Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 22 Des 2025
  • visibility 295
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NU tidak membangun kekuasaan dengan cara merebut pusat. Ia tidak lahir dari istana, parlemen, atau kantor administrasi. NU lahir dari pinggir—dari desa, dari surau kecil, dari pesantren kampung yang jauh dari kota, dari obrolan yang tidak pernah berniat menjadi wacana besar. Karena itu, teori kekuasaan NU sejak awal berlawanan dengan logika kekuasaan modern yang bertumpu pada struktur, komando, dan institusi.

Dalam NU, kekuasaan tidak berada di jamiyah, melainkan di jamaah.

Jamiyah hanyalah mesin. Ia mengatur ritme, mempercepat kerja, memberi bentuk administratif. Tapi mesin bukan sumber tenaga. Dalam teori kekuasaan NU, tenaga datang dari akar sosial—jamaah yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ketika jamiyah lupa pada sumber ini, berarti mengeringkan daya hidupnya sendiri.

Jika kita ingin menyebut ini secara teoretis, kekuasaan NU bukanlah power over (menguasai), melainkan power with (menyatu). Ia bekerja bukan melalui perintah, melainkan melalui kebiasaan. Bukan melalui regulasi, melainkan melalui penerimaan kultural. Di sini NU terlihat lebih dekat pada hegemoni ala Gramsci, tetapi dengan satu perbedaan penting: hegemoni NU tidak dibangun lewat aparatus negara, melainkan lewat ritme hidup jamaah.

Jamiyah sering tergoda untuk memusatkan kekuasaan. Ini wajar. Struktur selalu ingin stabil, ingin permanen, ingin terlihat penting. Namun dalam logika NU, pemusatan kekuasaan justru tanda awal kerapuhan. Kekuasaan yang terlalu terpusat mudah ditarik oleh politik dan ekonomi. Ia menjadi negosiatif, transaksional, dan akhirnya mudah retak. Jamiyah lalu berisik, panas, dan saling mencurigai—ciri klasik mesin yang dipaksa bekerja di luar fungsinya.

Sebaliknya, jamaah NU menjalankan apa yang bisa disebut sebagai kekuasaan tersebar. Ia tidak spektakuler, tidak terlihat di media, tapi bekerja terus-menerus. Inilah yang oleh James C. Scott disebut sebagai infrapolitics, tetapi dalam versi NU ia lebih dari sekadar resistensi diam-diam. Ia adalah cara hidup. Jamaah tidak melawan kekuasaan; mereka membuat kekuasaan menjadi tidak relevan.

Dalam kerangka ini, kopi bukan metafora romantik—ia adalah infrastruktur kekuasaan NU. Kopi kental nan panas memungkinkan pertemuan tanpa hirarki, tanpa podium, tanpa agenda tersembunyi. Semua duduk sejajar. Semua bicara. Semua mendengar. Kekuasaan beredar, bukan ditumpuk. Konsensus lahir bukan dari voting, tetapi dari waktu—kopi yang dibiarkan dingin sambil pembicaraan menemukan bentuknya sendiri.

Inilah sebabnya NU sulit ditaklukkan, tapi juga sulit dikendalikan sepenuhnya. Kekuasaan NU tidak bisa diambil alih dengan mengganti pengurus, karena ia tidak tinggal di sana. Ia hidup di jamaah, di habitus, di ingatan kolektif. Jamiyah bisa berubah, bahkan hancur, tetapi kekuasaan NU tetap ada selama jamaah masih berkumpul, masih berbincang, masih menyeruput kopi bersama.

Maka krisis NU hari ini bukan krisis jamaah, melainkan krisis salah paham tentang kekuasaan. Jamiyah terlalu sering mengira bahwa kekuasaan harus dikelola, diamankan, dan dinegosiasikan. Padahal dalam tradisi NU, kekuasaan justru harus dibiarkan mengalir. Ia hidup ketika tidak dipamerkan, bekerja ketika tidak diklaim.

Jika hari ini jamiyah NU mudah terombang-ambing oleh kepentingan politik dan ekonomi, barangkali itu bukan karena tekanan eksternal semata, melainkan karena mereka meninggalkan teori kekuasaan NU sendiri. Teori yang sederhana, membumi, dan terbukti bertahan hampir satu abad:

duduk bersama, bicara pelan, biarkan kopi dingin, dan jangan pernah merasa paling penting.

Jika jamiyah NU retak hari ini, mungkin mereka lupa satu hal paling mendasar dalam politik NU: ngopi bareng.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 151
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo terus mendorong lembaga-lembaga semi otonom di bawah naungannya untuk aktif menjalankan tugas dan fungsi masing-masing. Langkah ini dilakukan guna mendukung kerja-kerja Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dalam mewujudkan program-program strategis dan taktis demi mencapai sasaran program NU di tingkat wilayah. Salah satu lembaga yang diharapkan berperan aktif adalah Lembaga […]

  • Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 755
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya sorotan terhadap kekayaan Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga, sebuah unggahan dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Kabupaten Pohuwato, KH. Abdullah Aniq Nawawi atau yang akrab disapa Gus Aniq, turut menarik perhatian publik. Unggahan yang dibuat pada 12 Maret 2026 tersebut dinilai relevan dengan maraknya perbincangan mengenai gaya hidup dan kekayaan sejumlah […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Seminar Akhir Kajian Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    Bappeda Gorontalo Gelar Seminar Akhir Kajian Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Seminar Akhir Kajian Potensi dan Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring. Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi antara Bappeda Provinsi Gorontalo, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan Universitas Ichsan Gorontalo ini berlangsung di Living Lab Fakultas Pertanian UNG pada Kamis (20/11/2025). kegiatan ini  dibuka oleh Kepala […]

  • Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Julkifli Gadeang
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Oleh: Julkifli Gadeang Hari ini, sebuah persoalan tidak perlu benar-benar penting untuk menjadi perhatian publik. Ia hanya perlu viral. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai upaya menghakimi dinamika ruang digital yang terus berkembang, melainkan sebagai refleksi kritis atas perubahan cara masyarakat membangun dan memahami opini publik di era teknologi informasi. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, […]

  • Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 345
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Adhan Dambea menyatakan Pemerintah Kota Gorontalo berencana menyusun Peraturan Daerah (Perda) terkait Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga visi Kota Gorontalo sebagai daerah religius. Pernyataan itu disampaikan Adhan saat berbincang dengan awak media di halaman Kantor Wali Kota Gorontalo pada Rabu malam, […]

  • Mengemis untuk Kaya? Islam Tidak Membenarkan

    Mengemis untuk Kaya? Islam Tidak Membenarkan

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Belum lama ini, publik Gorontalo dibuat heboh dengan kisah viral seorang pria paruh baya berinisial LH alias Luthfi (47), warga Kelurahan Ipilo, Kota Gorontalo. Sosok ini diketahui telah lama berprofesi sebagai pengemis di berbagai sudut kota. Namun yang bikin kaget, ia ternyata memiliki rekening dengan simpanan fantastis — mencapai Rp 500 juta. Kabar ini bermula […]

expand_less