Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring
- account_circle Rivaldi Bulilingo
- calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
- visibility 93
- print Cetak

Pembukaan kegiatan Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring oleh Kepala Bappeda provinsi Gorontalo Wahyudin A katili, Selasa (4/11/2025).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kajian dan Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring”, Selasa (4/11/2025).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah peneliti, di antaranya Zulham Sirajudin, Ph.D, Ferdiansyah Hasan, SP, M.Si, Ivana Butolo, SE, MP, serta Gema Putra Baculu, ST, M.PA. Turut diundang pula Staf Khusus Bidang Agromaritim untuk memberikan pandangan terkait isu pertanian berkelanjutan di wilayah Gorontalo.
Dalam sambutannya, Wahyudin menyoroti tantangan utama budidaya jagung di lahan miring yang selama ini menjadi praktik umum di berbagai wilayah Gorontalo. Menurutnya, tidak semua area di provinsi ini ideal untuk penanaman jagung.
“Lahan kita terbatas, sementara permintaan produksi jagung terus meningkat. Ini menjadi tantangan besar yang tidak bisa dihindari,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga penelitian untuk mencari solusi yang komprehensif dan aplikatif.
“Kita tidak hanya butuh rekomendasi di atas kertas, tetapi juga hasil kajian yang menyentuh titik-titik krusial di lapangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wahyudin menyinggung kondisi infrastruktur yang turut memengaruhi kegiatan pertanian di daerah, mulai dari kerusakan jalan, pemukiman, hingga dampak terhadap lingkungan hidup.
“Selama ini persoalan tersebut hanya menjadi wacana tanpa langkah nyata penyelesaian,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sektor pertanian memiliki peran penting dalam struktur sosial ekonomi Gorontalo.
“Sebanyak 67 persen tenaga kerja kita masih bergantung pada sektor pertanian. Karena itu, masalah pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga persoalan sosial yang harus ditangani secara serius,” katanya menutup.
Kegiatan FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pertanian berkelanjutan, khususnya di lahan miring yang rentan terhadap degradasi lingkungan.
- Penulis: Rivaldi Bulilingo

Saat ini belum ada komentar