Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menari dalam Belantara Simulacra

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 163
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah.

Tahun ini, kegembiraan itu menemukan bentuk barunya: tarian THR. Suatu aksi tari dadakan yang viral. Sang pemberi berdiri di ujung barisan, amplop-amplop di tangan, sementara para penerima—anak-anak, keponakan, menantu, tetangga—membentuk formasi seperti parade kecil. Musik diputar. Tubuh-tubuh pun mulai bergoyang, serempak dan lucu, seperti kawanan pinguin yang dilepas di lapangan sukacita. Semua direkam, diberi filter, lalu terbang ke dunia maya—siap ditonton.

Viral. Semua ikut. Dari keluarga di desa sampai komunitas kreatif di kota. Video dari Perusahaan-perusahaan pun muncul, dengan pegawai berbaris sembari tertawa menari dan membagikan THR atau hadiah lebaran. Para artis pun tak luput ikut tren ini. Tak terasa, momen hangat dan lucu itu membanjiri lini masa.

Namun belum juga tren ini mengering, datanglah satu video lain yang membuat arah percakapan sosial berubah drastis. Sekelompok pria berjanggut, berbaju hitam panjang, dan bertopi khas seperti identitas Yahudi Ortodoks, menari dengan gerakan yang sama. Musiknya pun serupa.

Polemik di Media Sosial pun muncul. Perdebatan mulai ramai.

“Ini tarian Yahudi!”.

Lalu mulai muncul komentar, asumsi, dan bahkan teori konspirasi. Sebagian langsung curiga, sebagian ikut menyebarkan. Seolah setiap gerakan tubuh punya niat tersembunyi, seolah dunia tak lagi punya ruang untuk yang spontan dan lugu. Orang tak lagi menonton untuk memahami, tapi untuk mencari celah agar bisa merasa paling waspada—atau paling benar.

Dalil-dalil klasik pun digaungkan dengan bersemangat. Larangan meniru orang kafir kembali menggema, dibalut kutipan dari para ulama yang barangkali tak pernah membayangkan bahwa suatu hari, sebuah tarian lucu dalam acara bagi-bagi THR bisa jadi bahan debat keimanan. Sebagian netizen mulai menautkan potongan hadits dengan video viral itu, seakan tubuh-tubuh yang sedang berjoget kecil di jalanan kampung adalah simbol penyusupan ideologi global. Hawa kolonialisme dan paranoia lama muncul kembali, bukan dari penjajah, tapi dari dalam kepala yang dicekam rasa takut yang belum selesai.

Begitu cepatnya kita lompat dari kegembiraan ke kecurigaan. Seperti sedang berada di pesta, lalu tiba-tiba lampu padam dan semua orang saling menuduh siapa yang mencuri kebahagiaan. Tak ada jeda, tak ada klarifikasi. Dunia digital memang tak memberi ruang untuk napas panjang. Ia hanya butuh satu potongan video, satu tudingan ringan, lalu sisanya jadi bola salju yang menggilas nalar.

Padahal—dan ini penting—gerakan itu bukanlah tarian ritual, apalagi eksklusif milik kelompok tertentu. Tarian tersebut sudah lama dikenal dalam dunia pelatihan dan kegiatan luar ruang sebagai bagian dari ice breaking. Siapa yang pernah ikut outbound atau kegiatan pengembangan diri pasti akrab dengan tarian ini—dikenal dengan nama: Letkis dance. Gerakannya sederhana dan menyenangkan, cocok untuk mencairkan suasana.

Jejak tarian ini juga bisa ditelusuri secara budaya. Di kawasan Balkan, khususnya Rumania dan Albania, tarian berbaris semacam ini adalah bagian dari pesta rakyat. Di Finlandia, dikenal tarian Letkajenkka atau Letkis yang meledak pada tahun 1960-an dan menyebar ke seluruh Eropa lewat siaran TV Jerman. Bahkan lagu “Ievan Polkka” yang viral belakangan ini berasal dari Finlandia juga, yang nadanya cepat dan jenaka sangat cocok untuk tarian massal semacam itu. Tarian ini lalu menyebar menjadi milik dunia.

Tarian ini bukan milik siapa pun secara eksklusif. Ia milik semua orang yang ingin tertawa, bersenang-senang, dan saling terhubung lewat gerak. Tapi di zaman ini, siapa yang peduli?
Jean Baudrillard jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita tentang bahaya simulacra—ketika simbol lebih dipercaya daripada kenyataan. “Simulacrum is never that which conceals the truth—it is the truth which conceals that there is none.” Maka yang kita lihat hari ini bukan tarian rakyat lintas-bangsa, melainkan bayang-bayang yang dibentuk oleh tafsir dan prasangka.

Mungkin kita memang sedang hidup dalam zaman yang banal—sebagaimana disebutkan oleh Hannah Arendt ketika ia mengulas kejahatan-kejahatan besar yang lahir dari tindakan-tindakan biasa. Tapi dalam versi hari ini, yang banal bukan lagi kejahatan negara, melainkan perdebatan sosial. Kita menyulut kebakaran makna dari korek api yang sebetulnya cuma lucu-lucuan. Kita menaruh beban ideologis pada hal-hal sepele, lalu menciptakan pertarungan sengit di kolom komentar.

