Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

  • account_circle Fajrullah
  • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
  • visibility 375
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menjelang Ramadan 1447 Hijriah (2026 Masehi), umat Islam di Indonesia berpotensi kembali dihadapkan pada perbedaan penetapan awal puasa. Kali ini, pemicunya adalah fenomena astronomis unik: Sang Bulan Baru (Hilal) sejatinya belum lahir saat tanggal 29 Syakban 1447 H.

Penentuan awal Ramadan akan berpusat pada Selasa, 17 Februari 2026 (29 Syakban). Kunci perdebatan ada pada waktu ijtimak (konjungsi), momen kelahiran Bulan baru. Masalahnya, data hisab Ephemeris menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke posisi Bulan saat Matahari terbenam nilainya negatif. Di Banda Aceh, Bulan berada di minus 0 derajat 58,46 menit; sedangkan di Jakarta minus 1 derajat 2,88 menit.

Secara lebih presisi, mari kita bedah data teknis di Gorontalo sebagai representasi wilayah Indonesia Tengah. Di wilayah ini, ijtimak baru terjadi pukul 20:01:06 WITA. Padahal, Matahari terbenam (Ghurub) pada pukul 18:05:06 WITA. Logikanya, bagaimana mungkin Hilal terlihat saat Magrib jika Bulannya baru lahir dua jam kemudian?

Bahkan, data menunjukkan Bulan pamit lebih dulu. Waktu terbenam Bulan tercatat pukul 17:58:38 WITA, sekitar 7 menit sebelum Matahari terbenam. Dengan tinggi Bulan -01° 23’ 15’’ dan elongasi hanya 1° 59’ 41’’, Hilal mustahil teramati karena posisinya masih di bawah ufuk.

Bagi pemerintah dan ormas yang menggunakan kriteria MABIMS (tinggi minimal 3 derajat, elongasi 6,4 derajat), kondisi ini mutlak tidak memenuhi syarat. Konsekuensinya, Bulan Syakban harus digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Maka, versi Pemerintah diprediksi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memprediksi 1 Ramadan 1447 H jatuh sehari lebih cepat, yakni Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini berbasis Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

Prinsip KHGT tidak terpaku pada langit lokal. Meski di Indonesia Bulan belum terlihat, data menunjukkan bahwa di belahan bumi lain tepatnya kawasan Amerika syarat keterlihatan Bulan sudah terpenuhi (tinggi > 5 derajat). Karena prinsip KHGT adalah Satu Hari untuk Satu Dunia, maka ketika Hilal terlihat di satu titik, seluruh dunia dianggap memasuki Bulan baru.

Inilah inti perbedaannya: Satu metode berpatokan pada Keterlihatan di Langit Kita (Lokal / MABIMS) di mana Bulan tercatat minus, sementara metode lain berpatokan pada Keterlihatan di Langit Dunia (Global / KHGT).

Perbedaan ini adalah konsekuensi logis dari ragam metode ijtihad falakiyah. Keduanya memiliki landasan ilmiah yang kuat. Masyarakat tidak perlu bingung, namun justru harus dewasa menyikapi. Menunggu Sidang Isbat Kementerian Agama adalah langkah bijak demi kebersamaan, namun pilihan saudara yang berpuasa lebih awal juga harus dihormati sebagai ijtihad yang sah. Mari sambut Ramadan dengan ilmu, bukan perdebatan.

Penulis: Dosen Ilmu Falak IAIN Sultan Amai Gorontalo

  • Penulis: Fajrullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Dalam dunia keuangan, laporan laba rugi sering jadi primadona. Investor melihatnya, direksi memamerkannya, media mengutipnya. Tapi bagi seorang akuntan, neraca—ya, struktur aset, kewajiban, dan ekuitas—adalah panggung sesungguhnya di mana kekuatan dan kelemahan suatu entitas benar-benar bisa dinilai. Maka ketika saya membaca laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) per 31 Desember 2024, […]

  • Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan. Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam […]

  • Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Sejumlah intelektual muda di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera mengembalikan konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada organisasi. Mereka menilai bahwa kepemilikan dan pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan seperti NU berisiko merusak marwah NU sebagai jam’iyah, dan dapat membawa mudharat yang jauh lebih besar dibanding manfaatnya, Minggu(7/12/2025). Salah satu […]

  • Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 337
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerima laporan hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut dioperasikan oleh IAT selaku pemegang AOC 034, dan sedang melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) […]

  • BSG Dukung Skema Pembiayaan Melawan Rentenir, Tutup Rangkaian PES PWNU Gorontalo 2025

    BSG Dukung Skema Pembiayaan Melawan Rentenir, Tutup Rangkaian PES PWNU Gorontalo 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025 yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo resmi ditutup dengan seminar bertema “Skema Pembiayaan Melawan Rentenir”, Kamis (30/10/2025). Acara yang berlangsung di pelataran Kantor PWNU Gorontalo ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan PES yang telah diselenggarakan sejak 28 Oktober 2025. Seminar tersebut menghadirkan narasumber dari […]

  • Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini […]

expand_less