Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 136
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Secara tidak sadar, manusia telah merancang ‘tuhan’ di altar persembahannya, memuja ilusi yang lahir dari tangannya sendiri, dan puasa hadir untuk membunuhnya. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ritual penyucian jiwa yang mendalam. Di balik setiap detik penantian dan keheningan, tersimpan makna esoterik memerangi dan memusnahkan segala bentuk penyembahan terhadap duniawi yang telah mengaburkan pandangan spiritual seorang hamba.

Dalam ontoligi sufistik, puasa menjadi sarana perenungan hakikat diri dan melepaskan belenggu hawa nafsu, selain itu puasa merupakan sebuah benteng bagi iman seorang muslim (as-saum junnah). Dengan menahan diri dari kenikmatan yang bersifat fana, seseorang dapat menemukan jalan menuju kekayaan yang sesungguhnya, bukan berindikator materi semata tetapi pada batin,  kata Nabi SAW ‘bukanlah kekayaan itu diukur dari banyaknya harta, melainkan kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa’.

Hadis di atas menyisipkan pesan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada akumulasi harta benda, melainkan pada ketenangan dan kedamaian batin. Dengan memahami hal ini, melalui puasa seseorang dapat membebaskan diri dari belenggu keinginan duniawi dan menemukan kebebasan batin yang hakiki. Proses inilah yang merupakan upaya untuk ‘membunuh’ segala bentuk kebergantungan pada anasir-anasir nisbi yang selama ini dianggap sebagai Tuhan dalam kehidupan.

Kebergantungan pada hal nisbi itu dibuktikan dengan realita bahwa banyak manusia lebih memilih menundukkan diri pada keinginan duniawi; harta, ambisi, dan kedudukan sering kali dijadikan sebagai tujuan utama, seolah-olah hal itu adalah pemegang kunci kebahagiaan dan kesuksesan. Ironisnya, dalam pencarian tersebut, mereka justru kehilangan esensi kehidupan yang sesungguhnya, manusia menggantungkan hidupnya pada hal-hal yang sifatnya temporal dan menjauh dari Tuhan yang sesungguhnya, ‘wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji (QS. Fatir: 15).

Puasa, sebagai praktik spiritual, menawarkan alternatif dengan memfokuskan kembali manusia pada nilai-nilai batin dan hubungan yang lebih intim dengan Sang Pencipta ‘Ishq Ilahi’. Melalui kesederhanaan dan disiplin diri, individu dapat merasakan kehadiran yang lebih hakiki, tanpa harus bergantung pada harta dan kekuasaan dunia. Ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kecenderungan menuhankan hawa nafsu dalam kehidupan modern.

Dalam lensa esoterik, penyembahan terhadap keinginan duniawi merupakan sebuah ilusi yang menjerumuskan manusia ke dalam kebingungan eksistensial. Dengan berpuasa, setiap individu diajak untuk menyadari bahwa kehidupan tidak semata-mata tentang akumulasi materi, melainkan tentang pencarian makna yang lebih mendalam dan abadi.

Proses ini tidak mudah, mengingat tekanan sosial dan godaan yang terus hadir dalam setiap aspek kehidupan. Namun, dengan niat yang tulus dan tekad yang kuat, puasa dapat menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan ‘tuhan-tuhan’ palsu yang selama ini menghimpit jiwa. Setiap langkah kecil menuju penyucian diri adalah bentuk revolusi batin yang mampu mengubah pandangan hidup seseorang.

Akhirnya, melalui praktik puasa, manusia diajak untuk melepaskan diri dari belenggu materialisme dan mengejar kebahagiaan sejati. Dengan ‘membunuh’ segala bentuk penyembahan terhadap ‘tuhan-tuhan’ yang sifatnya fana dan nisbi, manusia akan menemukan keindahan dari kehidupan yang harmonis, di mana kebebasan batin dan cinta kasih menjadi landasan yang mengarahkan setiap langkah menuju pencerahan epistemik-teologis. Manusia kembali kepada pada keyakinan tentang Tuhannya; Tuhan yang transenden dan imanen. Esensi proses ‘kembali’ itu ditandai dengan pemaknaan substantif tentang tujuan utama puasa yakni ‘bertakwa’.

