Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
- visibility 54
- print Cetak

Ridwan Kamil dan Aura Kasih/FOTO: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya.
Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik di acara resmi maupun unggahan media sosial, sepanjang periode 2021 hingga 2023. Salah satu pantun yang ramai dibicarakan berbunyi:
“Aura Kasih nampang di baliho.
Konser Jumat di Cibiru.
Terima kasih kami ucapkan ke Pak Nugroho.
Sukses dan sehat di tempat yang baru.”
Pantun tersebut disampaikan Ridwan Kamil dalam konteks acara resmi, bukan pernyataan personal. Namun demikian, pengulangan nama Aura Kasih dalam beberapa pantun berbeda memunculkan tafsir liar di ruang publik.
Pantun sebagai Gaya Komunikasi
Ridwan Kamil dikenal luas sebagai figur publik yang kerap menggunakan pantun sebagai gaya komunikasi khasnya, baik saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat maupun dalam berbagai forum publik lainnya. Dalam sejumlah kesempatan, ia sering memakai nama tokoh populer, artis, atau istilah yang sedang dikenal luas untuk menyesuaikan rima dan menarik perhatian audiens.
Pengamat komunikasi publik menilai, penggunaan nama figur publik dalam pantun lazim dilakukan demi keluwesan rima dan kedekatan dengan audiens. Nama artis seperti Aura Kasih dinilai memiliki bunyi yang mudah dirangkai dan sudah dikenal luas, sehingga efektif digunakan dalam pantun spontan di atas panggung.
Belum Ada Pernyataan Resmi soal Isu Pribadi
Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari Ridwan Kamil maupun Aura Kasih yang mengonfirmasi adanya hubungan khusus di luar konteks profesional atau pertemanan. Dugaan yang beredar di media sosial masih sebatas spekulasi warganet yang mengaitkan potongan peristiwa lama tanpa klarifikasi langsung dari pihak terkait.
Sejumlah pihak mengingatkan publik agar tidak menarik kesimpulan berlebihan dari konten pantun atau jejak digital lama, terlebih jika tidak disertai pernyataan resmi dan bukti yang terverifikasi.
Di tengah derasnya arus informasi media sosial, para pengamat kembali menekankan pentingnya sikap kritis dan kehati-hatian dalam menyikapi isu yang menyangkut kehidupan pribadi figur publik.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar