Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Melihat Keadilan Gender dengan Kacamata Ulama Nusantara: Riwayat, Dalil, dan Jalan Perubahan

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
  • visibility 348
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – KH. Abdullah Aniq Nawawi menegaskan bahwa ijtihad ulama Nahdlatul Ulama (NU) dalam bidang sosial-politik terus berkembang untuk menjawab kebutuhan zaman, termasuk menghadirkan peradaban yang berkeadilan gender. Hal tersebut ia sampaikan dalam forum diskusi Halaqah Fiqih Peradaban PBNU bertajuk; Ijtihad Ulama NU dalam bidang sosial-politik untuk peradaban yang berkeadilan gender, yang digelar tahun lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Gorontalo dan mantan Rais Syuriyah PCNU Maroko tersebut menjelaskan bahwa fikih peradaban (fikih al-hadlarah) merupakan bagian dari fikih muamalah yang bertujuan membawa pengalaman umat Islam menjadi percakapan global. Dengan prinsip dasar al-muamalah al-ashliyah al-ibahah, umat Islam diberi ruang berekspresi dan melakukan terobosan keilmuan selama tidak bertentangan dengan syariat.

Namun ia mengingatkan bahwa terobosan keilmuan dalam fikih peradaban tetap berlandaskan lima pondasi: keadilan, kebebasan, kesetaraan, musyawarah, dan kontrol umat (raqabatul ummah). “Inilah nilai-nilai yang mengawal arah ijtihad dalam pembangunan peradaban Islam,” ujarnya.

Peran Sayyidah Khadijah dalam Fase Awal Kenabian: Bukti Kontribusi Perempuan dalam Peradaban

Gus Aniq sapaan akrab, membuka pemaparan dengan kisah dalam Sahih Bukhari saat Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu. Pada momen tersebut, sosok yang menguatkan psikologis Nabi secara berkelanjutan adalah Sayyidah Khadijah.

Beliau menyoroti penggunaan kata zammiluni yang bermakna jamak maskulin ketika Nabi meminta perlindungan kepada Khadijah, meski konteksnya ditujukan kepada satu perempuan. Mengutip penjelasan Syekh al-Syanwani, penggunaan redaksi tersebut menunjukkan kapasitas keilmuan dan keteguhan Sayyidah Khadijah yang setara dengan beberapa laki-laki. “Ini menjadi pondasi penting dalam khazanah kita mengenai bagaimana Rasulullah memandang perempuan,” terangnya.

Kitab-kitab Politik Islam Membentuk Cara Pandang Ulama Nusantara

Gus Aniq juga menyinggung temuan penelitian yang menunjukkan bahwa karya-karya etika politik seperti at-Tibr al-Matsbuk fi Nashihat al-Muluk karya Imam al-Ghazali turut membentuk DNA berpikir ulama Nusantara. Dalam kitab tersebut, Imam al-Ghazali menyebut dua unsur yang memungkinkan peradaban bertahan lama: keadilan dan kesetaraan.

“Prinsip-prinsip ini sejalan dengan gagasan NU dalam membangun relasi gender yang berkeadilan,” jelasnya.

Gus Aniq  memaparkan dua keputusan penting NU yang menjadi fondasi diskursus keadilan gender: Munas 1997 Kedudukan perempuan mulia dalam Islam; perempuan memiliki hak yang sama mengabdi pada agama, bangsa, dan negara; perlunya meninjau ulang pandangan yang merendahkan perempuan akibat distorsi budaya. Kedudukan perempuan mulia dalam Islam; perempuan memiliki hak yang sama mengabdi pada agama, bangsa, dan negara; perlunya meninjau ulang pandangan yang merendahkan perempuan akibat distorsi budaya.

Muktar NU ke-30 1999, Relasi gender tidak adil adalah penyimpangan dari spirit Islam; penghalang keadilan gender terdiri dari aspek teologi, budaya, dan politik; solusi melalui penafsiran ulang ajaran agama, pembacaan kritis budaya, dan perombakan praktik politik diskriminatif.