“Hai orang-orang yang beriman

diwajibkan atas kamu berpuasa

sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,

agar kamu bertakwa”.

-Yogyakarta, 25 Ramadhan 1446 Hijriyah

Oleh: Fanridhal Engo(Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bareskrim Polri Ungkap Puluhan Ribu Kasus Narkoba, Sita 590 Ton Sepanjang 2025

    Bareskrim Polri Ungkap Puluhan Ribu Kasus Narkoba, Sita 590 Ton Sepanjang 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 276
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mencatat capaian luar biasa sepanjang tahun 2025 dengan 48.592 kasus narkoba berhasil diungkap hingga 11 Desember 2025. Hal ini diungkapkan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Syahardiantono, dalam rilis akhir tahun di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025). “Sepanjang tahun ini, total 64.055 orang diamankan terkait kasus narkoba,” […]

  • Hari Tani 2025: Defisit Jalan Perkebunan

    Hari Tani 2025: Defisit Jalan Perkebunan

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Apriyanto Rajak
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Hari tani nasional selalu diperingati 24 September setiap tahun. Sebuah momentum tepat untuk merefleksikan sejauh mana petani memperoleh kesejahteraan. Selama ini bertani dianggap sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan, sehingga jangan heran mengapa anak muda kurang tertarik dengan profesi ini dan umumnya lebih didominasi oleh orang tua. Menurut data sensus pertanian 2023 menyebutkan generasi X memiliki […]

  • Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 723
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Muhammad Aras Prabowo, mengkritik keras pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy, yang menyebut sumber anggaran program pasar murah di Monas dengan ungkapan “pokoknya ada”. Pernyataan tersebut dinilai problematik secara etik, administratif, dan epistemik dalam tata kelola keuangan negara. Menurut Aras, ungkapan tersebut mencerminkan lemahnya kesadaran terhadap prinsip dasar akuntabilitas publik dalam […]

  • Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Bayangkan anda adalah masyarakat Gorontalo. Hari ini anda membaca berita hangat yang informasinya ‘begini’, keesokan harinya ‘begitu’. Hari ini anda memahami informasi resmi dari pemangku kebijakan, tiba – tiba besoknya informasi tersebut diklarifikasi oleh mereka sendiri pula. Inilah realita masyarakat Gorontalo, terkekang dalam polemik Bank SulutGo (BSG) yang kebijakannya berpusar disitu saja yang membuat masyarakatnya […]

  • Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Dr. Mismubarak, S.Hd., M.Ag., CLQ., MMG
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Misi utama katauhidan islam yang di ajarkan Nabi Muhammad adalah misi kemanusiaan yang luhur yaitu budi pekerti, moral dan akhlakul karimah. Dengan prinsip kitab suci, maka lahirlah konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Qs. Al-Anbiyah 107). Melalui ayat ini, Tuhan menggambarkan kepribadian Muhammad untuk ditegaskan kepada setiap generasi bahwa Risalah kenabian adalah rahmat yang akan membawa […]

  • RA Assalam Tenjo Borong Prestasi di Ajang AKSERA 2026

    RA Assalam Tenjo Borong Prestasi di Ajang AKSERA 2026

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    nulondalo.com – RA Assalam Tenjo kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang AKSERA (Ajang Kreativitas, Seni, Olahraga, dan Agama Anak RA) tingkat Parungpanjang, Rumpin, dan Tenjo. Kegiatan yang berlangsung di Ocean Park BSD pada 27 April 2026 tersebut diikuti oleh 10 RA dengan total sekitar 500 siswa. Ajang ini menjadi ruang bagi anak-anak usia dini untuk […]

expand_less