Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menertawakan Kekuasaan

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 361
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang kecil itu sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma capek. Capek mendengar janji, capek membaca berita korupsi, capek melihat pejabat miskin di LHKPN tapi kaya di pesta pernikahan anaknya. Maka jangan heran kalau rakyat akhirnya memilih tertawa. Karena kalau tidak tertawa, bisa-bisa marah. Dan kalau marah terus, tekanan darah naik, sementara kebijakan tidak pernah turun.

Dalam situasi kebijakan yang tidak pro rakyat, humor justru menjadi bahasa paling jujur. Ketika harga kebutuhan naik, lapangan kerja seret, dan pengangguran makin banyak, rakyat sering bertanya sambil bercanda, “Negara ini kaya atau kita aja yang miskin?” Jawabannya sering muncul dalam bentuk meme, lelucon warung kopi, atau materi stand up comedy yang lebih jujur daripada pidato kenegaraan.

Gus Dur sudah lama membaca situasi ini. Beliau paham, kekuasaan paling takut bukan pada marah, tapi pada ditertawakan. Maka lahirlah humor-humor legendaris. Salah satunya yang paling terkenal: “Gitu aja kok repot.” Ini kalimat pendek, tapi efeknya panjang. Itu bukan cuma soal birokrasi, tapi sindiran keras pada negara yang hobi bikin aturan ribet untuk hal yang seharusnya sederhana—kecuali kalau urusan elite, yang biasanya sederhana tapi dibikin istimewa.

Gus Dur juga pernah bilang, “Kalau orang bodoh memimpin orang pintar, itu namanya musibah. Tapi kalau orang pintar memimpin orang bodoh, itu namanya tragedi nasional.” Kalau kalimat ini dibawakan hari ini, mungkin langsung viral, dituduh provokatif, lalu dibalas dengan klarifikasi panjang yang intinya tidak menjawab apa-apa.

Tradisi humor NU memang khas: ketawa dulu, mikir belakangan. Tapi setelah mikir, baru terasa pedasnya. Cerita kiai yang bertanya, “Pejabat itu amanah atau aman, ya?” terdengar lucu, tapi isinya audit moral. Ini audit sosial versi pesantren: tanpa laporan tebal, tanpa grafik, tapi langsung kena ke hati—dan kadang ke jabatan.

Sementara itu, di panggung stand up comedy, audit sosial tampil lebih terang-terangan. Komika sering bilang, “Di Indonesia itu bukan susah cari kerja, yang susah itu kerja yang gajinya cukup buat hidup.” Penonton tertawa, tapi besok tetap bingung bayar kontrakan. Humor ini bukan hiburan kosong, tapi laporan real-time tentang kegagalan kebijakan ketenagakerjaan.

Roasting juga jadi senjata ampuh. Pejabat di-roasting bukan karena benci, tapi karena mereka minta dipilih. Ada komika yang bilang, “Waktu kampanye, rakyat dikejar-kejar. Setelah terpilih, rakyat disuruh sabar.” Ini kalimat sederhana, tapi lebih jujur daripada laporan kinerja lima tahunan.

Panji Pragiwaksono, misalnya, sering membedah niat di balik kebijakan. Mens rea, katanya. Kalau kebijakan katanya demi rakyat tapi yang untung segelintir orang, berarti ada niat lain. Dan niat itu biasanya tidak lucu—kecuali kalau ditertawakan. Panji pernah menyindir, “Kita ini negara hukum, tapi kadang hukumnya capek sendiri ngejar orang-orang yang larinya pakai jet pribadi.”

Dalam konteks korupsi, humor rakyat bahkan lebih kejam. Ada yang bilang, “Koruptor itu bukan maling, dia cuma pinjam uang rakyat tapi lupa balikin.” Lucu? Iya. Menyakitkan? Jelas. Tapi justru di situlah audit sosial bekerja. Rakyat tidak lagi percaya pada pidato antikorupsi, tapi percaya pada lelucon yang sesuai kenyataan.

Ketika pengawasan legislatif dianggap tidak maksimal, rakyat pun ikut mengawasi dengan caranya sendiri. Kalau wakil rakyat tidur saat rapat, meme langsung muncul. Kalau rapat panjang tapi hasilnya nol, lelucon lebih cepat dari risalah sidang. Ini bukan penghinaan, ini public review versi rakyat.