Menurutnya, gagasan yang dikembangkan PBNU hari ini merupakan kelanjutan dari amanah kedua forum keulamaan tersebut. “Apa yang sedang dilakukan NU, khususnya Fatayat NU, adalah upaya menerjemahkan mandat besar Munas 1997 dan Muktamar 1999 ke dalam konteks kekinian,” ucapnya.

Di akhir pemaparan, Gus Aniq menekankan pentingnya ijtihad berkelanjutan dalam menawarkan pandangan fikih yang relevan dengan realitas sosial modern. Sebagai contoh, terdapat pendapat ulama kontemporer yang menilai bahwa dalam konteks negara modern, sistem negara dapat berfungsi sebagai mahram bagi perempuan yang melakukan perjalanan, selama aspek keamanan terpenuhi.

“Di sinilah fikih hadir sebagai solusi peradaban, bukan sebagai penghalang kemajuan,” tutupnya.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HUT-77, Garuda Online Travel Fair Tawarkan Diskon Tiket

    HUT-77, Garuda Online Travel Fair Tawarkan Diskon Tiket

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 275
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM, Gorontalo – Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia menggandeng Bank Mandiri sebagai bank partner kembali menggelar Garuda Indonesia Online Travel Fair (GOTF) pertama di tahun 2026 dengan menghadirkan 140 ribu kursi untuk penerbangan domestik dan internasional diskon hingga 65%. Ajang penjualan tiket harga terbaik berbasis digital tersebut dapat diakses oleh masyarakat  mulai 29 Januari s.d […]

  • Sambut Hari Santri 2026, Lembaga Kesehatan NU Gorontalo Gelar Cek Kesehatan Gratis di Pesantren Alkhairaat photo_camera 4

    Sambut Hari Santri 2026, Lembaga Kesehatan NU Gorontalo Gelar Cek Kesehatan Gratis di Pesantren Alkhairaat

    • calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 150
    • 0Komentar

    GORONTALO – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi santri Pondok Pesantren Alkhairaat Kota Gorontalo, Ahad (18/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 sekaligus bentuk kepedulian terhadap kesehatan santri. Pemeriksaan berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WITA dengan melibatkan 16 tenaga […]

  • Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

    Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 90
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Sejumlah tokoh keagamaan, akademisi, hingga aktivis lingkungan hadir sebagai pemantik diskusi dalam rangkaian sesi forum Festival Jagat, yang berlangsung 29 – 30 Agustus, merumuskan 9 point ‘Risalah Jagat’ serukan taubat ekologis. Forum yang dilaksanakan di Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak tersebut, di hadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Uskup Keuskupan Surabaya Mgr. […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial-Ekonomi

    Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial-Ekonomi

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kajian bertema “Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial dan Ekonomi”, Rabu (5/11/2025), bertempat di Kantor Bappeda Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo yang diwakili oleh Kabid Riset dan Inovasi, Titi Iriani Datau. Dalam sambutannya, Titi Iriani menegaskan pentingnya kajian […]

  • As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 377
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan As-Salam Terpadu Tenjo (YATT) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga besar sekolah dengan membagikan 500 paket “Tali Sayang” kepada para guru dan murid. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara sekolah, yayasan, dan orang tua murid. Acara pembagian paket sembako ini […]

  • Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

    Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman bagi lahirnya gagasan, perdebatan, dan keberanian berpikir. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berbicara lain. Ruang belajar kita masih dibayangi oleh warisan feodal yang mengekang kebebasan berpikir. Murid dituntut manut, mahasiswa diminta tunduk, sementara guru atau dosen ditempatkan di atas altar otoritas yang tidak boleh dipertanyakan. Ujung-ujungnya, pendidikan gagal […]

expand_less