Dalam kerangka Cultural Studies, Stuart Hall pernah mengingatkan bahwa budaya populer bukanlah ruang yang netral. Ia adalah medan pertempuran wacana. Apa yang tampak lucu dan ringan bisa dengan cepat berubah menjadi perebutan makna. Dalam dunia digital yang serba cepat ini, budaya tak lagi dialami secara utuh—melainkan dikonsumsi dalam potongan. Maka tarian ringan pun bisa diperdebatkan seolah ia mewakili peradaban. Netizen bukan hanya penonton; mereka kini menjadi produsen tafsir, kurator emosi, dan kadang… jaksa penuntut.

Banalisme inilah yang menjadi pintu masuk. Kita sudah terlalu sering melihat kegaduhan lahir bukan dari hal yang penting, tapi dari hal yang mendadak menjadi penting karena viral. Ketika makna dipermudah, ketika semua bisa bicara, maka yang terdengar bukan yang paling masuk akal, melainkan yang paling cepat dan paling ramai. Dunia digital hari ini, sebagaimana dikatakan Jean Baudrillard, adalah dunia simulacra—di mana yang palsu tak bisa dibedakan lagi dari yang nyata. Kita menari, lalu dicurigai. Kita tertawa, lalu dituding sedang terjebak dalam konspirasi. Kita hanya ingin gembira, tapi malah ditarik masuk ke pusaran tafsir yang tak kita undang.

Dunia kita, kini, bukan lagi tentang memahami. Tapi tentang mengafirmasi apa yang sudah kita yakini sebelumnya. Fakta bukan lagi jendela, tapi cermin. Kita tak lagi melihat keluar, tapi melihat bayangan diri sendiri dan menyebutnya “kebenaran”. Itu yang kita sebut sebagai gejala Post-Truth.

Saya jadi teringat sebuah pelatihan yang saya pandu. Peserta-peserta menari tarian pinguin sambil tertawa. Tak ada yang bertanya dari mana tarian itu berasal, karena yang penting adalah kebersamaan. Tubuh bergerak bersama, tertawa bersama, dan tak satu pun dari mereka menyangka bahwa tarian itu kelak bisa memicu debat identitas dan agama.

Barangkali, itulah tragedi zaman ini: kita terlalu cepat curiga, dan terlalu lambat memahami. Kita sibuk menafsir, tapi enggan mencari konteks. Kita saling menyindir, tapi lupa bahwa manusia pertama-tama harus saling melihat sebagai sesama.

Wallahu A’lam

Oleh :  Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sabar dan Syukur dalam Politik; Mendengar Tausiah Singkat KH. Zulfa Mustafa

    Sabar dan Syukur dalam Politik; Mendengar Tausiah Singkat KH. Zulfa Mustafa

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Nulondalo.com-Dalam acara buka puasa bersama Partai Nasdem dan anak yatim piatu, KH. Zulfa Mustafa menyampaikan tausiah yang menyoroti makna sabar dan syukur dalam kehidupan orang-orang beriman, termasuk dalam ranah politik. Mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, ia menegaskan bahwa iman terdiri dari dua bagian: separuh sabar dan separuh syukur. Menurutnya, kualitas keimanan terimplementasikan melalui […]

  • FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM, JAKARTA — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) memasuki babak baru kepemimpinan untuk masa jabatan 2026–2030. Momentum tersebut ditandai dengan pelantikan dan pengukuhan pengelola Unusia yang digelar di Aula Jakoeb Oetama, Unusia Jakarta, Kamis (20/8). Dalam struktur baru tersebut, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. dipercaya memimpin FEB sebagai Dekan. […]

  • Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 151
    • 0Komentar

    oleh : Suci Priyanti Kartika Chanda Sari., S.H.,M.H. Bagi sebuah provinsi kepulauan seperti Gorontalo, transportasi udara bukanlah kemewahan, melainkan urat nadi esensial yang menyambungkan denyut ekonomi, sosial, dan bahkan spiritual warganya dengan seluruh nusantara. Jalur udara adalah jembatan bagi para perantau untuk kembali ke pelukan keluarga, koridor bagi pelajar untuk menimba ilmu, kanal bagi pelaku […]

  • Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Ai Dila Umul Hidayah
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Klaim efisiensi dalam APBN 2026 yang mencapai Rp204,4 triliun sekilas terdengar meyakinkan. Di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, penghematan dalam jumlah besar tentu dianggap sebagai langkah rasional. Namun, di balik angka tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah efisiensi ini benar-benar mencerminkan akuntabilitas, atau justru hanya menjadi ukuran keberhasilan yang terlalu […]

  • HUT ke-13 Kolaka Timur, Gubernur Sultra Ajak Jadikan Momentum Refleksi dan Percepatan Pembangunan

    HUT ke-13 Kolaka Timur, Gubernur Sultra Ajak Jadikan Momentum Refleksi dan Percepatan Pembangunan

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten Kolaka Timur sebagai momentum refleksi, evaluasi, serta penguatan komitmen dalam mempercepat pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikan Gubernur dalam sambutan tertulis pada Upacara Peringatan HUT Kabupaten Kolaka Timur yang dibacakan oleh Sekretaris […]

  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar Selasa sore, 17 Februari 2026, di Jakarta. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa penetapan dilakukan setelah menerima laporan tim pemantauan hilal (rukyatul hilal) dari 96 titik […]

expand_less