Menertawakan kekuasaan bukan berarti meremehkan negara. Justru sebaliknya, ini tanda rakyat masih peduli. Selama rakyat masih mau bercanda, berarti harapan belum mati. Karena kalau rakyat sudah tidak tertawa, biasanya tinggal dua pilihan: apatis atau marah.

Maka humor—baik ala Gus Dur, NU, maupun stand up comedy—adalah bentuk audit sosial paling jujur. Ia menjadi check and balance yang tidak tercatat di undang-undang, tapi hidup di kesadaran publik. Kekuasaan boleh alergi kritik, tapi sulit alergi tawa. Karena tawa rakyat, pada akhirnya, adalah laporan audit yang paling sulit dimanipulasi.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

    Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 195
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sejumlah tokoh lintas agama, intelektual, dan budayawan yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan Pesan Kebangsaan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia terkait situasi geopolitik global yang semakin memanas. Pesan tersebut disampaikan di Jakarta pada 6 Maret 2026, sebagai respons atas meningkatnya ketegangan internasional, khususnya setelah serangan Amerika Serikat dan Israel […]

  • Warga Dufa-Dufa Boikot Jalan, Desak KM Queen Mary Kembali Berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II

    Warga Dufa-Dufa Boikot Jalan, Desak KM Queen Mary Kembali Berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Asril R Mahmud
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Ternate – Menjelang bulan suci Ramadan, warga Kelurahan Dufa-Dufa menggelar aksi pemboikotan akses jalan utama, Kamis 26 Februari 2026. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap polemik perubahan rute dan lokasi sandar kapal di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II. Aksi berlangsung dengan pemblokiran sejumlah ruas jalan utama di wilayah Dufa-Dufa. Massa aksi menuntut agar KM […]

  • Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 1.205
    • 1Komentar

    nulondalo.com –  Polemik mengenai pembagian hewan kurban Presiden Prabowo Subianto menggunakan dana APBN terus memantik perdebatan publik. Di tengah silang pendapat antara pihak yang mengkritik dan membela kebijakan tersebut, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Abdullah Aniq Nawawi atau yang akrab disapa Gus Aniq, turut menyampaikan pandangannya secara kritis. Menurut Gus Aniq, sejumlah pihak mencoba membenarkan […]

  • Akuntansi Utang Pemerintahan : Antara Kebutuhan Pembangunan dan Resiko Fiskal

    Akuntansi Utang Pemerintahan : Antara Kebutuhan Pembangunan dan Resiko Fiskal

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Hilda Anggraeni
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Utang pemerintah kerap menjadi pisau bermata dua dalam tata kelola keuangan negara. Di satu sisi, pembiayaan melalui utang merupakan instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, akumulasi utang yang tidak terkendali berpotensi mengguncang stabilitas fiskal dan membebani generasi mendatang. Dalam konteks inilah, akuntansi utang pemerintahan memegang peran sentral—tidak sekadar […]

  • “Tuhan-tuhan Kecil” Yang Suka Menghukumi

    “Tuhan-tuhan Kecil” Yang Suka Menghukumi

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Lagi-lagi belakangan ini media sosial kita khususnya Facebook, dipenuhi dengan berbagai postingan yang mengekspresikan penolakan terhadap keberadaan kelompok LGBT di Gorontalo. Banyak pengguna yang mengangkat isu seperti “Tolak LGBT”, “Selamatkan Gorontalo sebagai Serambi Madinah dari Kelompok LGBT”, dan “Hilangkan kaum LGBT dari Bumi Gorontalo”. Fenomena ini mencerminkan adanya gelombang penolakan yang kuat terhadap keberadaan LGBT […]

  • Masjid Istiqlal Luncurkan Wakaf 100.000 Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa pada Peringatan Nuzulul Qur’an

    Masjid Istiqlal Luncurkan Wakaf 100.000 Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa pada Peringatan Nuzulul Qur’an

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Masjid Istiqlal akan meluncurkan program Wakaf 100.000 Al-Qur’an Iluminasi Tionghoa dalam rangkaian peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah yang mengusung tema “Jembatan Harmoni Peradaban.” Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 9 Maret 2026, sebagai bagian dari rangkaian acara yang digelar bersama Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama serta Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Program […]

expand_less