesulitan beribadah karena masjid yang jauh, Pagula menggagas solusi sederhana namun revolusioner: arisan warga. Melalui sistem gotong royong ini, setiap warga menyisihkan sedikit dari hasil arisan untuk membangun masjid. Tidak ada paksaan, tidak ada iuran besar, hanya semangat kolektif yang disemai dari hati.

Hasilnya luar biasa. Masjid akhirnya berdiri kokoh. Guru beliau, KH. Abas Rauf, bahkan diberi kehormatan meletakkan batu pertama. Ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga kebangkitan spiritual dan sosial masyarakat.

Penemu Pukat Cincin: Ketika Ulama Jadi Inovator

Pagula juga dikenal sebagai penemu pukat cincin, sebuah alat tangkap ikan yang menjadi berkah bagi para nelayan. Desainnya sederhana tapi sangat efektif. Berkat alat ini, hasil tangkapan masyarakat pesisir meningkat drastis.

Menurut Irfan Akadji, salah satu putranya, pukat buatan Pagula terkenal hingga luar Gorontalo. Nelayan dari Poso, Sulawesi Tengah, bahkan datang langsung untuk belajar dan memesan. Inovasi ini menjadikan beliau bukan sekadar ulama, tapi juga tokoh pemberdaya masyarakat.

Nahar Akadji wafat pada tahun 2010 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Pohe. Makamnya kini menjadi tempat ziarah yang tak pernah sepi. Letaknya hanya sekitar 20 menit dari pusat kota, melewati pemandangan laut dan perbukitan yang tenang—seolah menggambarkan kehidupan beliau yang sejuk, bersahaja, namun dalam maknanya.

Warisan Manis Seorang “Pagula”

Pagula bukan tokoh besar yang mengejar panggung. Ia tidak dikenal lewat panggung ke panggung atau jabatan. Tapi masyarakatlah yang mengangkat dan mengenangnya sebagai sosok yang manis dalam laku, dalam tutur, dan dalam hati.

Di tengah dunia yang makin gaduh, kisah hidup Pagula menjadi oase. Ia membuktikan bahwa ulama sejati tak perlu banyak gelar—cukup hidup dalam pelayanan dan keikhlasan.

Ia bukan hanya “Ti Guru”, bukan hanya “Kiai”. Ia adalah Pagula—pemanis kehidupan umat dari pesisir Gorontalo.

Penulis aktiv di Perkumpulan Kajian Keagaman dan Budaya (Association for Religious  and Culture Studies, ARCS)

  • Penulis: Abdul Kadir Lawero
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sejarah Peringatan 1 Muharram: Dari Zaman Nabi hingga Tradisi Nusantara

    Sejarah Peringatan 1 Muharram: Dari Zaman Nabi hingga Tradisi Nusantara

    • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 201
    • 0Komentar

    1 Muharram merupakan hari pertama dalam kalender Hijriah yang menandai pergantian tahun baru Islam. Bagi umat Muslim, Muharram memiliki makna spiritual yang mendalam. Tak hanya bulan yang penuh keutamaan, tetapi juga menjadi simbol perubahan, hijrah, dan refleksi keagamaan. Bulan Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam, melainkan momentum spiritual yang sarat nilai-nilai keutamaan seperti taqwa, […]

  • 88 Persen Jemaah Haji Sulsel sudah Lunasi Biaya Bipih

    88 Persen Jemaah Haji Sulsel sudah Lunasi Biaya Bipih

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Proses pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) jemaah haji reguler tahap I sudah ditutup Jumat, (14/3) pukul 16.00 Wita. Pelunasan tahap I ini sudah dibuka sejak tanggal 14 Februari hingga 14 Maret 2025. Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kanwil Kemenag Sulsel H. Ikbal Ismail menginformasikan bahwa jemaah haji Sulawesi Selatan yang sudah melunasi […]

  • NU Gorontalo Bersatu Tolak Simbol dan Gagasan Khilafah oleh Eks-HTI

    NU Gorontalo Bersatu Tolak Simbol dan Gagasan Khilafah oleh Eks-HTI

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Gerakan para eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Gorontalo dinilai telah memanfaat momentum Isu Palestina untuk mengkampanyekan pendirian Negara Islam. Gerakan politisasi isu Palestina oleh eks HTI  juga terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Di Gorontalo sendiri  ratusan orang mengatasnamakan Santri Peduli Palestina menggelar aksi damai peduli Palestina. Pasalnya aksi tersebut dinilai memanfaatkan isu Palestina untuk […]

  • KIBR Desak KPK Adili Ade Irawan, Dirut PT Halmahera Sukses Mineral Atas Dugaan Penyuapan WIUP

    KIBR Desak KPK Adili Ade Irawan, Dirut PT Halmahera Sukses Mineral Atas Dugaan Penyuapan WIUP

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Koalisi Independet Bersama Rakyat (KIBR) Gelar aksi demonstrasi di Kantor PT Halmahera Sukses Mineral dan KPK RI menyoroti persoalan di Maluku Utara Terkait Penyuapan Kepada Eks Gubernur Maluku Utara, almarhum Abdhul Gani Kasuba. Dalam Kasus Tersebut, diduga keterlibatan Direktur Uatama PT Halmahera Sukses Mineral Ade Irawan, Sebagai salah satu pihak yang ikut menyuap AGK. Jakarta, […]

  • Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo

    Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri puncak pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII yang akan berlangsung di Kabupaten Gorontalo pada 24 Juni 2026. Kepastian jadwal tersebut diperoleh setelah panitia pusat, panitia provinsi, dan panitia kabupaten menggelar rapat koordinasi bersama pada Kamis (11/6/2026). Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menjelaskan bahwa rangkaian PENAS […]

  • Islam Nusantara dan Sisik Melik Halal bi Halal

    Islam Nusantara dan Sisik Melik Halal bi Halal

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Suatu ketika, kala isu Islam Nusantara sedang hangat-hangatnya, salah seorang perundungnya menyerang dengan sengit wacana ini. Kalimatnya menyengat dan pertanyaan-pertanyaannya nyelekit.  Salah satu kalimat dari perundung itu bunyinya begini: “seharusnya para pendukung Islam Nusantara, memboikot Arab, kan Islamnya bukan Islam dari Arab, tetapi Islam Nusantara.” Tentu saja ini pernyataan serampangan, sebab Islam Nusantara sebagai sebuah diskursus […]

expand_less